Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Ulah Bisma.


__ADS_3

Naluri rasa penasaran Bisma membesar setelah mengetahui laki-laki kemarin yang sok-sokan jadi pahlawan kembali ia ketahui berada di dekat Mentari. Sama-sama basah dari tempat yang ia tahu pasti sebagai tempat kesukaan Mentari.


Maka dari itu, setelah tahu laki-laki itu yang menginap di losmen Mentari karena ibunya sudah memberi informasi kala empat bulanan istrinya kemarin, siang harinya setelah pergi beli ke dokter kandungan di kota Bisma langsung mengintai di tempat persembunyian.


Keadaan di losmen terpantau sepi, hanya ada aktivitas bebek dan ayam yang memeriahkan suasana di depan losmen, sementara lima manusia penghuni losmen yang telah membuat kesepakatan bersama memilih melakukan aktivitas di dalam losmen, makan-makan sambil cerita-cerita di taman. Dominasi tetap di lakukan Pram untuk terlihat pantas di jadikan mantu keluarga Joko. Dominasi kedua berada di tangan Dara, gadis yang sudah menyetujui untuk memakai baju peninggalan mantan kekasih Mentari. Justru di sana keluarga Joko yang menjadi pendengar dan menyumbangkan tawa renyah mereka akan pertanyaan polos Dara dan jawaban konyol Pram.


Bisma mendengus sebal sambil menuruni dahan pohon rambutan, pelan-pelan lalu melompat ke atas tanah.


"Aku yakin itu mobil laki-laki sialan itu!" Bisma mengendap-endap dari pohon satu ke pohon satunya atau ke tempat yang bisa menyembunyikan tubuhnya dari mata orang. Sampai tiba di samping mobil Pram, Bisma mengempeskan seluruh ban mobil Pram. "Rasain!"


Tergesa-gesa Bisma meninggalkan halaman losmen, dia memandang benci ke arah mobil Pram sebelum menggeber motornya ke arah rumah.


Arimbi menyambut kedatangannya dengan wajah jengkel. "Dari mana mas?" tanyanya, mengekori suaminya ke dapur.


Bisma meneguk minuman dingin yang ia ambil dari kulkas dengan muka sebal.


"Mas dari mana kok kusut banget mukanya." desak Arimbi. Mimik wajahnya tidak bisa berkompromi lagi kalau Bisma tetap bungkam bahkan tak acuh kepadanya.


"Mas!" sentak Arimbi, memberengut sambil menahan lengan suaminya yang tetap membisu, "Dari losmen Mentari lagi?" tukasnya berang.


Bisma menatap istrinya dengan binar kesal. Sudah tahu kesalahan satu malam itu harusnya tidak perlu terjadi pernikahan karena tidak ada cinta. Semua hanya khilaf yang terus Bisma gembar-gemborkan di hadapan gadis itu sedang tak sejalan. Jadi apa salahnya dia masih ke losmen Mentari, Arimbi sudah tahu risikonya harusnya wanita itu paham, Mentari adalah pujaan hatinya.


"Aku emang dari sana!" jawab Bisma datar, "lepasin tanganmu, Ri. Aku baru capek."


Arimbi jelas-jelas ogah melepas tangannya dari lengan laki-laki yang telah mengambil keperawanannya. Dia memperdekat wajahnya ke bibir Bisma yang enggan terbuka untuk saling bertaut dan mengeksplorasi.

__ADS_1


Arimbi melepas ciumannya lalu mendengus dingin. "Jangan sampai aku bilang sama papa kalo mas selingkuh! Mas udah bikin aku hamil lho, dan Mentari gak mungkin mau kamu cium seperti aku!"


Bisma mengusap bibirnya yang masih basah akan ciuman mereka berdua. Tangannya terangkat dari sisi tubuh seraya menghela napas sewaktu menggenggam kedua lengan istrinya.


"Mentari emang gak mau aku cium, Ri. Dia mau ngasih semua yang apa miliki setelah dia nikah sama aku. Dan itu semua hancur karena kehadiranmu di pesta tahun baruku, ngerti kamu!"


"GAK!" balas Arimbi galak, dia mengenyahkan tangan Bisma dari lengannya. "Pokoknya aku gak suka kamu ganggu-ganggu Mentari terus mas, aku mau kamu di rumah. Sama aku, cintai aku dan calon anakmu ini, cintai aku mas." rengek Arimbi dengan wajah memelas seraya mendekap tubuh suaminya.


Bisma mengusap punggung istrinya dengan malas dan hati yang keruh. Melepas Mentari dengan cara yang salah dan paling brengsek adalah kesalahan terbesar baginya, but heart to heart dia masih menyayangi gadis yang terus membayangi hari-harinya meski sang istri terus memberikan pelayanan terbaik kepadanya.


"Aku males ribut terus, Ri. Kita ke kamar!" kata Bisma, mengalah sebentar untuk memanjakan istrinya yang bertubuh kenyal.


Bisma melirik istrinya yang terlelap setelah percintaan yang mereka lakukan. Laki-laki berusia tiga puluh tahun itu membuang napas seraya menyambar baju-bajunya yang berada di lantai untuk di bawa ke kamar mandi.


Selang lima belas menit setelah memastikan istrinya masih tertidur. Bisma keluar kamar dengan gerakan perlahan-lahan. Dia makan siang terlebih dahulu sebelum menggeber motornya lagi keluar rumah. Sementara ibunya yang mendengar percekcokan antara anak dan mantunya hanya bisa menghela napas.


Bisma memarkirkan motornya di jalanan yang lumayan jauh dari gerbang depan losmen idaman. Dia kembali melakukan aksinya dengan hati-hati, memantau losmen dari atas pohon.


Mobil bak memasuki halaman losmen seraya parkir di samping mobil Pram.


Bisma meneliti barang bawaan di dalam dua plastik besar sebelum mereka bawa ke samping losmen.


"Ikan?" mata Bisma menyipit, Pram dan pak Joko keluar untuk menyambut si owner yang mengantarkan sendiri bibit ikan nila pesanan Pram.


"Jadi laki-laki itu benar-benar ada di sini!" Bisma mengumpat kesal sambil memeluk batang pohon sebagai penjaga keseimbangannya.

__ADS_1


"Mentari pasti setiap hari melayaninya! Dan kemarin sebelum dia ganggu aku, sebenarnya mereka berdua joging bareng seperti tadi pagi!" Dadanya langsung di penuhi amarah tak kasat mata yang begitu besar. Bisma menonjok batang pohon sampai buku-buku tangannya memerah.


"Gak bisa di biarin laki-laki itu lama-lama nginep di losmen Mentari, lagian kenapa masih ada yang mau nginep di sini!"


Bisma terus memantau keadaan di bawah, dua isi plastik besar tadi sudah pindah ke dalam kolam.


Mentari bertepuk tangan, senang melihat dua ratus ikan nila berenang bebas di dalam kolam.


"Untung kemarin aku ngizinin kamu pakai kolam ini. Jadi bagus, Pram."


Pram menepuk-nepuk dadanya dengan jumawa. "Gimana, udah bener-bener cocok belum jadi suami kamu, Tar? Calon suami paket lengkap ini gue, jarang ada, limited edition buatan emak dan bapak!"


Mentari mencebikkan bibir meski hatinya menghangat. Pram telah membangkitkan sesuatu yang pernah ada di losmen itu.


"Cocok enggak ya?" Mentari mengetuk-ngetuk dagunya, lalu tersenyum manis. "Nanti deh aku jawab, kita kan lagi perang dan gak ada tuh perang itu lawan ngaku duluan, Pram!"


Mentari menjulurkan lidahnya lalu melengos pergi. "Makasih sayang, besok kita goreng untuk acara hajatan nikahan kita!"


Dada Bisma makin panas seperti terkena bola api. Dia memang tidak mendengar perkataan mereka di bawah sana, tapi dari bahasa tubuh Mentari dan Pram yang berseri-seri Bisma makin tidak tenang. Dia turun dari pohon, menggeber motornya cepat-cepat menuju tongkrongannya.


Dua kelompok laki-laki dewasa di beda tempat berdiskusi dengan topik yang berbeda. Satu mengenai bisnis, satu mengenai rencana jahat. Hingga keesokan harinya, Pram baru menyadari ban mobilnya kempes sewaktu memanasi mesinnya untuk di bawa ke bengkel sebelum pulang ke Jakarta.


"Gue kira bokis, ternyata belum ada sehari dia tau gue di sini udah bikin masalah!" Pram tersenyum meremehkan, "gue lihat deh, sampe mana dia beraninya!"


•••

__ADS_1


To be continue and happy reading.


__ADS_2