Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Rencana menghapus jejak mu.


__ADS_3

"Pokoknya elo jangan ngomong yang iya-iya tentang Tatiana di depan bini gue! Elo paham, Ron?" ancam Pram di bawah kanopi halaman belakang.


Yang terancam memasang wajah cengengesan. Roni mengangguk tanpa ragu.


"Elo cinta banget bro sama bini elo?" tanyanya, mengikuti langkah Pram pelan-pelan masuk ke dalam rumah.


"Gue udah bilang, Mentari itu cahaya gue, begitu sebaliknya. Kita itu sama-sama menerangi dalam gelap." jelas Pram serius. Kontan Roni yang mendengar tertawa tanpa suara.


"Anjirrr, emang parah elo kalo udah jadi anak cinta. Gak heran gue kenapa dulu elo patah hati banget Ana selingkuh sama Abriza–!"


Pram menoleh cepat-cepat mendengar dua nama paling terkutuk dalam hidupnya itu seraya mencengkram lengan kerempeng Roni.


"Elo gak usah bahas-bahas mereka deh, penting keutuhan rumah tangga gue sekarang. Ini lagi sebulan bro, gak akan mudah buat kita untuk jalan bareng lagi dengan nyaman kalo masih ada dia. Elo bilang deh sama Ana jangan gangguin kehidupan baru gue."


Pram melepas cengkramannya sambil ngomong sori nggak maksud gue.


"Santai aja lagi, bro. Gue ngerti, cuma Tatiana sempat bilang ke gue kalo dia nyesel udah ngelepas elo. Dia pengen ketemu mau minta maaf kali, bro."


Pram mendorong pintu rumahnya, pintu yang langsung menuju ruang makan. Mentari ada di situ, diam dengan satu tangan menyentuh perutnya.


"Sayang, kok ngelamun?" tanya Pram dengan sorot mata resah.


Ia tak peduli Tatiana nyesel atau tidak putus dengannya, yang ia yakini sekarang, semua masa lalu buruk yang terlewati pasti ada hikmahnya. Dan hikmahnya adalah perempuan yang mengangkat wajahnya dengan muka sendu itu. Mentari, mengusap perutnya lalu memandangi suaminya yang berlutut di depannya.


"Kalo aku beneran hamil gimana, Aa?"


Pram tercengang, sudah over thinking istrinya ngambek karena ketemu Tatiana. Lah ini, istrinya diam merenung, meringkuk di kursi karena memikirkan kalo hamil gimana.


Pram menyunggingkan senyum. Dalam hati dia mendesah lega, lega banget bro ada hal lain yang lebih penting di bahas ketimbang Tatiana apalagi warna biru dalam hidupnya.


"Gak harus gimana-gimana, sayang. Itu artinya aku sama kamu harus siap jadi orang tua." jawab Pram dengan suara lembut.


Tapi kalo Mentari benar-benar hamil? Jatah elus-elus gue berkurang demi kesempurnaan buah hati. Ya Allah, cepet banget jadinya. Terima kasih, terima kasih, ini pertanda bagus jadi emak enggak usah nyuruh-nyuruh gue bikin cucu sesering mungkin karena itu udah gue lakuin selama sebulan ini.


Pram mengumbar senyum aneh, sejujurnya ucapan tentang hamil muda tadi cuma penghiburan saja di tengah bahagia yang ada di tengah kawan-kawannya, belum pasti tepatnya jadi dia nggak mau sesumbar.


"Kita tunggu Minggu depan sayang, kalo kamu nggak berdarah, berarti kita benar-benar menjadi calon orang tua baru." imbuh Pram sambil membelai rambut Mentari.

__ADS_1


"Kamu kepikiran?"


Mentari mengangguk, dia menatap Pram dengan mata berkaca-kaca.


Pram yang dikuasai rasa cemas hanya bisa memeluk tubuh istrinya. Memberi dekapan cinta bila mana itu yang sanggup membuat angkara terlebur menjadi toleransi rasa.


"Mau Aa mandiin?" tawar Pram setelah mengecup kening Mentari.


Roni berbalik dengan muka cengar-cengir dan menjauh.


"Emang kampret elo Pram, nggak di rumah, nggak di luar, ternyata sama gilanya kalo pamer kemesraan!" katanya di dekat lemari hias.


"Gue denger, bro." sahut Pram, ia berdiri. Memasang kuda-kuda untuk menggendong Mentari ke kamar.


"Elo ikut gue ke kamar bro, meeting point di kamar gue aja biar elo punya gambaran tentang renovasi besok." ajak Pram yang telah memastikan istrinya sudah menempel di punggungnya.


Muka Roni langsung berkedut-kedut. Jantungnya juga.


Apa gue harus denger dan nunggu mereka mandi berdua? Wah parah, gak bener otak Pram!


Roni tersenyum canggung saat menatap sejoli yang sudah ia perkirakan bagaimana jika hanya berdua di rumah.


"Emang apa yang mau di jual, Aa?" sahut Mentari yang menyandarkan kepalanya di bahu Pram.


Pram menaiki anak tangga dengan mengerahkan sekuat tenaga. Energinya hilang terkuras untuk memikirkan yang ‘iya-iya’ sepanjang siang tadi.


"Beberapa barang waktu jaman bujangan dulu, sayang. Jadi waktu renovasi rumah nanti sekaligus ganti perabotannya." jelas Pram. Tepat di undakan terakhir, Pram memutar tubuhnya.


"Ron, buruan!"


Anjirrrrr... bener-bener di ajak ke kamar gue.


Dengan langkah berat Roni menaiki undakan demi undakan hingga sampai di ambang pintu kamar Pram. Dia mengedarkan pandangannya, menyaksikan bagaimana Pram menyiapkan persembahan darinya untuk Tatiana dulu.


Manis sekali, langit-langit kamarnya di beri cat warna langit dan awan putih. Dan semua interiornya tak luput dari sentuhan warna biru.


"Yakin gue sekarang, Pram gak pernah main-main kalo cinta sama cewek. Sama yang baru ini gue jadi yakin, mereka emang saling menerangi. Cocok nih mereka berdua jadi brand ambassador lampu."

__ADS_1


Roni meringis geli sambil menutup pintu kamar itu. Ia menuruni undakan dengan wajah keruh.


"Ngajak meeting points kok di kamar mandi, bisa ikutan sinting gue lama-lama di sini. Cabut ajalah, urusan renovasi gampang. Buang semua warna biru, termasuk baju-bajunya Pram!" Roni terbahak.


Dia masuk ke dalam mobil, baru sewaktu mesinnya menderu. Pram memakai handuk dan berlari kecil ke balkon kamar.


"Ron, mau kemana elo?" teriaknya keras-keras.


Roni hanya menekan tombol klakson seraya menggerakkan persneling mobilnya. Mundur, mundur, mundur lalu hilang dari pandangan mata Pram.


Pram memukul palang balkon. "Benar-benar menghadapi rumah tangga sesungguhnya ini, Mentari pasti melanjutkan sesi ngambeknya ini. Arghh, Ron. Penyelamat gue malah minggat. Nggak setia kawan banget elo mah."


Pram melangkahkan kakinya dengan lemas ke kamar mandi.


"Sayang, ayo udahan." ajaknya sambil menutupi tubuh istrinya dengan handuk.


"Aa,"


"Iya sayang."


"Kenapa setelah aku bilang kalo masih ada jejak-jejak kenangan mantan Aa langsung buru-buru renovasi rumah?" tanya Mentari setenang mungkin.


Pram mengusap air yang mengalir di wajah teduh istrinya. Jujur saja-jujur saja daripada jadi beban nanti, kata hatinya bicara.


Pram menarik napas dan mengembuskannya.


"Semua yang ada di rumah ini adalah diskusi antara aku dan Tatiana, termasuk ukuran jendela, ukuran kasur, dan warna cat tembok ini. Jadi itu alasannya kenapa harus buru-buru aku renovasi, aku ingin menghormati keberadaan kamu di sini."


"Terima kasih." Mentari keluar dari kamar mandi terlebih dulu, dia membuka lemari. Mencari segitiga bermerek Triumph yang dulu membuatnya ngeri.


"Termasuk milih ini juga, Aa?" tanya Mentari sambil menimang-nimang benda itu di depan wajah Pram.


"Kalo yang ini aku milih sendiri kok, Tar. Cuma kamu yang tau ukuran dan isinya."


Pram meringis bodoh sambil meraih benda itu, ia memakainya tanpa berani menatap Mentari kemudian.


"Nggak aman gue, harus jadi anak baik-baik dulu ini. Jangan cari masalah lain!" gumam Pram dalam hati.

__ADS_1


•••


To be continue and happy reading.


__ADS_2