Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Tegang bareng-bareng.


__ADS_3

Mentari memandang lama rumah semi kayu Pram sebelum masuk ke dalam mobil. Sambil cemberut dia memasang seat belt dan menghela napas panjang.


"Nggak usah gitu ah, lagian kita pisah cuma sebulan sayang. Sebulan doang, tiga puluh hari. Cepet atuh kalau sabar mah. Senyum lah." seloroh Pram menghibur Mentari, ia mengusap bahunya, menunggu gadis itu bener-bener tersenyum walau terpaksa.


"Senyum dulu deh yang ikhlas, jangan berat hati gitu jauh-jauhan sama aku. Ntar makin ngerasa aku kalo kamu cinta mati sama aku, Tar."


Ck, Mentari berdecak. "Enak kamu ngomongnya, Pram. Awas aja nanti telepon tiap hari, tiap jam! Awas ya ganggu aku terus!" ancam Mentari sambil mencubit lengan Pram.


Pram cekikikan, saking gemasnya dengan muka si gemes yang tidak rela berpisah. Padahal mah dia juga iya tapi demi rasa percaya dari orang tuanya, rela terpaksa harus menjaga jarak.


"Ntar giliran nggak di hubungi ngambek, aku mah cuma berusaha memberi tanpa kamu minta, Tar. Baik kan aku?" Pram menyengir kuda sambil menghidupkan mesin mobil.


Mentari jadi sadar, long distance relationship memang yang di butuhkan itu komunikasi yang efektif, kalau seandainya sehari saja Pram tidak memberi kabar, bisa-bisa pagi harinya dia sudah nongol di depan rumah Pram atau sebaliknya. Memang kadang cinta bisa segila itu kan, membuat manusia jadi di atas normal.


"Tapi nggak berlebihan juga kali, Aa."


Pram tambah terkekeh, belum juga pisah udah riweh duluan, dasar cewek hobi banget mempersulit diri sendiri.


"Oke deh, kita sama-sama janji nggak berlebihan." Jari kelingking mereka kemudian bertaut dan terlepas sewaktu Asih bergeming di depan mobil.


"Buruan keluar!" serunya sambil mengibaskan tangan.


Pram menggangguk, ia menoleh sekejap. Tegar dan Danang, dua orang yang akan ia pasrahkan pada ibunya kali ini bener-bener akan lepas dari pantauannya.


"Ibu kalian tadi malam telepon gue, nanya kabar, jadi tolong kabari beliau sewajar kalian jadi anak! Ngerti?" katanya penuh intimidasi.


"Emangnya ibu punya hp mas?" tanya Danang heran, setahunya sang ibu tidak punya ponsel, apalagi menggunakan benda canggih itu pasti gagap teknologi. Tegar pun jadi curiga kalau itu cuma akal-akalan Pram untuk menggertaknya.


"Ibu kalian kerja di tempat pak Joko!" jawab Pram sambil menatap fokus pada spion.


Dara dan Mentari sontak tercengang, bukan main, Wartini pindah ke losmen idaman setelah mengabdi pada Bu Desy? Lalu bagaimana nasib mereka, pendapatan losmen yang tidak seberapa semakin di bagi-bagi dan hasilnya, jatah jajan berkurang drastis.

__ADS_1


Dara menatap Danang sambil cemberut. Sudah anaknya sangat menyebalkan, sekarang ibunya bergabung di management losmen idaman. Terbayang bagaimana suasananya losmen sewaktu mereka kembali? Dara menendang kaki Danang. "Elo kerja yang bener, punya orang tua di sia-siain. Goblok lo." desisnya jengkel.


"Dara!" sahut Pram sambil mengemudi, "yang manis lah jadi cewek, ntar nggak ada yang mau kalo galak-galak gitu."


Dara melipat kedua tangannya sambil melotot ke arah Danang.


"Maap om, lagian mereka itu nggak bersyukur punya orang tua. Huuuu...," soraknya dengan napas tercekat akibat luka yang timbul dari ucapannya sendiri.


"Semua butuh perjalanan waktu, Ra. Udah, nggak usah ngegas, yang manis biar kayak cewek gue nih. Manis banget." pujinya sambil menoel pipi Mentari.


Dara langsung pura-pura muntah dengar rayuan Pram, geli sumpah ada om-om ngerayu Mentari. Lagian Mentari nggak manis-manis banget kali om, belum tau aja kelakuan asli Mentari kalo tidur apalagi kentut, behhhh, ilfill kamu om! gerutu Dara dalam hati.


Pram terkekeh geli melihat bagaimana Dara cengar-cengir kemudian. Gadis itu memang si protes paling lugas, nggak bisa nggak cuma nurut aja, harus ada apa apanya. Sementara gadisnya hanya diam, menggenggam ponselnya setelah mengetik sesuatu yang enggak dia tahu.


•••


Tiga jam kemudian, setibanya di kampung halaman keluarga Pram yang berada di pedesaan yang masih asri untuk di nikmati. Mentari membasahi bibirnya dengan gugup. Yakin, meskipun dia sudah pernah dalam tahap bertunangan dan dekat dengan keluarga Bisma, bertemu keluarga besar Pram rasanya amat sangat berbeda. Ada kegugupan yang kentara, ada ketakutan yang membuatnya menarik kaos Pram dari belakang.


"Hayu masuk dulu, jangan ngobrol di luar. Di lihat tetangga nanti jadi heboh," timpal Asih dari belakangnya. "Ajak neng geulis ke ruang keluarga, Pram. Emak tadi udah ngabarin adikmu untuk masak-masak. Hayu, neng geulis. Rumah emak ini, bukan rumah maung. Jadi jangan takut."


Mentari tersenyum canggung, "Iya, Tante."


Asih menepuk bahunya, dia ingin gerak cepat ke dalam rumah untuk memastikan anak perempuannya sudah masak.


Pram menyuruh Dara, Tegar dan Danang masuk terlebih dahulu mengikuti Sum yang girangnya minta ampun bisa pulang ke kampung halaman.


"Kenapa, Tar? Gugup?" Pram meringis, "harusnya udah biasa kan mengalami suasana kayak gini sama yang sebelumnya? Kenapa?"


Mentari menatapnya, meski itu mendekati kebenaran, dia tahu dia tidak akan berbicara masa lalu meski mata Pram sedang bercanda-canda dan pasti menerima apa saja yang dia jelaskan.


Mentari meraih tangan Pram, "Apa kamu beneran serius ngenalin aku ke keluargamu sebagai istri, Aa?"

__ADS_1


Mentari mencebikkan bibir, bahunya kehilangan tenaga saat Pram mengangguk sambil menarik tangannya masuk ke dalam rumah yang besarnya dua kali lipat dari losmen miliknya. Ada gudang penyimpanan hasil panen di sampingnya, di depannya terparkir dua traktor pembajak sawah. Belum lagi mobil pick up, city car yang berderet-deret di garasi mobil “Juragan Bagyo” sesungguhnya membuat Mentari insecure. Ada jurang yang memisah ke duanya. Harta.


"Guys, kenalin nih. Calon Aa." seru Pram di ruang keluarga.


Salsabila yang sedang menata kue menyipitkan matanya, wanita seusia Mentari itu perlahan-lahan mendekatkan dirinya pada Mentari dengan sikap meneliti.


"Idihhhh, pinter juga Aa cari penggantinya Pevita."


"Cakep kan, Bil? Kenalan dulu atuh sama awewe, di luar tadi katanya gerogi." bisik Pram, meski masih bisa di dengar Mentari.


Salsabila sama seperti Pram, cekikikan. "Alahmak, kunaon gerogi segala. Kita mah santai kayak di pantai, justru bahagia di Aa bawa calon istri. Kasian teh, bujang lama. Nggak pernah pacaran. Jadi sedikit jablay dia teh." guraunya sambil mengulurkan tangan.


Mentari cengar-cengir, gabungan antar bahasa itu membuatnya ribut sendiri mengartikannya.


"Mentari," katanya memperkenalkan diri. Salsabila kontan pura-pura silau tali langsung di sikat Pram di depannya, "Kenalan yang bener!"


"Salsabila, adik bontot Aa Pram yang paling cantik. Kalo yang nomer dua nanti malam baru ke sini. Masih tanggung ada kerjaan. Nguli di pasar." guraunya untuk memecah suasana.


Pram langsung cekakakan. Dalam hati dia berharap Mentari tidak syok berada di dalam keluarganya yang suka ngelawak.


"Gimana masih mau tegang sendiri?" tanya Pram.


Mentari masih cengar-cengir, dalam hati ia membayangkan bagaimana rasanya tinggal empat hari di rumah keluarga Pram. Ramai, heboh, yang satu lempar, yang satu tangkis. Sementara dia yang berteman sepi selama di losmen merasa semua warna cerah di toko cat tembok menghujaninya dengan baik.


"Nggak, Aa. Aku maunya tegangnya bareng-bareng."


Pram langsung menjauh, angkat tangan. "Besok ya, besok. Jangan sekarang. Masih belum bisa tegang dengan tenang, Tar."


Semua orang langsung geleng-geleng kepala dengan kelakuan dua orang yang akan menjadi bulan-bulanan serumah. Lihat saja, muka si Mentari pasti akan merah seperti kepiting rebus yang baru keluar dari panci.


•••

__ADS_1


To be continue and happy reading.


__ADS_2