Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Merah muda berenda.


__ADS_3

Demi menyenangkan hati tamu istimewa di kota Jakarta, Pram benar-benar menepati janjinya mengajak Dara, Mentari, Tegar dan Danang piknik ke tempat-tempat yang mereka inginkan. Seperti hari ini, belanja baju grosiran di tanah Abang dengan sponsor juragan empang tentunya.


"Gak sekalian beli seperangkat alat sholat nih, Tar? Pumpung lagi di sini, lumayan, murah meriah." gurau Pram yang memegangi kedua bahu Mentari dari belakang. Keadaan pasar yang ramai membuat mereka harus berjalan berdempetan untuk menyusuri koridor pasar.


Mentari mencebikkan bibir. Sudah terhitung lima hari mereka hidup satu rumah, sudah ‘lumayan’ banyak kebersamaan yang di lalui keduanya di dalam rumah itu. Entah makan berdua, ngasih pakan ikan bersama, atau yang tadi malam habis terjadi, nonton film berdua di balkon kamar.


Mentari menoleh sambil menyentuh sekilas ujung jemari tangan laki-laki yang telah memberinya kesempatan untuk kembali mencicipi rasa percaya akan cinta.


"Emang kamu udah siap belum jadi imam ku, Pram?" tanyanya serius.


"Anjayyy, pakai di tanya lagi!" seru Pram, tak bisa menurunkan senyum yang mengembang di wajahnya sejak tadi.


"Imam akan slalu siap tepat waktu, jadi sekarang gue tanya, apa kamu sebagai makmum ku nanti udah siap lima kali sehari?"


Pram terus mendorong Mentari pelan-pelan sambil menunjukkan arah jalan keluar dari padatnya isi pasar. Sementara Dara, Tegar dan Danang mengikuti di belakang mereka, tentunya sambil jelalatan ke sana kemari dan menenteng belanjaan.


"Kamu ngajak ngobrol serius gitu di tengah pasar, Pram. Udah mirip slogan pasar tau nggak, lu jual gue beli!" cecar Mentari.


Sontak saja Pram langsung tertawa terbahak-bahak. Bahkan tawanya yang menggelegar langsung bikin geger orang-orang di sekitar mereka.


Semua jadi pada ribut menggunjing satu orang yang masih percaya diri memegang kedua bahu Mentari dengan muka sok acuh.


"Dasar om bledek!" cibir Dara di belakangnya. Sepasang mata Pram langsung menoleh dan melotot kepadanya.


"Biarin." serunya tak peduli, mau bledek, petir, halilintar, yang penting status jomblo sudah hampir tamat riwayatnya. Ya kan?


Pram kembali memandu Mentari menyusuri pasar yang konon menjadi pasar terbesar di Asia tenggara.


"Aku nunggu kamu siap, kalo udah bener-bener mantap. Hayu, bilang sama-sama ke orang tua kita." kata Pram tenang, tak perlu kata jadian, karena baginya jadian di usia tiga puluh lima tahun itu menggelikan. To the point lebih menantang atau istilah lebih lembutnya, pacaran setelah nikah!


Mentari memutar bola matanya sambil menyilangkan tangan. Melindungi bagian paling cihuy miliknya sambil mempertimbangkan beberapa hal, tapi lagi-lagi perkara waktu menjadi pertimbangannya sebelum masuk ke KUA bersama.


"Nanti kita bicara lagi kalo udah ketemu emak, aku yakin kamu belum cerita tentang kebohonganmu kemarin, Pram."

__ADS_1


Pram mengangguk, dia akan cerita, lusa, seperti janjinya kepada Sum untuk pulang ke kampung halaman. Lagian sesuatu yang baik harus ia awali dengan kejujuran terlebih dahulu, perkara Pevita, cincin itu, dan Mentari harus ia katakan di depan Bagyo dan Asih.


Pukul setengah dua siang, mereka berlima bener-bener terbebas dari padatnya pasar tanah Abang dan kembali duduk manis di dalam mobil.


"Mau kemana lagi?" tanya Pram yang memiringkan tubuhnya ke belakang.


Dara menguap lebar-lebar, sementara Tegar dan Danang yang slalu merasa sebagai pengikut dan tahanan rumah tidak perlu menjawab.


Danang ikut menguap, lalu dengan ragu merenggangkan otot-otot tubuhnya. Dan sebagai jawabannya, Pram memutuskan untuk membeli bakso sebelum pulang.


Pram menarik pintu mobil, ia mengulurkan belanjanya kepada Mentari. Suasana yang hening membuatnya tersenyum hangat. Nampak, wajah-wajah lelah itu sudah ingin segera merebahkan diri di kasur.


"Lagian hiling mintanya ke tanah Abang. Pening udah, beda sama gue, yang pening dompet gue. Mau pingsan rasanya, untung juragan." kekehnya dalam hati sambil menghidupkan mesin mobil.


Kelimanya melewati perjalanan sambil mendengar Dara berceloteh tentang hari ini dengan sabar meski Pram hanya nyengir-nyengir sendiri. Tapi naas, sewaktu Pram melihat pintu gerbang rumah terbuka lebar, dia langsung nyelonong masuk dan cengiran lebarnya tergantikan dengan mata melotot nyaris keluar.


"Mampus aing!"


Mobil ibunya terparkir di garasi, bahkan bapaknya sedang santai di kursi teras sambil membaca koran. Dan sekarang, Bagyo berdiri, menghampiri.


"Kenapa? Takut, sayang?" gurau Mentari.


Pram menghela napas panjang seraya menggeleng. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ketakutan, dia justru mengkhawatirkan Mentari saat menghadapi orang tuanya.


"Kayaknya ini terlalu cepat bagimu, Tar." ujar Pram sedikit takut, dia yakin, meski gadisnya tersenyum, isi jantungnya sudah koprol-koprol, apalagi bapaknya sudah mengetuk-ngetuk kaca mobil.


Mentari mengulurkan tangannya untuk mengelus bahu Pram sebagai jawaban. "Ayo turun, lagian besok apa sekarang sama aja rasanya. Deg-degan." akunya sambil menyentuh dadanya dengan tangan kiri.


Pram mengulum senyum sambil menyetujuinya, ia yakin, si ramah gagal perfect itu bisa diandalkan.


"Ya udah ayo turun...," Pram menoleh setelah mengusap puncak kepala Mentari, "Ra, Nang, Gar, yang sopan ya. Ada keluarga gue."


"Jangan khawatir!" sahut Dara, ikut memperingati Tegar dan Danang dengan pelototan matanya. "Yang sopan, kalo makan jangan nambah! Malu-maluin ntar."

__ADS_1


Danang dan Tegar kontan cengengesan, tapi urusan mendesak seperti itu sudah sering mereka rasakan. Keduanya mengangguk lantas mengikuti tiga orang terdepan keluar dari mobil.


Satu persatu dari mereka menyalami Bagyo sambil memperkenalkan diri.


"Mereka teman-teman Pram dari Jawa tengah, pak. Udah nginep lima hari di sini."


Bagyo mengangguk sambil merenung. Sudah lima hari, cewek-cowok ngumpul satu rumah, apa yang terjadi? Pikiran tuanya beralih sewaktu istrinya berlari kecil sambil menjerit-jerit dari dalam rumah.


"Kutang siapa ini, Pram?"


Enam orang di halaman rumah itu sontak mendelik menatap dua bra merah muda yang Asih acungkan ke wajah anak lelakinya.


Pram meringis bodoh sambil mengusap lehernya. Bra itu memang sudah ia lihat kemarin-kemarin di tempat jemuran. Tapi nggak separah ini lihatnya.


"Bukan milik Mbok Sum yang pasti, Mak." jawabnya pelan.


"Emak tau, kasepppp!!!" Asih mendesis tajam, "punya siapa?"


Mentari mengangkat dagunya, "Punya saya, Tante." jawab Mentari ragu-ragu.


Asih langsung beralih ke wajah manis merona di samping anaknya. Asih menghela napas. "Saha?"


"Mentari."


"Naon anu anjeun lakukeun di dieu?"


Mentari langsung menatap Pram, minta penjelasan.


"Dari Jawa tengah, Mak. Nggak bisa bahasa Sunda." jelas Pram sambil mengusap punggung Mentari.


Asih yang sempat terpana dengan sikap anaknya langsung menyerahkan benda penyangga itu ke tangan Mentari yang menggenggam plastik isi bakso erat-erat.


"Masuk ke dalam, emak butuh penjelasan!"

__ADS_1


•••


To be continue and happy reading.


__ADS_2