
Mentari menuruni anak tangga dengan hati-hati. Sadar, keberadaannya tak mungkin mengelak lagi. Dia setuju untuk kenalan dengan Asih dan Bagyo di Jawa barat. Tapi nanti, setelah dia benar-benar yakin pertemuannya dengan Pram bukan hanya sekedar simbiosis mutualisme yang menguntungkan kedua pihak. Dan memang ada rasa yang tercipta akan kebersamaan mereka.
Sementara bagi Pram, rasa cinta dan sayang itu akan tercipta dengan sendirinya setelah deal kita jadian! Kenalan sama emak dan bapak. Berujung sebar undangan pernikahan. Mudah kan? Begitulah logika laki-laki bekerja. Yang penting ada kesepakatan dulu, toh pasti kebersamaan akan ada perhatian yang berimbas munculnya percaya.
"Ra, Mbok." panggil Mentari sambil mencari keberadaan dua wanita berbeda usia itu di lantai dasar.
Sum yang pertama kali sadar akan pencarian itu, mengeringkan tangan setelah membersihkan daging ayam dan sayur-sayuran.
"Ya, geulis." sahutnya sambil berjalan keluar dari dapur.
Mentari berbalik di depan mushola kecil, ia tersenyum rikuh seraya mendekati Mbok Sum yang melambai padanya.
"Sini ke dapur, masak-masak buat sarapan." ajak Sum, ia merasa terhibur dengan kehadiran Dara yang memeriahkan suasana dapur dengan suaranya yang seperti petasan renceng.
"Baik, Mbok." Mentari mengangguk sambil mengikutinya ke dapur. Dara meringis lalu menyerahkan spatula dan serok penggorengan ke tangan Mentari.
"Lanjutin ya, Tar. Aku mau mandi dulu. Syumuk..." akunya sambil tetap meringis geli sewaktu Mentari memanyunkan bibirnya. Ia meneruskan menggoreng tahu tempe. Di dekatnya, Sum mulai menumis bumbu instan yang kemudian aromanya menguar. Membuat perut langsung keroncongan.
"Masak apa, Mbok?" Mentari meniriskan gorengannya, sebelum memasukkan cabe, tomat, dan segenggam bawang merah putih ke dalam wajan.
"Soto, kamu bisa masak?" tanya Sum menelisik.
Mantu emak Asih harus bisa masak, walaupun detik itu juga, Sum sudah tahu siapa Mentari, darimana dia berasal, juga keberadaan Pram yang tidak pergi di Bali.
Mentari tersenyum percaya diri, soto mah gampang, kecil, batinnya sambil mengangguk tenang.
"Bisa, Mbok. Biar saya yang masak kalo Mbok ada kerjaan lain." Matanya memancarkan kehangatan, karena kadang-kadang, rasanya menyenangkan apabila kita dibutuhkan.
Sum langsung melepas celemek dari tubuhnya, lantas menggantungnya di belakang pintu dapur yang sangat idealis dengan pemilik rumah itu. Sepi, tanpa banyak perabotan dapur, cukup seadanya yang penting bisa di gunakan untuk masak.
"Mbok kudu siram-siram tanaman terus ke toko," Sum tersenyum, bohong dia, padahal niatnya cuma ngetes Mentari apakah benar-benar bisa masak atau enggak, "titip si kasep."
Mentari mengangguk sambil memasukkan potongan daging ayam ke dalam panci.
"Baik, Mbok." Ia menyunggingkan senyum walau dalam hati merutuk permintaan Mbok Sum yang lebay, "Udah gede banget masih dititipin segala, Mbok. Biarin aja kenapa! Dia itu kadal, makanya pada mudah di kadalin. Termasuk aku!"
Mentari membuang napas, melanjutkan memasak sarapan di rumah Pram yang sejujurnya detak jantungnya belum juga normal.
__ADS_1
"Sayang...,"
Suara tapak kaki yang menuruni anak tangga membuat si gemes menelengkan kepala meski tangannya sibuk mengulek sambel.
"Tar, di mana?" teriak Pram sambil berkacak pinggang.
"Dapur, om!" teriak Dara dari kamar.
Mentari mendengus sewaktu Pram dengan cepat nongol di ambang pintu.
"Hei, rajinnya..., Masak apa nih calon istri?" Pram meringis, mata jenakanya menatap semua yang ada di meja makan. Baru ada sambel yang di ulek Mentari kuat-kuat dengan raut muka kesal, tempe dan tahu. Soto belum matang, masih mendidih di atas kompor.
"Makasih ya, udah bikin hati gue menghangat dengan keberadaanmu di sini."
Mentari mengangkat ulek yang masih belepotan sambel ke muka Pram.
"Ini lebih hangat, Pram. Mau?" serunya.
Pram terkekeh-kekeh sambil menurunkan ulek dari tangannya.
"Gak usah di paksa aku pasti mau, Tar. Masakanmu enak, lidahku cocok dengan selera masakanmu. Jadi kurang apa aku?"
Pram menyengir bodoh, betapa gila fantasinya sekarang akan gadis yang mencengkram pinggiran tempat masak itu. Belum mandi, bau perjalanan, rambut yang hanya di ikat asal-asalan tapi malah menambah kesan natural yang seksi. Apalagi tengkuk lehernya yang putih membuatnya tak kuasa menghirup aroma gadis itu dalam-dalam.
"Wish you were here with me." bisik Pram, suaranya terdengar rendah yang menggoda Mentari sampai meremang.
Mentari membeku di tepat, takut bergerak. Mundur nabrak, ke kanan nubruk tembok. Pilihannya hanya bergesek ke kiri, itu pun harus hati-hati biar tidak nyenggol tubuh Pram biar tidak membangkitkan yang tidak-tidak.
Mentari pura-pura berdehem sambil mematikan kompor. "Kayaknya udah mateng sotonya, Pram. Bisa minggir nggak? Panas nih, kesenggol panci bukan tanggung jawabku lho!" serunya asal-asalan. Lagian dipepet gitu nggak enak tahu. Bikin muka dan jantung udah kayak makan sambel doang tanpa nasi. Kepedesan, panas, terus merah.
"Aku juga panas." Pram ikut berdehem-dehem. Ia mundur teratur sampai membentur meja makan. Tak ayal, seperangkat alat makan yang letaknya di pinggir meja jatuh ke lantai.
Kontan Sum yang mengintai dari kamarnya langsung cabut ke dapur.
"Kunaon berisik?"
Pram dan Mentari yang memunguti sendok dan garpu di lantai meringis.
__ADS_1
"Tadi rebutan sendok mau suap-suapan, malah jatuh semua, Mbok. Maap yak." jawab Pram.
"Ya Allah Gusti Nu Agung, gitu aja rebutan kayak budak kecil. Sudah nanti suap-suapannya gantian, nggak usah rebutan gitu, malu sama umur rebutan!" Sum mengibaskan tangannya. "Sana-sana, biar Mbok yang beresin."
Sum berlutut, sementara keduanya langsung berdiri.
"CK, kena lagi." Pram tertawa penuh kemenangan dalam hati. Tapi sewaktu melihat muka si gemes cemberut dia menyudahi senyum andalannya.
"Mandi gih, biar geulis."
"Belum mandi aja kamu suka, apalagi geulis. Mabuk kamu Pram sama aku!" seru Mentari sambil lalu.
Pram membuntutinya sambil terkekeh-kekeh. Geli akan kepercayaan diri si gemes yang luar biasa membuatnya yakin, gadis itu paham dengan bahasa tubuhnya. Bahwa jantungnya juga berdetak keras seperti jantungnya.
"Emang kamu enggak?"
Mentari memegang pintu sambil menoleh. "Kalo aku mabuk sama kamu, aku akan membelah dada ku sendiri dan menulis nama mu di sana! Di jantungku, tapi aku belum mabuk kok. Aku masih sadar." cerocosnya terang-terangan.
Pram terbahak lagi lalu lelah sendiri. Dia berhenti, menghela napas.
"Oke deh kalo gitu, aku bakal bikin kamu mabuk cinta sama aku. Sampai aku lihat sendiri gimana kamu belah dada mu demi mentato nama ku di jantungmu. Huahaha, aku tunggu belah dada mu!"
"Pram!" kata Mentari tajam.
Pram tersenyum lebar. "Kenapa, takut?"
Mentari menggeleng cepat. Tidak ada yang perlu di takutkan, tapi ini soal taruhan rasa. Rasanya nggak mungkin harus berkompetisi untuk menunjukkan siapa yang lebih mencintai dan sungguh-sungguh.
"Ini bukan kompetisi," Mentari melepas gagang pintu, lalu menatap Pram dengan kecanggungan berlebih, "mau nggak kita apa adanya tanpa perlu drama-drama lagi?"
"Ide bagus!" Pram langsung mengacungkan jempolnya di depan hidung Mentari, bahkan juga mencubit hidung itu dengan gemas. "Karena semakin kita apa adanya, semakin gue yakin kita jauh dari kepura-puraan!"
Pram bersiul keras. Hingga Mentari sadar, dia sendiri yang selama ini penuh kepura-puraan. Sementara Pram tidak, laki-laki itu slalu terbuka, tengil dan berani!
Mentari mengerang lelah, dia masuk ke kamarnya dengan lemas tanpa memperdulikan Pram yang melongok ke dalam.
"Selamat menikmati fasilitas kamar ini, Mentari. Semoga betah."
__ADS_1
Mentari mendesis lantas menjatuhkan diri di kasur dengan posisi tengkurap.
"Kena lagi! Ampun dah."