
Pram menghela napas sambil merapikan rambutnya di depan cermin. Sudah ada tiga tas yang di persiapkan Mentari untuk melahirkan little miss sunshine sekurang-kurangnya dua Minggu lagi di rumah sakit. Dalam kepala Pram, ia sudah ada bayangan gimana ia harus melewati dan menghadapi momen melahirkan itu, karena pengalaman dua kali adiknya melahirkan, dua kali pula ia ikut menemani suami adiknya di dalam ruang bersalin.
"Giliran menghadapi kelahiran anak sendiri kok aku deg-degan ya. Tapi rasanya masih gak nyangka akan secepat ini semua doa-doaku terkabulkan." Pram menaruh sisirnya dan kembali memegang tepian meja rias sambil menghela napas.
"Kenapa, Aa?" seru Mentari dari ambang pintu, dia sering mengamati baik-baik kegelisahan Pram jika sendirian tanpa suaminya ketahui.
"Gelisah mikirin nama anak, atau gelisah karena emak dan bapak mau datang." Mentari menyaut handuk di gantungan baju.
"Biasa, sayang. Sedikit gugup, menjelang kamu melahirkan. Aku takut kamu nanti kesakitan." Pram berbalik dan mendudukkan diri di tepian meja. "Emak dan bapak juga udah otw, pasti nanti juga bakal ditanyain nama cucunya sudah siap belum." imbuh Pram.
"Kita belum diskusi namanya lagi."
Mentari tersenyum lebar di depan cermin sambil menangkup wajah suaminya. Dia bahagia melihat Pram bersemangat juga resah dalam menanti dan menjalani masa-masa ia mengandung dan membuatnya lebih berarti dari apapun walau kadang-kadang dia menertawakan kecemasan Pram alih-alih membuat perasaan lebih baik.
__ADS_1
Mentari mendekatkan bibirnya, mencium sekilas bibir Pram yang beraromakan pasta gigi.
"Biar emak dan bapak aja yang kasih nama, Aa. Kita terima beres seperti biasa."
Pram terbahak, menarik pinggang Mentari dan memeluknya. "Aku setuju, sayang." Dan meskipun emak dan bapak Pram bukan pasangan hebat di dunia, mereka slalu menjadi orang tua yang hebat untuk Pram dan adik-adiknya, bahkan kini merambat ke semua orang yang berada di sekeliling mereka. Mereka pun juga pasti bersemangat untuk memberi nama bagi makhluk mungil di perut Mentari yang pasti menakjubkan. Memeriahkan suasana dan menemani masa tua Asih dan Bagyo.
Pram melepas pelukannya juga mengakhiri hadiah-hadiah kecil di perut Mentari dengan kecupan.
Mentari tersenyum sambil menatap suamiku lekat-lekat, wajah brewokan dengan rahang kokoh itu akan terus dia ingat sebagai tamu dan laki-laki yang menghiburnya dan mengangkatnya dari keterpurukannya. Laki-laki yang membawanya ke suatu tempat yang membuatnya tenang dan tak ada kendala tentang masa lalu lagi. Mentari mengecup sekilas bibir suaminya lagi dan lagi sampai suaminya terbahak.
Hatinya menghangat dengan sikap istirnya yang membuatnya menjadi laki-laki yang dibutuhkan.
"Buruan mandi, sebentar lagi ada tamu yang ngeselin dan nyebelin satu rumah!" suruh Pram, ia berdiri membantu Mentari melepas kancing baju yang ada di belakang.
__ADS_1
"Dara maksud, Aa?" sahut Mentari sambil melepas ikatan rambutnya.
"Ya iyalah, siapa lagi sayang, orang terakhir kali kita ketemu Maxime aku bilang untuk sekedar main ke Jawa barat untuk nyapa-nyapa Dara dan jadi temen dong. Lha kok kebablasan, keterusan, emak bilang waktu telepon kemarin, katanya Maxime sering mampir sama rombongannya dan kalo Dara sama Maxime bisa jadian bisa memperbaiki keturunan dan bisa di kasih nama little miss sunshine. Ya aku protes, Tar. Gak emak, gak Dara, liat yang bening-bening langsung iya-iya aja!"
Mentari tertawa dan sesuatu menggelitik hatinya untuk menggoda suaminya.
"Pasti Aa masih ketakutan kalo Maxime sampai jadi ipar Aa, iya kan?"
Pram tertawa sumbang sambil mendongkak dagu istrinya.
"Siapa bilang, aku gak takut apapun. Aku cuma berusaha bijak."
Mentari tertawa mengejek sampai terbahak-bahak dan tanpa bisa Pram tahan-tahan, tawa istrinya harus dihentikan dengan ciuman karena sepertinya sentakan hasrat sudah menjalarinya seluruh tubuhnya sewaktu istri sudah terlihat polos.
__ADS_1