Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Si pecinta kejujuran.


__ADS_3

Mentari terkejut melihat mobil layanan tambal ban panggilan memasuki halaman rumahnya, dia menyandarkan sapu ke tembok seraya memanggil Pram yang nyantai di depan emperan kamarnya.


"Kamu panggil tambal ban, Pram?" tanyanya langsung.


"He'eh, udah datang?" Pram berdiri, menghampiri Mentari dengan senyum anehnya.


"Kenapa mobilmu, rusak?" Mentari berjeda, berusaha mengenyahkan rasa curiganya yang langsung melejit tinggi, "Pram si pecinta kejujuran, jangan bohong. Mobilmu kenapa?" desak Mentari cemas.


"Si pecinta kejujuran?" Pram terbahak-bahak, "istilahmu lucu banget, Tar. Jadi gemes." Pram menyelipkan ponselnya ke saku celana seraya meniup wajah cemas si gemes. Tapi tidak ada efeknya, si gemes tetap tidak terpengaruh.


"Ban bocor semua sayang, mungkin itu ulah mantan kamu yang gagal move on. Mulai berulah dia kayak katamu kemarin." Pram berjeda sembari menghirup napas, "udah gak usah di pikirin, masih slow gue urusan gini mah kayak ngurus ABG ngambek!" kata Pram santai. Meski begitu Mentari tetap tidak bisa tenang, dia mengikuti Pram keluar losmen menemui mekanik dan montir.


Pram menyerahkan kunci mobilnya.


"Kira-kira bisa full service gak mas? Beberapa hari lagi mau balik Jakarta gue."


Tersenyum lebar sambil mengamati ke empat ban mobil Pram yang benar-benar kempes sampai benar-benar tak ada angin, si mekanik menatap Mentari yang cemas di samping Pram. Ia menduga bahwa Mentari tidak mau di tinggal pergi makanya dengan iseng mengempeskan seluruh ban mobil pelanggannya. Dugaan lain yang sanggup kedua orang yang jauh-jauh dari kota itu pahami, dua orang itu baru terlibat masalah. Entah besar atau kecil pokoknya terlibat masalah karena saking kesalnya dan belum selesai sampai-sampai harus mengempeskan modal transportasi mereka untuk keluar dari sana tapi ujungnya ribet sendiri.


"Kalo ini mah ada orang iseng mas. Bukan lagi kena musibah." urainya, tersenyum paham, "Sehari jadi mas, sore bisalah, kami usahakan!"


"Aku buatin minum dulu." kata Mentari sambil berlalu, dia yakin orang iseng yang di maksud dua orang yang mulai mengecek kondisi mobil Pram adalah dirinya.


"Mas Bisma bener-bener! Untung sekarang aku sadar kalo dia itu makin kesini makin sinting." rutuk Mentari. Menyibukkan diri di dapur, membuat es jeruk dan gorengan yang cepat jadinya.


Di luar, Pram yang belum mengeksplor wilayah losmen dengan teliti memilih untuk berjalan-jalan. Dalam benak yakin seratus persen, laki-laki muda itu akan kembali lagi untuk mengusiknya.

__ADS_1


"Gue respect sama keluarga ini, di saat orang-orang berlomba-lomba untuk membangun rumah yang indah dan masa kini mereka masih mempertahankan gaya asli bangunan lama ini dengan sensasi lain. Bagi penyuka vintage, cocok nih buat singgah. Cuma urusan Bisma gue rasa harus di selesaikan dulu biar losmen ini juga damai, tapi apaan ya caranya."


Pram berhenti di gerbang, di saat yang sama Dara dan Purwati baru pulang dari pasar.


"Om ngapain di gerbang, nungguin kang cilok lewat?" seru Dara, menghentikan motornya tanpa mematikan mesin, "tuh juga ada apaan rame-rame?"


"Service mobil, Ra. Turun sini, ngobrol sama om bentar. Penting."


"Aku antar ibu dulu ke rumah, tanggung!" Dara menggeber motornya sampai ke samping rumah sambil gegas kembali menemui Pram.


"Ngapain sih om, tumben-tumbenan nongkrong disini!" Dara menghenyakkan tubuhnya di atas pagar batu bata, "berantem sama Tari?" imbuhnya penasaran.


Pram ikut menghenyakkan tubuhnya di atas pagar seraya bersila. Pohon-pohon yang menaunginya cukup memberi teduh di tangah suasana siang yang terik.


"Cerita tentang Bisma dong, om penasaran." Diam-diam Pram menghidupkan fitur perekam suara di ponselnya. "Kemarin om ketemu dia waktu joging sama Mentari ke arah pasar, elo tau rumahnya, Ra?"


Pram tercengang bukan main, nongkrong di atas pohon? Karena itu Bisma di juluki lutung, astaga. Pram terkekeh-kekeh dalam hati.


"Mentari tau?" tanya Pram setelah tawanya reda.


"Taulah, cuma si Tari itu kalo sama Bisma gak bisa galak. Diem aja gitu gak berani, kalo aku mah udah aku tonjok hidungnya biar kapok!" jawab Dara bersungut-sungut seraya melompat turun ke bawah.


"Ada apa tiba-tiba om tanya Bisma?" Dara menyipit curiga, "apa dia ganggu Tari lagi?" tanyanya berang.


Pram tersenyum saja melihat ke-galak-an cewek kecil itu.

__ADS_1


"Ayo kita ke pohon yang sering dia pake buat ngintip. Gue pengen coba nangkring di atas sana gimana rasanya." aku Pram, dia melompat ke bawah, mengekori titisan ibunya ke arah pohon rambutan.


Di bawah naungan dedaunan rindang, di atas jalan setapak yang di rambati lumut dan rumput liar, Pram berkacak pinggang. Dia mengamati setiap apa saja yang bisa di pastikan sebagai jejak Bisma.


Dari tempat masuk ke area halaman losmen terbilang bebas banget, gerbang yang tidak pernah di tutup apalagi dan lokasi ia berdiri sekarang pasti tidak pernah di sambangi. Jadi memang semua yang ada di situ mendukung Bisma melakukan aksinya.


"Udah lama gue gak pernah naik pohon, takutnya gue bisa naik, tapi gak bisa turun." batin Pram, sejenak dia ragu-ragu melakukan niatnya tapi bocah yang sejak tadi ngomel-ngomel sendiri menyepelekan dirinya.


"Bisa gak om, kalo gak bisa mah udahlah, emang cuma si lutung itu yang punya bakat manjat pohon."


"Gue bisa, Ra! Cuma gue bukan titisan lutung, gue titisan gorila. Jadi susah naiknya, berat tubuh gue!" elak Pram, mengambil ancang-ancang dan yakkkk! Karena gaya gravitasi tetap menarik berat tubuhnya ke bawah dan kurangnya ahli memanjat pohon sesusah itu ternyata untuk bisa memantau kondisi losmen dari atas pohon.


Pram terbahak-bahak sendiri, payah, dia duduk di atas rumput sambil menengadah.


"Ra, menurutmu apa yang bisa bikin Bisma kapok ke sini?"


"Jawab dulu si Bisma ganggu Tari lagi?" pungkas Dara galak.


"Iya!" Pram mendesah kesal seraya menceritakan kejadian kemarin dan mobilnya itu, jelas saja si Dara langsung meledak-ledak seketika.


"Makanya gue pengen ngasih pelajaran buat itu orang, Ra, gue yakin, kalo kita gak balik serang itu orang, dia akan tetap seperti ini sampai kapanpun!"


"He'eh, aku setuju om. Tapi om yang mikir idenya! Nanti aku yang bantu-bantu."


Pram tersenyum geli, karena belum dapat ide cemerlang dan banyaknya nyamuk yang mengacaukan konsentrasi. Pram melompat keluar ke bahu jalan, membuang waktu sambil berpikir keras. Belum juga datang ide yang baik tanpa melibatkan banyak pihak, dari arah berlawanan motor melaju dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


PYAR...


"WOI!"


__ADS_2