Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Bintang di langit kelam.


__ADS_3

Seperti yang sudah bisa di pastikan, Mentari tak membiarkan Pram sendiri terlalu lama. Gadis itu gegas berjalan sembari membawa satu teko air panas, dua cangkir, dan sendok teh untuk Pram gunakan. Dibawanya juga beberapa merek kopi, teh celup, sekoteng dan gula pasir yang semuanya serba dalam bentuk sachetan. Terserah Pram mau menghangat tubuh dengan jenis minuman apa yang penting sudah Mentari siapkan.


Pram tersenyum menyambut sembari menaruh ponselnya di meja. Ari mengirimnya chat, menanyakan kapan pulang karena juragan dari kota Bogor habis berkunjung ke kolam menilik bibit ikan. Pram sebodoh teuing-lah, pamitnya kan seminggu, ini satu hari juga belum kelar Ari! Gak paham banget sih, rutuk Pram tadi.


"Repot sendiri, Tar?" Pram berjeda, menyaksikan keadaan sekeliling, terlalu sepi. "Keluarga atau pembantumu kemana?" imbuhnya kemudian.


Cahaya purnama berpendar di jam yang belum menyentuh pukul sembilan, tapi suasana disana sudah meminta Pram untuk bermalas-malasan di kamar. Berbeda sekali jika ia sedang di Jakarta, jam segini justru ia sedang siap-siap mencari ingar-bingar metropolitan area.


"Ibu dan bapak baru ke rumah saudara sedangkan temanku ada di panti asuhan, paling-paling nginep disana, Pram." Mentari melipat kakinya ke atas kursi, menyembunyikan telapak kaki dari hawa dingin.


Terlalu sulit diabaikan. Pram memperhatikannya sembari menyandarkan tubuhnya di punggung kursi.


"Aku pikir dia akan duduk anggun dan menegakkan tulang punggungnya dengan posisi sempurna ala resepsionis beneran atau seperti putri-putri kerajaan. Tapi ternyata dia cukup normal sebagai cewek sederhana." batin Pram, ia ikut menaikkan kakinya ke atas kursi, bersila dan tidak sungkan untuk meringis saat Mentari berkata dingin.


"Kamu mau minum apa, Pram?" tanya Mentari kemudian.


Pram tak menjawabnya. Dia lebih tertarik membahas kesendirian Mentari yang menurut sudut pandangnya sebagai laki-laki yang dikhianati dalam radius sangat dekat cukup berbahaya jika banyak tamu losmen yang datang menginap.


"Menurutku ada baiknya kamu punya satpam, Tar. Lebih aman kalau-kalau ada sesuatu yang tidak terprediksikan, ada yang sigap nolongin kamu."


Pram tersenyum hangat. Namun dalam hati ia mengutuk dua adiknya yang tidak tahu berterima kasih, sudah di jaga sejak SD sampai SMP karena di tinggal orang tua mereka buruh, bukannya pengertian dia enggan pacaran malah ikut-ikutan emaknya rewel minta kakak ipar.


Mentari tersenyum sedih. Satu kata untuk Pram yang akan dia tulis lagi di ingatannya. Terlalu peka, hingga tanpa Pram sadari, ucapan yang terdengar biasa saja karena terlalu peka menjelma menjadi perhatian yang lain bagi Mentari.

__ADS_1


"Bapakku satpamnya, Pram. Dan aku sudah biasa jaga losmen ini sendiri karena sepi peminat."


Mentari menyobek sekoteng sachet dan menuangkannya ke cangkir. Menunduk menyembunyikan rasa sedihnya sambil mengaduk sekoteng tadi.


Pram menggeleng acuh. Tidak setuju karena perempuan yang sendirian lebih rawan dalam bahaya meskipun di rumah sendiri.


"Bukan soal tamunya sepi, Mentari. Ini soal keselamatan!"


"Pram, kamu terlalu cerewet!" balas Mentari.


Tanpa sadar keduanya sama-sama mendelikkan mata. Mentari bahkan merutuk kebodohannya sendiri karena mengingat kembali hari buruk itu juga berimbas pada menurunnya kredibilitas losmen. Kalau bisa diibaratkan dalam satu hari itu semesta memberinya bintang satu. Rating terendah yang dampaknya tidak hanya untuk dirinya sendiri.


"Maaf, aku terbawa suasana." akunya sembari mengulurkan secangkir sekoteng untuk Pram.


Bukannya marah, Pram justru senang dibilang cerewet. Dia senang gadis itu keluar dari zona keprofesionalitasnya.


"Tapi aku serius, ada baiknya jangan cuma sendirian kamu jaganya. Sewaktu-waktu bisa aja ada tamu yang datang dan punya niat jahat saat tahu kamu cuma sendirian Mentari, toh kejahatan ada karena ada kesempatan!"


Pram memasang wajah serius sembari menyeruput sekotengnya.


"Aku tau, Pram. Cuma--"


"Coba kalau aku jahat sekarang, emang kamu tau?" potong Pram cepat.

__ADS_1


Mentari lalu menurunkan kakinya, memandang Pram dengan raut wajah menilai.


"Kalau kamu jahat, kamu udah curi kesempatan dari tadi sore, Pram. Tidak sekarang atau nanti!" sanggah Mentari. Diam-diam tenggorokannya meneguk ludah dengan cepat di balik jaket yang ia rapatkan sampai leher.


"Kalau saja Pram tau aku hampir jadi korban pemerkosaan, apa iya dia semakin menjadi orang yang terlalu peka? Arghhh..., Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan Mentari. Dia hanya tamu yang berusaha sok peka dengan kamu! Jangan GR." batin Mentari, memakai sendalnya lalu berdiri. Ditatapnya Pram yang sama sekali tidak seperti bajingan waktu itu. Lelaki itu tetap duduk santai sambil pamer gigi.


"Sepertinya aku harus kembali ke rumahku Pram, biar niat jahatmu tidak jadi." Mentari tersenyum kikuk, "jaga-jaga karena aku tidak tau niatmu nginap disini untuk apa."


Pram terbahak-bahak, sadar gadis yang menjulang di depannya itu ingin menghindarinya. Entah karena takut atau jengkel kepadanya.


"Gak begitu gadis losmen, niatku kesini ya tetap sama kayak kemarin, hiling! Dan aku tadi hanya bikin perumpamaan biar kamu." Pram berjeda, "oh iya-ya Pram, harusnya memang ada satpam disini biar aman." kata Pram menirukan suara Mentari. Berat dan sok centil.


Mentari mengulum senyum sembari membuang muka, "Bapakku besok juga pulang kok, kamu tenang aja, Pram. Jadi besok bapak yang nemenin kamu ngopi dan hiling, bukan aku!"


Telak, Pram langsung berdiri. Ia menggeleng, "Kalau gitu jangan, aku bisa jadi satpam disini selagi bapakmu di rumah saudara!"


"Kenapa emang?" Mentari mengernyit.


"Karena hiling sama bapak-bapak itu gak seru, Tari. Enakan juga sama kamu, merasa di perhatikan aku!" Pram meringis.


Mentari sontak melengos, menghentakkan sendalnya sampai mengeluarkan bunyi berdecit-decit di lantai.


"Aku perhatian karena tanggungjawab, Pram! Enak saja hiling sama aku, aku saja juga butuh hiling tau. Uwww..., nyebelin."

__ADS_1


•••


To be continue and happy reading.


__ADS_2