
Pram membuka bagasi mobil sewaktu semua koper sudah di taruh ke halaman losmen dua jam setelah matahari menghilang.
"Yakin cuma ini doang yang mau di bawa ke Jakarta?" tanyanya ragu karena dua gadis dan dua bujangan yang ia bawa dari desa itu hanya membawa baju ganti secukupnya. Hanya se-koper dan sebesar tas minggat. Padahal kalau pindahan sekalian juga boleh.
"Yakinlah om, kalo gak cukup kan ada om yang beliin. Ya kan?" seru Dara dengan riang, maklum saja dia sedang berada di puncak euforia piknik ke Jakarta.
Mengunjungi Monas, kebun raya Bogor, kebun binatang ragunan, pasar tanah Abang, dan patung selamat datang adalah destinasi yang wajib dia kunjungi dan sudah ia utarakan kepada tour guide plus sopir gratis itu.
Pram tersenyum maklum sambil mengangguk, lantaran memang dia tidak bisa tega dengan gadis tak bernasab di depannya ini.
"Ntar beli grosiran di tanah Abang, tapi sekarang udah pada yakin belum sama barang bawaan kalian?"
Pram menatap semua orang di depannya dan berhenti di sorot mata yang sejujurnya malas harus semobil dengan Danang dan Tegar, Mentari.
"Udah siap ketemu calon mertua sayang?" godanya lalu meringis. Pram menutup bagasinya setelah tak ada lagi yang tertinggal.
"Gak siap," akunya jujur, "aku justru takut, Pram."
Mentari mengerucutkan bibirnya, niat healing ke Jakarta adalah untuk menghindari Bisma, tapi berhubung Bisma sudah Pram bereskan maka sebenarnya tak ada yang perlu di takutkan lagi. Dia bisa menjalani hari-harinya dengan tenang, hanya saja budi yang Pram berikan semakin menumpuk. Jadi dia tidak mau mengecewakan Pram, tapi urusan ketemu calon mertua itu belum dia pikirkan. Terlebih terbayang bagaimana cerewetnya Asih jika dia bukan Pevita asli.
Mentari menghela napas sambil berbalik ke dalam rumah. Ada lima ikan yang harus ia beri makan dan sudah ia beri nama. Say hello, say good bye, say yes, say no, say thank you. Lima kalimat yang wajib dia ucapkan ketika melayani tamu.
Pram ikut masuk ke dalam rumah bersama pengikutnya ke dalam rumah pribadi Mentari. Mereka menemui Purwati dan Joko yang sedari siang tadi sibuk menyiapkan oleh-oleh untuknya.
"Sudah siap dik Pram?" tanya Joko.
"Sudah, pak. Sudah! Tinggal nunggu Mentari pamitan sama ikan-ikannya." Pram meringis geli, bisa ia bayangkan gadis itu memandang ikan-ikan koinya dengan sendu sambil mengatakan, “ikan jangan sedih aku tinggal hiling sebentar sama Pram, jangan sedih, pasti aku kembali”.
Joko berdiri, mengambil dua kardus yang berisi oleh-oleh di dapur seraya menaruhnya di depan Pram.
"Di terima dik Pram, itung-itung hadiah dari losmen ini." Joko tersenyum seraya menghenyakkan tubuhnya di kursi. Menunggu Purwati yang baru mewanti-wanti Mentari di kamarnya.
__ADS_1
"Pasti, Buk. Aku janji akan pulang, lagian siapa yang mau lama-lama di Jakarta, Dara mungkin iya! Aku enggak, aku pasti pulang."
Purwati hanya senyum, pasalnya sejak tadi malam putrinya sudah mengundang perhatiannya sewaktu meminta semua keluarganya ikut mencari Pram. Kalau pun anaknya jatuh cinta dengan Pram ia akan turut bahagia atas pencapaian baru di kehidupan asmara putrinya, tapi semuanya masih ia nilai terlalu cepat. Semua itu belum benar-benar menguncup bahkan belum bersemi dengan tepat. Menurutnya kebersamaan mereka hanyalah fase di mana saling menempelkan kolase rasa yang saling mengisi satu sama lain.
"Tapi kalo kamu memang bersedia menikah dengan Pram, ibu langsung akan menyetujuinya. Ibu janji, Tar." kata Purwati.
Mentari mengangguk, diserahkannya pakan ikan ke tangan ibunya.
"Titip ya, buk. He...," Mentari nyengir lebar, menambah satu kerjanya untuk ibunya yang sudah banyak kerjaan adalah pelanggaran. Makanya nyengir saja biar ibunya maklum.
Keduanya lantas keluar, berjumpa dengan semua orang yang telah menunggu ke duanya dengan sabar.
"Sudah buk'e?" Joko berdiri.
Purwati menatap Pram dengan serius sebelum mengangguk pelan.
"Kalian semua nurut sama mas Pram terutama kalian berdua." katanya dengan ekspresi dingin saat menatap Tegar dan Danang.
Berhubung semua sudah siap melakukan perjalanan jauh. Ke lima anak muda itu pamitan kepada birokasi tertinggi losmen idaman.
"Hati-hati!"
Semua orang masuk satu persatu ke dalam mobil. Giliran Danang yang akan duduk dengan dengan Dara di kursi penumpang, ia malah berbalik menghampiri Purwati lagi dengan raut wajah cemas.
"Titip mamak yo, buk." katanya penuh harap.
Purwati berdehem, walau sebenarnya Wartini lebih tua darinya. Tapi untuk urusan seperti ini dia akan mengiyakan biar Danang juga tenang kerjanya.
"Sudah kamu masuk, kerja yang bener biar ibumu bangga!" ucap Purwati mengingatkan. Meski secuil hatinya masih sakit hati akan tindakan Bisma cs itu.
Danang mengangguk dan kontan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Pram tersenyum sambil memandang semuanya lewat kaca spion. Wajah-wajah pengikutnya ini berbeda-beda. Ada yang manyun, ada yang gembira, ada yang malu-malu lagi. Tapi tetap saja yang menarik perhatiannya hanyalah Mentari yang duduk di sampingnya.
"Geulis, kasih semangat akang dong biar nyetirnya hati-hati." seloroh Pram, tersenyum usil, dihidupnya klakson untuk sekali lagi pamitan dengan Joko dan Purwati yang melambaikan tangan, melepas kepergian mereka dengan senyum.
Mobil perlahan-lahan keluar dari halaman losmen, sebelum kemudian melesat cepat ke arah barat. Namun tetap saya Mentari diam. Malu memberi semangat untuk Pram di tengah teman-temannya. Apalagi dua laki-laki pembuat onar yang jelas-jelas tahu seluk beluk kisah cintanya dengan Bisma semenjak mereka pacaran.
"Ya udah kalo gak mau nyemangatin aku," kata Pram sedih, "cuma kalo kebelet pipis ngomong bisa kan, gue gak mau mobil gue pesing gara-gara ada yang ngompol di celana, apalagi tuh yang paling belakang. Muka kusut bener!"
Tegar langsung melotot tak bisa berbuat apa-apa. Makanya selama perjalanan menuju Jakarta dia hanya membisu sambil makan cemilan yang mereka bawa untuk bekal.
Setengah perjalanan terlewati dengan pertanyaan Dara sebagai dominan tentang apa yang mereka lewati. Pram menghentikan mobilnya di rest area. Tegar akhirnya lari lintang-pukang menuju kamar mandi.
Pram terkekeh, karena butuh waktu untuk merebahkan punggungnya dia memilih mengubah posisi jok mobilnya.
"Butuh kopi, Pram?" tanya Mentari, si enggan pergi dari mobil.
"Boleh, Tar. Tapi gue lebih butuh kamu biar melek sampe besok pagi. He–,"
Pram tersenyum lebar.
"Pilih dong, aku apa kopi? Atau dua-duanya?" tawar Mentari, membuat posisi Pram jadi tegak kembali.
"Dua-duanya lebih mantap!"
Mentari mengangguk, dia keluar untuk membasuh muka dan membeli kopi. Setengah jam kemudian, waktu istirahat selesai. Pram kembali memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Jakarta, di temani si gemes yang tetap terjaga meski sesekali matanya terpejam.
Pram mengelus puncak kepalanya. "Tidur aja, gue gak papa!"
•••
to be continue and happy reading.
__ADS_1