
Dengan waktu yang hampir mendekati hari perkiraan lahir, Pram dan Mentari slalu berdampingan. Mereka bergandengan tangan ketika mengitari kompleks rumah di pagi hari, berjemur di halaman belakang, memberi makan ikan, atau menghabiskan waktu dengan melihat film di ruang keluarga bersama Dara dan orang tuanya. Meski mereka lebih santai di lihat semua orang, mata mereka menyampaikan seribu satu rasa.
Pram menyisir rambut Mentari yang panjang. "Kapan kita kontrol lagi, Tari?"
"Dua hari, Aa. Kenapa?" Mentari melahap keripik pisang seraya mengulurkan ke Dara ketika gadis itu memintanya. Sudah lima kali Maxime hadir ke rumah itu untuk menemui Dara di sela-sela kesibukannya sebagai traveler blogger. Sungguh-sungguh Pram yang melihat keduanya pacaran ketar-ketir sebab Maxime yang memiliki gaya hidup kebarat-baratan, sementara adiknya yang berupa gadis desa juga cukup perlu diedukasi.
"Teman-teman mau datang, sayang. Mereka tau lele di kolam sudah besar-besaran. Jadi mau bakar-bakaran sekalian ketemu kamu." Pram meniup leher Mentari sampai wanita di depannya mencubit paha suaminya. Spontan teriakan kesakitan Pram loloskan.
"Geli tau di tiup-tiup gitu." Protes istrinya seraya pindah ke samping Asih.
"Tapi?" Pram menjaga ekspresinya agar terlihat normal, tidak cemberut apalagi masam. Bisa-bisa emaknya akan protes seperti semalam.
"Kamu itu sudah mau jadi bapak, kasep. Masih aja seperti itu kelakuanmu. Manja, manja, cemburu, ngambek, kasian terus-terusan merasa paling harus di harapkan. Kasian neng geulis harus menuhi semua keinginanmu!"
__ADS_1
Pram mengembuskan napas dan ujungnya dia hanya bisa mengangguk tanpa protes. Dia sadar bahwa selama hubungannya dengan Mentari berjalan, ia slalu mengkhawatirkan wanita itu. Khawatir Mentari akan kecewa terhadapnya, khawatir tidak bisa memberikan yang terbaik untuknya. Kekhawatiran itu dilengkapi dengan kelakuan Pram yang ketakutan akan tingkah masa lalu. Maka emaknya tidak salah jika protes begitu, yang salah dia. Jika dipikir-pikir lagi, dia sadar Pram seharusnya juga mengkhawatirkan dirinya sendiri.
"Gimana, boleh temen-temen datang?" tanya Pram. Dia menyengir, melihat wajah Dara yang mendadak susah.
"Pokoknya kalo om mau party rame-rame, cuci perkakas rumah tangganya juga bareng-bareng. Jangan aku doang om. Tanganku nanti kasar!" Protesnya mengingatkan, "terus mas bule juga boleh ikutan." Dara meringis, dukungannya pun bertambah ketika Mentari juga mengiyakan, emaknya juga.
"Ana juga ikutan, Pram?" tanya Asih.
"Aku gak tau, Mak." katanya sambil menatap mata Mentari. "Ikut pun juga gak masalah, iya, sayang?" Pram memastikan. Mentari mengangguk sambil mengunyah.
"Atau mungkin besok sekalian jadi acara baby shower, semua tamu harus pakai kostum ikan?" saran Pram, dan semuanya langsung menolak.
"Gak usah aneh-aneh, kasep. Mau bakar-bakaran, udah bakar-bakaran saja. Gak usah baby shower, setiap bulan juga emak sudah bikin pengajian untuk selamatan cucu emak dan neng geulis. Udah kalian senang-senang aja. Bebas, sebelum ngurus anak!" ujar Asih, dan Pram langsung menggerutu dan rewel setiap kali sarannya untuk bersenang-senang besok di tolak semua orang.
__ADS_1
Pram bangkit, dan Mentari ikut bangkit dengan perlahan.
"Mau tidur siang, Aa." kata Mentari, Pram menarik tangan istrinya sambil mengangguk. Mereka berpamitan pada orang tua dan Dara yang berdehem-dehem menggoda keduanya.
"Mau tidur siang apa, tidur-tiduran di kamar nih." seloroh Dara seraya ngumpet di belakang Bagyo, "bapak, om mau marah!" adunya sengaja.
Bagyo mengusir anak dan mantunya dengan mengibaskan tangan. "Sudah sana, istirahat. Bapak takut Dara nanti ikut-ikutan kalian!"
"Tuh denger, Ra. Kalo pacaran jangan cuma berduaan, ngerti?" seru Pram, ia mengangguk ketika Mentari menarik tangannya. "Punggungku sakit, Aa."
Dara mengangguk senang sambil melihat mereka menaiki anak tangga. Mentari duduk di tepi ranjang, dia menunggu suaminya mengambil minyak untuk memijat punggungnya.
Pram tersenyum dan mengunci pintu sebelum ikut naik ke atas tempat tidur. Dengan sangat hati-hati ia menaikkan daster yang Mentari kenakan. Pram menghela napas, merapatkan tubuhnya di belakang Mentari dan memeluk pinggang istrinya sekilas. Dan ujung dari urusan punggung yang pegal-pegal itu berakhir dengan kebodohan yang murni dan egois dua umat manusia yang saling mendamba. Mereka bercinta dengan manis dan lambat, lebih kehati-hatian namun berujung kontraksi rahim yang terus-menerus terjadi hingga Pram harus melarikan sang istri ke rumah sakit. Pram mengecup air mata Mentari, membuat istrinya melupakan kesakitan dengan cintanya hingga Mentari dengan kekuatan supernya mendorong seorang bayi perempuan dari rahimnya yang diberi nama Asih dan Bagyo, Paramitha Rusady Saputri.
__ADS_1