Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Pemanasan batin.


__ADS_3

Bisma tercengang dengan keberadaan musuh baru di depan matanya langsung. Ia tidak mengenalnya, namun mata laki-laki yang berkilat-kilat dengan bibir yang menyunggingkan senyum jenaka itu adalah orang yang menambah beban hidupnya.


Pram mendekat sambil memasang mimik wajah tak terduga.


"Mas ini bukannya yang waktu itu ketemu saya di tikungan jalan pagi-pagi?" Pram pura-pura berusaha mengingat sesuatu.


"Yang kemarin kalo tidak salah saya pergoki akan bertindak asusila dengan seorang wanita?"


Pram memandang Arimbi, wanita dengan balutan daster rumahan itu tersenyum malu-malu saat memandanginya, namun sejenak kemudian wajahnya langsung keruh.


Arimbi tercengang, seketika langsung menarik lengan Bisma. Dua tentengan besar berisi kebutuhan dapur bergoyang-goyang tak beraturan sewaktu istrinya menanyakan kebenaran ucapan tamu ganteng tapi sialan itu.


"Kamu ketemuan sama si Tari lagi mas?" Lekat-lekat, Arimbi yang slalu berada di belakang bayang-bayang Mentari memandang suaminya penuh curiga. Rasa geram melandanya bertubi-tubi.


"Mas!" desak Arimbi, "beneran gak yang di omongin mas ini kalo kamu mau apa-apain si Tari?" teriaknya berang.


Bisma menggeleng kuat dengan rahang yang mengeras, bersikeras tidak akan mengakui apalagi di depan laki-laki pembuat rusuh itu langsung.


Bisma menuding Pram tanpa melihat muka sang tertuduh kasus perusak rumah tangganya.


"Kamu percaya sama aku apa sama—"


"Pramoedya." potong Pram cepat, "nama saya, tamu baru losmen Bu Desy!" akunya sambil menikmati dua roman wajah yang sedang tegang banget di depannya.


Enak?

__ADS_1


Pram mengenyahkan rasa kasiannya untuk ibu hamil yang masih terlihat sangat muda darinya. Lebih muda dari Mentari malah. Dan karena urusannya sejak awal sudah tidak pakai hati maka pergulatan batin hari ini sebodoh teuing-lah. Urusan gue cuma bales semua kelakuan dia ke gue.


Arimbi mengenyahkan lengan Bisma.


"Mas Bisma bener-bener kebangetan, kenapa sih harus Mentari terus, Mentari terus, aku capek tiap kali ribut Mentari lagi yang jadi masalah. Dia lagi, dia lagi. Capek mas,"


Arimbi menggertak seraya melengos pergi, kehebohan lantas terjadi di dalam rumah pribadi Bisma. Arimbi mengadu pada Bu Desy tentang kelakuan anaknya.


Bu Desy yang baru sarapan berdiri dengan enggan. "Ribut lagi, ribut lagi." Hembusan napas frustasi meluncur kasar dari saluran pernapasannya.


Pram tersenyum culas seraya menepuk bahu Bisma dengan segan.


"Semoga rumah tangga mas baik-baik saja. Kasian tuh istrinya baru hamil, kalo frustasi nanti kasian anak kalian. Bisa sedih, murung, atau jadi pemarah. Tidak baik." katanya dengan nada prihatin.


"Gak usah ikut campur mas, kamu cum—!"


"Apa ada ini?" sahut Bu Desy dari dalam rumah, "mas ini tamu atau temannya Bisma?" tanyanya sambil menatap Pram.


"Mas ini saksinya kalo mas Bisma terindikasi selingkuh, buk!" seru Arimbi di belakangnya.


Dalam dada yang berisi ledakan amarah yang siap menjadi bumbu perdebatan sengit antara ia Pram, ibunya dan Arimbi. Bisma memilih masuk ke dalam rumah. Dicampakkan dua plastik besar berisi kebutuhan dapur ke atas meja panjang.


Ke sepuluh jari-jarinya mengepal kuat di sisi tubuh. Yakin, kedatangan Pram di rumahnya pasti ada sangkut-pautnya dengan teror tadi malam.


"Jangan-jangan ketahuan?" ucapnya berang, sorot mata melebar, "pantesan mereka belum ngasih kabar! Bener-bener sialan." desisnya tajam.

__ADS_1


Di luar, Bu Desy menanyakan kebenaran ucapannya Pram.


Pram menjura, dia menjawab dengan sejujurnya lengkap dengan kejadian pelemparan telur dan kempesnya seluruh ban mobilnya yang super super keren itu. Meski begitu dia hanya cerita, biar Bu Desy dan Arimbi menyimpulkan sendiri itu ulah siapa.


"Bisma!!!" desis Bu Desy. Kejadian itu jelas menambah deretan panjang konflik yang putranya lakukan meski itu masih berupa dugaan, tapi untuk kasus nyaris mengecup Mentari di pinggir jalan, Bu Desy percaya seratus persen.


"Kamu masuk, Mbi. Tapi gak usah marah-marah dulu sama Bisma, jaga kandunganmu biar ibu yang urus dia!" kata Bu Desy prihatin.


Anak mantunya itu terlihat kasian banget, sudah di gagahi anaknya, masih harus menerima kenyataan kalau menikah tanpa pacaran apalagi penjajakan yang optimal tidak berbuah indah. Hanya berbuah anak yang menjadi korbannya.


"Tapi buk?" sahut Arimbi, tidak tenang.


"Sudah-sudah, kamu masuk terus istirahat!" pungkas Bu Desy, memandang Arimbi dengan muka tak enak.


Berhasil membuat semua target ketar-ketir akan pengakuannya. Pram tersenyum lega di bawah terik matahari yang kian menambah panas suasana.


Pram mengibaskan tangannya, pura-pura gerah. "Saya juga masuk ke kamar dulu, Bu, dek. Mau mandi dan maaf banget kalo seandainya kedatangan saya jadi bikin kacau." katanya dengan nada sedih.


"Silahkan mas, silahkan." Bu Desy tersenyum kecut sambil mengibaskan tangannya. Pram berlalu, setibanya di kamar dia langsung menjatuhkan diri di kasur.


"Ini masih permulaan Bisma! Sedikit dari rasa sakit keluarga pak Joko bakal gue bales."


•••


To be continue and happy reading.

__ADS_1


__ADS_2