Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Pulang


__ADS_3

Sebesar rindu yang membulat seperti bulan sedang menggebu dalam perjalanan menuju kampung halaman akhirnya pecah di halaman losmen idaman kala sore sedang meredup.


Hawa dingin yang Mentari rindukan ternyata terkalahkan akan hangatnya pelukan ibu dan ayahnya.


Joko menangkup pipi putrinya. "Baru juga sebulan pisah sudah minta pulang, nduk. Kangen? Apa suamimu yang gagah perwira itu bikin kamu gak betah di Jakarta?" tuduh Bagyo sambil melirik mantunya dengan sengaja.


Gak ya, ngawur itu. Mentari betah sama aku, pak. Orang minta gendong setiap hari.


Mentari menyunggingkan senyum, buru-buru dia masuk ke ruang tamu losmen karena cahaya matahari semakin menghilang dari pandangan.


"Mentari kangen kabut, pak." jelasnya sambil melihat sekeliling. Berasa ada yang baru merekah di hatinya, kenangan. Pahit, manis, sepat, seperti teh yang di seduh tanpa banyak air dan gula di rumah itu.


"Mentari ngidam kabut, pak." sahut Pram sambil menaruh satu koper dan dua kardus bekas mi instan berisi oleh-oleh di dekat pintu. "Dia sudah hamil, pengen pulang, kangen katanya sama rumah dan maaf ya pak, aku bawa rombongan. Temen-temen kuliah dulu ini."


"Oalah, kamu sudah hamil to nduk, wah, bapak bakal jadi simbah kakung ini." Joko lalu tersenyum bahagia sambil di ciumnya pipi kanan dan kiri Mentari.


"Pokoke bapak melu bungah, kamu masih tau to artinya itu?" tanya Joko dengan sorot mata geli.


Mentari terkekeh geli sambil mengangguk. "Masih to, pak. Masa iya aku lupa, ya enggak to."


"Yowes, syukur. Bapak pikir kamu sebulan di Jakarta udah pake bahasa elo gue elo gue, Tari. Wes, ayo masuk semuanya. Maaf ini losmennya sederhana." kata Joko sambil melambaikan tangannya ke luar losmen.


Sepuluh orang yang ikut dari Jakarta termasuk Asih, Bagyo dan Dara berganti masuk ke dalam ruang tamu. Menjadikan ruangan itu lebih hangat.


"Santai, pak. Mau sederhana yang penting gratis. Iya kan, Pram?" sahut Roni. Si paling semangat jalan-jalan, meninggalkan istri dan anaknya di Jakarta sana, begitu juga dagangannya–barangnya Pram yang masih dalam proses promosi barang bekas di lapak market place.

__ADS_1


Mentari menutup pintu setelah rombongan teman-teman Pram yang menyempatkan diri untuk piknik masuk semua.


"Memang gratis, bapak dan ibu udah tutup losmen ini setelah Mentari nikah. Mau berkebun aja, garap sawah. Biar losmen ini juga istirahat. Udah lama bukanya kasian kalo lama-lama beroperasinya. Bapak sama bue juga gak bisa sehebat Mentari mengoperasikannya." kata Joko tanpa beban.


Mentari dan Pram yang mengerjai teman-teman untuk bayar losmen selama piknik di kaki gunung itu mengulum senyum sewaktu teman-temannya berseru kesal.


"Cuma bercanda gue lagian, jadi jangan harap dapat layanan kamar yee. Elo pada kalo mau bikin kopi, bikin sendiri, nyuci baju sendiri, jangan ngarep di layani." kata Pram, "cukup gue sebagai tamu terakhir yang datang ke sini dapat jodoh lagi."


"Halah, lagian kamu itu cuma untung, Pram. Untung kabur." sahut Asih lalu terkekeh dengan tangan yang memegangi punggung. "Besan, izin istirahat dulu lah. Punggung sudah rewel ini. Mas Bagyo juga kayaknya masuk angin itu. Harus istirahat."


"Hayu besan, saya antar ke kamar kalian." imbuh Joko, "bu'e sudah di dapur itu sama siapin masak-masak untuk makan malam. Kaget tadi, ternyata yang datang ngajak kroyokan." selorohnya sambil mengangkat dua tas minggat Asih.


"Hayu, kalian juga pilih kamar masing-masing. Tidak bapak kunci, mandi, terus nanti kita makan-makan." serunya pada anak-anak muda yang sedang merenggangkan tubuh sehabis perjalanan jauh itu.


"Gue gak tau seberapa nekat elo waktu kabur ke desa ini, Pram. Jauh banget, sumpah. Kalo gue jadi elo udah pikir dua kali gue, dingin banget, mana suasananya udah kayak film-film horor." kata Dias.


"Awalnya gue mikir juga gitu, Yas. Tapi untungnya yang punya bidadari. Gila gak tuh, untunglah gue kesini." kata Pram penuh syukur, dia memandu teman-temannya menyusuri koridor kamar.


"Elo pilih deh kamarnya yang mana, gue tidur di rumah belakang." jelas Pram.


Dias, si paling ikut-ikutan dan terkenal penakut nomer dua setelah Pram itu menggelengkan kepala dan menempeli Roni.


"Gue tidur sama elo, Ron." katanya lirih. "Gue ngeri banget lah sama pohon bambu di belakang rumah Mentari."


Roni langsung menepis tangan sahabatnya berkacamata bundar itu.

__ADS_1


"Ogah gue!" tolaknya nyolot, "lagian dari kuliah smpe sekarang elo gak berani-berani, Yas. Heran gue." ejeknya dengan jujur.


"Emang ngapain sih kita tidur pisah-pisah, pada gak bawa istri juga. Mending bareng-bareng aja lebih bagus. Lebih solid." protes Dias, "please. Gak bisa tidur gue kalo sendiri."


"Mirip-mirip gue waktu kesini. Dahlah, terserah kalian mau tidur berdua, sendiri, terserah. Dan buat elo, Yas. Kalo masih takut, tidur aja sama emak dan bapak gue. Gak ada lawan mereka." sahut Pram.


Semua orang jadi menahan geli tak terkecuali anaknya sendiri. Betapa kasihannya Tatiana dan Abrizam kemarin di rumahnya. Sudah di suruh sungkem mana harus membuat janji-janji yang absurd lagi. Tapi dia bersyukur, emaknya bisa menerima kenyataan kalau memang tidak ada yang perlu disesali lagi sekarang, sudah ada Mentari dan calon buah hati mereka yang akan menenangkan hati Asih.


•••


Keesokan harinya. Perindu kabut pagi yang sedang hamil muda itu keluar dari kamar dengan menggunakan jaket tebal dan celana panjang. Sepasang kaos kaki merah muda ia gunakan untuk menahan suhu tubuhnya tetap terjaga.


Mentari berjalan menuju taman, terdiam sambil menjejalkan tangannya di saku jaket, sejujurnya tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang karena ibunya dan Dara sudah pergi ke pasar. Sementara suaminya semalam ikut bergabung dengan sahabat-sahabatnya di satu kamar sampai semuanya tidur bersamaan.


Mentari tersenyum, apakah bambu di belakang rumahnya itu begitu menyeramkan? Ia keluar dari losmen untuk memandangnya lebih dekat.


"Emang sebaiknya di tebang aja ini. Nakut-nakutin orang."


Mentari kembali melanjutkan langkahnya, mengelilingi losmen idaman yang benar-benar sudah mereka sepakati untuk tutup permanen. Mengalah pada keadaan dan menerima kenyataan bahwa persaingan usaha semakin sulit.


Mentari pun pindah ke halaman losmen. Dia penasaran dengan kabar pohon rambutan tempat mangkal Bisma.


"Sudah di tebang." Mentari tersenyum geli, dia berniat kembali ke losmen, namun langkahnya terhenti karena mobil Jeep terbuka membunyikan klakson dari kejauhan.


"Mentari, we are come back to reserve your inn. Nice to meet you again." teriak Maxime dari atas jeepnya dengan muka semringah.

__ADS_1


•••


To be continue and happy reading.


__ADS_2