
Perjalanan panjang yang di lalui Mentari akhirnya selamat sampai tujuan. Ayah dan ibunya yang telah menunggunya berlari kecil menyambut putri semata wayang mereka dengan antusias di depan losmen sewaktu mesin mobil terdengar dari kejauhan. Di tengah suasana yang dingin menentramkan Mentari tersenyum meski jantungnya berpacu dalam jelas, jelas saja, dia pulang juga membawa kabar yang menyebutkan bahwa dia akan menikah.
Bukannya kaget dan bahagia, Purwati langsung memandang anaknya dengan pesimis.
"Kamu sama Pram tidak macam-macam kan, Tar?"
Joko menggelengkan kepalanya samar-samar, di saat yang bersamaan, sopir travel yang selama perjalanan menceritakan kebaikan dan kekonyolan keluarga Bagyo membuka pintu belakang. Dua karung beras ia turunkan, lalu tandan pisang dan satu karung ubi Cilembu.
Joko dan Purwati yang melihatnya jadi ternganga. Teralihkan perhatiannya oleh buah tangan yang jumlahnya sudah mirip emak-emak kalau punya hajatan.
"Apa ini, Tar?"
Mentari jadi senyum-senyum mengingat bagaimana Asih menyuruhnya membawa semua itu tadi. “Tenang aja geulis, pokoknya mah ini cuma oleh-oleh dari hasil panen, bukan sogokan untuk nikahin kamu. Jadi di terima, bisa sedih emak, kamu pulang sudah sendirian, nggak bawa oleh-oleh, ah kasian banget atuh. Nggak tega emak.”
Mentari semakin tersenyum-senyum sambil menunjuk semuanya yang ada di atas konblok.
"Itu dari keluarga mas Pram, pak, buk. Oleh-oleh katanya." Mentari nyengir.
__ADS_1
Joko langsung melihat ke dalam ruangan travel. Masih ada dua kardus, setelah di buka isinya, ada kerupuk udang dan ikan yang semuanya masih mentah, roti kaleng dan peyem yang belum matang sempurna.
"Wah, wah, wah. Ini sih bapak suka, Tar. Mereka baik-baik semua. Emang ya bapak tidak salah pilih mantu!" Joko tersenyum bangga, Purwati yang juga melihat cincin di jari manis Mentari menghela napas.
"Bawa ke dalam, sekalian ibuk mau bicara!" kata Purwati, mengangkat batang tandan pisang. Sementara Mentari, bermodalkan sisa tenaga ikut membantu membawa pisang ambon ke dalam rumah.
"Pokoknya gitu, buk. Aku mau nikah sebulan lagi sama mas Pram. Di sini, rumah kita." kata Mentari dengan bermata jeli.
Sesaat yang terasa lama sekali, Purwati tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Putrinya yang gagal menikah dan hampir tidak waras itu mengumumkan ingin menikah, satu bulan lagi? Jantung siapa yang tidak berpacu lebih cepat setelahnya.
Purwati menarik tangan Mentari yang ada cincinnya. "Kamu dan Pram benar-benar yakin tidak buru-buru mengambil keputusan, Tar? Menikah itu perkara panjang, bukan hanya kamu yakin, Pram yakin, terus menikah. Tapi, menikah itu laksana mengambil bulan di langit. Slalu membutuhkan usaha besar untuk menjangkau setiap apapun yang kalian hadapi." kata Purwati memberitahu.
"Aku yakin mas Pram dan aku bisa menghadapinya, buk. Mas Pram beda dengan mas Bisma."
"Ibu bisa melihatnya kalo mereka berbeda, tapi, Mentari, menikah berarti kamu harus melayaninya, kamu sudah–" Purwati membuang napas, "ibu harap kamu bisa membedakan mana orang jahat dan suamimu nanti."
"Iya," Mentari mengangguk lagi, "mas-mas travelnya tadi minta izin untuk nginep semalam di sini buk, boleh?"
__ADS_1
"Biar bapakmu yang atur, kamu mandi, terus istirahat. Besok pagi-pagi, bantu ibu untuk membagikan oleh-oleh itu untuk saudara-saudara, sekalian minta tolong mereka untuk rewang di sini."
"Jadi nikah - jadi nikah..." Mentari berlonjak dari kursi seraya bersorak gembira. Besok paginya, kesibukan membagi oleh-oleh beras dan ubi Cilembu itu terlaksana sambil membicarakan konsep pernikahan mereka. Intimate wedding, hidung Purwati membesar dan mengempis.
"Terus nanti boyongan ke Jawa barat, Tar?"
"Iya, buk. Kampung halamannya mas Pram." Mentari mengikat plastik berisi pisang, beras dan ubi Cilembu.
"Harus nyewa bus berarti ini, Tar. Tapi ibu minta nggak usah rame-rame ya, yang penting pentolan saudara ikut semua dan–dan, apa harus kita mengajak pak kades untuk ikut ke sana, Tar?"
Mentari jadi kepikiran tentang itu. Menikah tanpa mengundang kepala desa itu lucu dan pasti menjadi gunjingan. Sedangkan mengundang keluarga kepala desa itu seperti makan kopi campur gula. Merasa pahit di awal manis di akhir, dan efek kafeinnya membuatnya terjaga.
"Demi kesopanan, buk. Kalo mereka mau ya ayo, kalau enggak, ya udah, yang penting kita udah ngajak pak kades dan Bu Desy jadi tamu kehormatan nikahan ku di rumah ini," Mentari tersenyum lebar. Plong rasanya membalas sakit hatinya yang teramat kental dengan pernikahan yang bahagia. "Aku akan mencium suamiku yang gagah perwira di depan mereka, buk!"
"Tari!"
•••
__ADS_1
To be continue and happy reading.
Nikahnya besok. 😁