
Dua hari sebelum hari pernikahan tiba. Kesibukan di rumah keluarga Mentari tak kalah meriah dengan kesibukan di rumah juragan Bagyo.
Asih menyampirkan pasmina panjangnya seraya mendorong pintu kamar Pram yang telah di bersihkan dari bayang-bayang mantan. Sekarang kamar itu bercat putih, bersih.
“Kasep, cincin kawin udah kamu beli belum?” seru Asih di ambang pintu.
Pram memutar badannya setelah menaruh ponselnya di bawah bantal.
"Udah, emak. Lagian Mentari itu nggak suka perhiasan, dia sukanya perhatian dari Aa." Pram bangkit, membuka tasnya, mengambil satu kotak perhiasan yang dia beli dari uang tabungan.
Asih mengibaskan tangannya, ikut menundukkan kepala sewaktu Pram membuka kotak berwarna hitam polos itu. "Ini selera kamu, Pram?"
Pram membuang napas, besok pagi-pagi sekali mereka sudah harus berangkat ke Jawa tengah, dan tepatnya hari ini mereka hanya menyiapkan seserahan pernikahan, untuk persiapan pesta ngunduh mantu baru akan di lakukan seminggu setelah akad nikah. Dan kalau sampai emaknya protes dengan selera perhiasannya dan harus pergi lagi, membeli dan mengeluarkan budget lagi. Pram sudah lelah, lelah merindu dan cuma ingin malas-malasan di kamar.
Asih menatap Pram dengan muka datar. Lalu meringis geli. "Habis berapa ini?"
"Rahasialah, Mak. Nggak usah di bahas. Udah sana keluar dulu emak. Ngurusin yang baru siap-siap untuk besok. Dan ingat ini Mak, besok dekor mantennya nggak usah pakai bunga asli, pakai palsu aja, aku alergi bunga."
"Terus sekarang kamu mau apa? Tidur-tiduran? Sementara emak dan bapak yang sepuh ini harus yang sibuk wira-wiri?" cibir Asih sambil mengembalikan kotak perhiasan di meja.
"Kan emak dan bapak cuma jadi mandor, lagian semua prepare sudah ada yang urus." Pram tersenyum hangat. "Makasih ya, emak. Senang dan tenang kan Pram sudah mau nikah?"
"Alhamdulillah ya Allah, anak laki-laki cuma satu tapi nikahnya jauh banget. Alhamdulillah sekalian piknik. Makanya emak nyewa sekalian bus pariwisata, dua, yang sedangan, bukan yang besar-besar. Buat mampir ke Dieng, beli carica."
__ADS_1
Pram meringis geli, juga harap maklum. Asih dan Bagyo mana pernah jauh-jauh perginya. Pol-pol Jakarta-Jawa barat.
"Suka-suka emaklah. Yang modal juga emak. Cuma aku kasih saran, semua yang ikut di suruh bawa jaket, kaos kaki, tudung kepala, dan celana panjang. Di tempat Mentari dingin. Brrrr..., Banyak kabutnya kalo pagi." Asih jadi membayangkan bagaimana suasananya di rumah Mentari.
"Apa dingin banget kayak di Bogor, Aa?"
"Sebelas dua belas, Mak. Jadi emak dan bapak harus istirahat yang cukup." Pram merangkul ibunya keluar kamar
"Kalau belum terlaksana itu emak nggak bisa tenang, Pram. Lagian kamu sudah telepon Mentari? Gimana persiapannya di sana? Sudah sibuk?"
"Kalo di kampung mah baru masak-masak mak, ngejamu tamu yang datang, ngasih amplop gitu, sama kayak di sini. Dan Mentari lagi sibuk ketemu tamu yang datang."
Asih manggut-manggut, "Terus besok kita nginep dimana, Pram? Di kaki gunung itu jauh kan dari hotel?" tanyanya sambil menerka.
"Hotel melati banyak, Mak. Nggak papa ya nginep di hotel itu? Kepala desa di sana udah ngasih izin penginapannya dijadikan rumah singgah kita."
"Yakin gak papa, Pram. Gak rugi dia?"
Pram geleng-geleng kepala. Sudah terbayang bagaimana isi hati Bisma sewaktu ia tahu rumahnya menjadi tempat istirahat keluarga calon suami mantan tunangannya. Panas dan bergemuruh, sakit dan tak terobati.
Pram jadi tersenyum kemudian, tersenyum penuh kemenangan.
"Besan emak yang ngatur, kita sebagai tamu terima beres dan terima kasih. Iya nggak?" serunya di rumah belakang, saudara-saudaranya yang asyik ngerumpi sambil membuat lemper jadi mengalihkan perhatian kepada ibu dan anak itu.
__ADS_1
Asih menaik-turunkan alisnya dengan muka geli. "Iyo dongggg, masa enggak."
Pram ikut menaik-turunkan alisnya dengan gagasan yang berbeda tentunya. Bisma, terbalas sudah rasa sakit Mentari dengan pernikahan ini. Semoga kamu menikmatinya.
•••
Keesokan harinya di rumah juragan Bagyo kedatangan dua bus pariwisata full AC, WiFi dan karaoke membuat detak jantung Pram semakin berirama kencang.
"Rasanya kayak habis tredmill satu jam, deg-degan parah. Apa Mentari juga iya?" gumam Pram sambil menyaksikan satu persatu saudara dan orang-orang penting di kampung halamannya masuk ke dalam bus.
"Aa kenapa keringetan, mau pingsan?" celetuk Salsabila yang menggendong putrinya, sementara suaminya sedang memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.
"Bukannya mau pingsan, Bil. Tapi ini perjalanan jauh, bawa orang banyak. Tanggung jawab Aa semua ini." jawab Pram dengan suara bergetar.
Salsabila jadi cekikikan melihat muka Pram semakin resah. "Doa atuh, Aa. Lagian kan besok udah nikah, nggak usah telepon ayang Mentari setiap hari, terus bilang Aa kangen."
Pram jadi mendengus kesal. Satu jam kemudian, tiga mobil dan dua bus akhirnya bergerak. Dan sebagai calon pengantin, Pram di wajibkan duduk manis saja, tidak boleh nyetir mobil sendiri karena yang di takutkan Asih, putranya nanti kelelahan dan tidak berwajah tampan sewaktu ijab kabul.
"Aku datang, Tar. Membawa rindu yang menggebu-gebu di kamar pengantin."
•••
To be continue and happy reading.
__ADS_1