
Pram melihat layar ponsel untuk mengamati daftar harga losmen dan fasilitasnya. Napasnya terhela berat, bukan karena harga yang besar bagi isi dompetnya, harga penginapan di hotel kelas melati itu terbilang sangat murah ketimbang hotel-hotel yang kerap ia kunjungi untuk merayakan nikmatnya uang dan kesendirian, namun alamat losmen idaman yang begitu jauh dari rumah bahkan ibu kota.
"Perjalanannya lumayan untuk solo traveling nih. Lumayan buat nambah pengalaman dan kabur dari emak!" Pram melompat dari ranjang berukuran besar seraya menurunkan kopernya dari atas lemari. Biru menjadi dominasi warna yang berada di kamarnya begitu juga dengan isi lemarinya.
"Berhubung losmen itu di bawah kaki gunung, gue harus bawa jaket, celana panjang, kaos panjang, kaos kaki, sarung, topi, dan nih paling penting, Triumph..." Pram menumpuk pakaian yang dia keluarkan dari lemari di lantai seraya mengambil beberapa baju ganti lagi di tumpukan pakaian paling atas. Tepat saat itu selembar foto ikut jatuh ke lantai.
Pram tersenyum-senyum. "Apa kabar, Tatiana? Sebel ya gue simpen disitu terus?"
Pram bersila, sesaat setelah menaruh setumpuk celana jins ke lantai, Pram memungut selembar foto seorang gadis dengan keluguan dan kepolosan yang seksi.
"Apa kabar sayang? Kangen?"
Pram me-refresh memori kisah cintanya dengan Tatiana sembari memandang sendu foto itu. Belum juga ada kenangan lagi yang bisa memudarkan kenangan akan Tatiana, cinta pertamanya di bangku SMA hingga kuliah.
Tatiana gadis yang smart, mandiri dan menjelma sebagai cahaya yang menerangi masa depannya. Sayang kemudian Tatiana selingkuh dengan teman kuliahnya Abrizam di saat semua impian-impian mereka hampir terwujud.
Rumah ini dan warna biru yang terus menyiksa Pram oleh kenyataan bahwa sebagian dari impiannya dengan Tatiana masih nyata.
"Udah kamu di rumah aja gak usah ikut gue kabur, kamu jaga rumah, atau kamu sengaja nongol biar emak gue tau kamu masih ada disini? Di marahi loh elu nanti." Pram tersenyum sedih sembari mengembalikan asal-asalan foto itu ke dalam tumpukan kemeja.
"Ingat jaga rumah, jangan kemana-mana karena kamu itu menyebalkan dan menakutkan jadi gak akan ada tuyul yang nyuri duit gue di brankas!"
Pram menarik resleting koper seraya melebarkan penutupnya. Ia menata ulang pakaiannya dengan saksama dan rapi. Gak ada yang boleh ketinggalan karena rencananya gue mau lama disana, pikirnya sembari menimbang-nimbang kurang tidak pakaiannya terlebih masih ada sisa tempat yang bisa di masukin beberapa potong pakaian.
"Tambah lagi, semakin banyak semakin bagus toh jaga-jaga lebih baik daripada tidak sama sekali, apalagi ini, Triumph..." Pram melebarkan kain berbentuk segitiga berwarna serba gelap itu sembari meringis senang.
__ADS_1
"Disana dingin jadi bawaan gue yang ini penting untuk menghangatkan sesuatu yang udah terus-terusan disuruh kawin sama emak!" Pram menambahkan tiga potong Triumph ke dalam koper.
Sesaat yang begitu fokus, Pram akhirnya menarik resleting koper dan mengembalikannya ke atas lemari.
"Mandi ah terus ngurus persengkongkolan dengan mas Ari."
•••
Pram keluar dari kamar mandi dan tampak segar. Ia melonggarkan handuk yang membebat pinggangnya sebelum mencampakkan handuk sambil tersenyum.
"Suatu saat nanti pasti bertemu wadah yang tepat untuk menghangatkanmu. Tapi kamu wajib tahan lama jangan loyo."
Pram mengangkat wajahnya, mengayunkan pintu lemari seraya mengambil tiga potong pakaian dan memakainya.
Sore-sore gini, dia akan menghabiskan waktu di halaman belakang rumah. Di gubuk bambu yang berada di antara kolam nomer satu dan dua.
Ari, karyawannya yang menetap di kamar sebelah gudang bergegas menghampirinya setelah menaruh penyaring ikan.
"Ada apa mas Pram?" Ari menyesap kopinya dan mengambil sebatang rokok.
Pram memandang ke sembarang arah untuk memastikan ibunya dan bapaknya dalam radar yang tidak bisa mendengar suaranya.
"Aku akan pergi ke luar kota mas, mungkin bisa seminggu lebih. Jadi mas Ari aku harap bisa jaga ketiga kolam ini dengan baik dan bisa aku percaya dari jauh." kata Pram santai namun kedua alisnya bertaut dekat.
Ari mengangguk, bukan masalah pikirnya karena memang sudah biasa mengurus kolam yang terbagi antara anakan ikan koi dan lele itu.
__ADS_1
Lele sebagai penjualan yang lebih cepat sold out di kalangan pemborong karena jumlah konsumsi yang banyak di semua kalangan masyarakat. Sementara koi, ikan hias dengan penghasilan yang relatif lebih tinggi perekornya meski dengan effort pemeliharaan dan perawatan lebih besar sekaligus tantangan dalam penjualannya. Bisa di bilang koi mempunyai pasaran tersendiri di kalangan yang berduit. Jadi opsi terbaik memang mempunyai dua jenis ikan yang di pelihara sebagai pemasukan jangka pendek dan panjang.
"Kok tumben lama mas? Liburan atau kerja?" tanya Ari. Penting karena bagaimanapun Pram memiliki rekan bisnis perempangan dan peternakan yang kadang kala datang untuk sekedar ngopi dan ngobrol tentang ikan dan ayam.
Pram meringis, sedikit jengah dengan persoalan cinta yang tidak ada ujungnya kecuali dia nikah.
"Bapak sama emak ngebet ketemu Pevita Pearce di Bali mas! Ya gak mungkin kan aku bawa mereka kesana karena aku bohong punya pacar biar mereka senang. Tapi ternyata bukan jadi tenang, malah semakin rumit." akunya sembari membuang napas.
Misal ia tidak jujur, malah Ari bisa saja membongkar rahasianya sewaktu dia kabur. Lebih gawat kan urusannya dengan orang tua yang sudah resah dan gelisah bukan main memikirkan hal itu.
Ari tertawa keras. Lalu membuang sisa rokoknya ke dalam tong sampah.
"Jadi mas Pram mau kabur dari Mak asih dan Pak Bagyo?" tukas Ari.
Pram mengendik, antara iya dan tidak. Atau mungkin hanya butuh merayakan kesendiriannya dengan ketenangan?
"Kalau emak dan bapak cari aku besok pagi, bilang saja aku ada kerjaan di luar kota mas. Aku akan transfer untuk urusan kebutuhan kolam dan gaji full time lembur." kata Pram serius.
Ari mengangguk yang penting kerja dan gajian, tipikal seperti itu enggan mau ikut-ikutan ribet. Cukup patuh aja sama majikan dan Pram menyukai konsep kerja seperti itu.
"Nanti kabar-kabar aja kalau ada sesuatu yang penting mas."
Pram berdiri, memandang ke tiga kolamnya yang mengeluarkan suara gemericik air sebelum berbalik arah meninggalkan gubuk bambu.
•••
__ADS_1
To be continue and happy reading.