
Siang yang panas. Mentari menghela napas. Ia berani bertaruh jika Pram telah menghabiskan banyak uang dan pikiran demi membeli barang-barang yang di diskusikan dengan Tatiana.
"Secinta ini mas, Aa sama Tatiana dulu?" tanya Mentari pada Roni di depan semua barang-barang bercorak biru yang telah Roni, ia dan tukang-tukangnya keluarkan dari rumah Pram.
Roni menoleh cepat sewaktu menumpuk pigura hias terakhirdi atas sofa.
"Sorry, bukannya gue mau ngomong apa-apa, cuma ini semua udah jawab kan, Tari?" jawab Roni sedikit panik. Setiap kata terdengar dengan penekanan yang berbeda karena ia merasa ia tidak mau menambah beban rumah tangan Pram dan Mentari lagi.
"Kenapa, Tar? Elo masih ragu? Cerita ajalah, gue kenal baik Pram udah lama begitu juga Tatiana." ujar Roni hati-hati.
Mentari menatap semua barang-barang di depannya.
Pantas Aa milih beli nasi padang daripada harus lihat betapa manis asa yang pernah menyala di rumah ini.
Roni mengamatinya dan Mentari tersenyum jengah. Ia meraih satu pajangan dinding, lukisan paus dan laut biru. Mentari mengusapnya.
"Sejujurnya aku nggak keberatan kalo Aa masih mau nyimpen barang-barang ini, mas. Asal aku nggak tau."
"Tapi kau perlu tau, Tar." sahut Roni tanpa menjelaskan lebih lanjut maksudnya, "biarin ajalah sesuka hati Pram mau gimana, dia kalo udah cinta emang lebay. Ntar ini gue-gue juga nggak tau mau jual kemana barang-barang yang gak bisa di uangkan." ujar Roni.
Aa pasti kecewa banget kalo benar-benar semua ini di hilangkan dari rumah.
Mentari tersenyum.
"Aku akan membelinya sebagian, mas. Tolong jual yang murah."
Ia beranjak, dengan langkah gegas Mentari masuk ke dalam rumahnya membuat tukang-tukang Roni yang datang tersentak kaget.
Mentari menaiki anak tangga dengan cepat, menarik gagang laci dan mengambil dompetnya. Lalu ia menuruni anak tangga dengan hati-hati.
Mentari tersenyum di depan Roni yang masih kipas-kipas sambil membuka dompetnya.
"Uang bulanan dari Aa masih utuh, mas. Dia yang bayar semuanya kalo jalan sama belanja. Jadi kita main jual-beli sekarang yuk." ajaknya seperti bocah perempuan yang bermain dengan kawan-kawannya semasa kecil.
__ADS_1
Roni menoleh dengan cepat.
Yang gila cinta siapa sih Pram atau istrinya, kenapa gini amat hidup gue seharian ini. Udah jadi tukang, sekarang jadi penjual. Yang beli mana yang punya rumah. Ah, pusing gue. Mana Tatiana minta gue cerita apa yang terjadi di sini. Apa gue harus cerita kalo mantannya sarap?
Roni mengangguk lemah.
"Beli borongan aja gimana itu lebih murah, gue juga enak ngasih harganya." lanjut Roni sambil memberikan tatapan geli.
Mentari mengangguk seraya memilih barang-barang yang tertumpuk di teras rumahnya. Sementara Roni mengangkat bahunya.
"Gue nggak bisa menghalangi orang lagi cinta-cintaan, yang penting senang ajalah."
Roni menghela napas dengan raut wajah peduli sambil membiarkan Mentari memilih barang-barang yang suaminya beli.
•••
Pram mendorong gerbang rumahnya dengan muka cengengesan. Dia pergi selama dua jam, ngakunya setelah menaruh dua kantong nasi padang lengkap dengan es teh dingin di meja di depan Roni yang sedang menghitung uang. Ia kejebak macet dan harus bersabar dengan keadaan itu.
"Ya iyalah elo kenal duit ini. Ini dari bini elo, beberapa barang yang udah susah-susah gue keluarin istri elo beli dan dia kembaliin ke tempat semula." jawab Roni.
Pram menepuk jidatnya, ia yang penasaran menyambar uang dari tangan Roni dan bergegas masuk rumah.
"Sayang..." panggilnya. Mencari keberadaan istrinya ke seluruh penjuru rumah.
"Sayang, aku pulang ini. Mau ketemu kamu!" serunya. Entah ada dorongan apa, ia menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
Mentari sedang memasang pigura lukisan paus dan laut di dinding sewaktu Pram mendapatinya di kamar.
Mentari tersenyum.
Pram menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu lakuin ini, Tar?" tanya Pram sambil membantu Mentari turun dari kursi kayu.
__ADS_1
"Aku suka. Jadi Aa nggak boleh protes kenapa aku pasang di sini soalnya ini udah aku beli dari mas Roni." jawab Mentari.
Pram merogoh kantong celana hitamnya, mengeluarkan uang sejumlah satu juta. Entah apa yang Mentari pilih lagi untuk di pasang di rumahnya, dia nggak tahu dan nggak ingin mencari tahu.
"Nggak mungkin kamu beli hanya karena suka, Mentari. Kenapa?" desak Pram, ia meraih dompet Mentari dan menjejalkan uang-uangnya ke dalam sana.
"Aku sudah mempermudah hati kamu untuk tenang. Kenapa kamu malah mempersulit lagi?"
Detik itu juga Mentari memeluknya. Sudah memiliki seluruh tubuh suaminya dan segala rasa yang Pram curahkan kepadanya. Dia sudah tenang. Tak masalah jika itu hanya sebatas pigura lukisan, vas bunga, keset, piring, rice cooker, gelas, galon, atau benda-benda lainnya menurutnya kapan-kapan bisa di ganti, rusak atau tak berguna lagi. Ia tak seegois itu harus semua di ganti dengan yang baru hanya untuk menentramkan hatinya.
"Jangan marah, jangan merasa terbebani. Lagian Aa kenapa sih sekonyol ini toh tadi enggak mau ikut beres-beres kan?" tanya Mentari.
Pram yang tak membalas pelukan Mentari menyentuh kedua bahu Mentari dan mendorongnya.
"Ada sebagian dari diri Aa yang gak terima ini semua harus di jual karena Aa juga nyarinya mungkin nggak mudah. Dan keterkejutan Aa ini semakin bikin aku yakin Aa yang nggak tenang orang tadi minggat lama banget. Dua jam Aa pergi beli nasi padang, kalo gitu apa itu namanya?"
Mata bulat jenaka Pram semakin membulat sempurna di mata Mentari.
"Seorang laki-laki yang teguh dan bertanggung jawab memegang setia prinsip yang ia buat untuk wanitanya, Tar. Kamu harus tau ini walaupun perkataan mu setengah benar." Pram mengakui, sedikit hatinya tidak rela.
"Usaha gue dulu. Mati-matian cari kesana kesini buat mewujudkan itu, dan gue akan bersyukur kalo kamu dengan bahagia ikut menjaganya."
"Ngaku juga kamu, Aa." Mentari menyahut. "Lain kali jujur aja ya, gak perlu mikir lama-lama buat mencurahkan cinta Aa ke aku."
Mentari meraih dompetnya dari tangan Pram. "Alhamdulillah, uang bulanan aman lagi. Padahal tadi aku udah repot tawar-menawarnya sama mas Roni."
Wajah Pram lantas berubah tanpa ekspresi ketika mendengarnya.
"Nggak ada yang bisa di tutupi lagi sekarang, sikat aja pokoknya mah sekarang. Langsung tanpa basa-basi." gumam Pram sambil menyaksikan Mentari menjulurkan lidahnya panjang-panjang kepadanya.
•••
To be continue and happy reading
__ADS_1