Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Istimewa.


__ADS_3

"Mak, buka pintunya. Mak, aing mau modol. Cepetan buka pintunya, Mak! Nggak tahan ini mau meledak!" teriak Pram sambil menggedor-gedor pintu kamar. Perutnya terasa melilit kebanyakan sambal sewaktu makan malam.


"Mak, Aa tuh ngapain sih. Brisik banget mau modol aja pakai teriak-teriak." pekik Salsabila sambil menuruni anak tangga. Adik bontot Pram itu masih menggunakan baju tidur berbahan satin.


"Subuh-subuh sudah bikin gaduh," rutuk Asih sambil menoleh ke arah kamar tamu saat Mentari ikut heran dengan keributan dari kamar atasnya.


"Geulis, buka pintunya si kasep. Kuncinya ada di meja, dekat tipi. Emak harus sholat, sudah tanggung."


"Emak ngunci kamarnya, Aa?" tanya Salsabila mengiringi anggukan Mentari. Gadis itu menaiki anak tangga dengan muka geli sewaktu Asih berkata iya lengkap dengan alasannya. "Aa-mu tadi malam ngetime di kamar si geulis, bahaya kalo nggak di kunci, Bil. Bahaya!"


Mentari mencari-cari letak televisi bebarengan dengan teriak Pram dan kekehan Salsabila.


"Sabar kali, Aa. Lagian mau modol apaan sih, gitu amat paniknya!" Mentari berbelok ke kanan setelah melewati lorong bertembok terakota. Buru-buru dia mencari kuncinya di dekat televisi. "Dapat,"


Mentari menjejalkan kuncinya ke lubang pintu dan memutarnya. Sepersekian detik itu, Pram langsung menariknya gagang pintu cepat-cepat penuh tenaga. Sambil kebelet dia menyunggingkan senyum menatap Mentari yang mengibaskan tangannya di depan hidung.


"Maap, sayang.... Bomnya habis meledak." Kocar-kacir Pram melesat ke kamar mandi, Mentari mendengus sambil melongok ke dalam kamar Pram. Suasana temaram lampu kamar di tambah aromaterapi teh itu menarik perhatiannya.


Mentari melangkahkan kakinya ke kamar Pram. Ia termangu di depan tembok yang bergambar sebuah graffiti wajah seorang perempuan dengan tambahan tulisan, “love and hate.”


Mentari mendudukkan dirinya di tepi ranjang setelah merapikan kasur Pram yang berantakan. Dia menunggu laki-laki itu selesai menuntaskan panggilan alam.


Di kamar mandi, Pram menguap lebar-lebar. Berhubung sudah plong rasanya dan mau mandi dia berjalan ke kamar tanpa ada firasat apapun untuk mengambil handu


"Eh," Pram tersentak dengan keberadaan perempuan cantik yang menunggunya lebih dari lima belas menit itu duduk terdiam di kamarnya.


"Jadi modol itu bab?" tanya Mentari memastikan.


Pram balas tersenyum lebar di hadapannya meski dia resah dengan tatapan Mentari. "Kok nggak turun?" tanyanya sambil meraih handuk di gantungan baju.


"Pengen di sini, penasaran sama kamar kamu." Mentari tersenyum lebar dengan pandangan mata beralih ke lukisan tembok itu. "Cinta banget ya sama Tatiana?"


Pram menyampirkan handuknya di bahu seraya menyusul Mentari yang terus mendekati tembok yang sudah mengelupas sebagian catnya, graffiti itu sudah buruk, tapi ternyata Mentari masih bisa meraba siapa perempuan itu.


"Aku slalu cinta banget dengan perempuan yang menjadi milikku, kenapa?" tanya Pram, mengusapkan tangannya di bagian cat-cat yang mengering hingga cat-cat itu rontok secara bergantian, membuat wajah Tatiana semakin buruk rupa.

__ADS_1


Dari sudut matanya, Mentari cuma diam dengan pandangan mata membaca. Pram jadi merasa bersalah. Pasalnya kamar ini memang sudah tidak pernah di gunakan setelah dia kuliah dan kerja di Jakarta. Apalagi oleh orang tuanya tidak pernah di renovasi.


"Sesak dadamu sekarang lihat ini?" tanyanya sambil mengelus sisa pipi Tatiana di tembok.


Mentari menoleh, "Iya sedikit, tapi apa kamu masih nyaman harus lihat ini? Bukannya dia jahat."


Jakun Pram bergerak-gerak, sisa subuh semakin menipis. Belum mandi, detik yang bergulir itu terasa seperti menit yang lama. Dia harus buru-buru menuntaskan kewajibannya. Pram mengulurkan tangannya, memegang kepala Mentari.


"Kalo udah nggak ada rasa itu akan biasa-biasa aja, Tar. Jadi maap ya, pagi-pagi udah di kasih kejutan ini. Ntar di bersihin."


Mentari meringis dan mendekat. "Beneran nggak papa? Nggak ada tusukan kecil di hatimu gitu ingat Tatiana?"


Pram bersiul seperti burung-burung yang mulai berkicau nan merdu di dalam sangkar. Senang di perhatikan, di curigai gitu. Pertanda Mentari sudah ada rasa, uhuyyy..., Jalan terus pokoknamah.


Pram mengelus kepala Mentari lagi. Tatiana udah nggak penting lagi, Tar. Ini cuma sisa-sisa kenangan yang nggak berimbas apapun buat gue.


"Sudah!" Pram mendekat, "turun gih, aku harus mandi. Lagian lama-lama di sini emak nanti patrolinya lagi. Ogah gue di kurung lagi." eluhnya sambil menunduk. Mentari yang sudah mandi, sudah nggak tahu lagi mau ngomong apalagi tentang Mentari.


Dia memberanikan diri menyentuh dagu Mentari, Pram tersenyum.


Mentari jadi cekikikan waktu Pram hendak kembali ingin mencuri kesempatan untuk menciumnya lagi.


"Bener kata Salsabila dan Mbok Sum, Aa Pram soang jablay." Mentari mundur satu langkah, "Udah mandi sana. Aku mau ikutan masak di dapur. Aa, mau makan apa?"


Pram berdecap-decap, "Dikit aja. Pesangon sebelum pisah." rayunya.


Mentari makin terkekeh-kekeh dengan sorot mata berbinar-binar, dia terhibur dengan gelagat laki-laki ini yang susah-susah ingin menciumnya.


"Iya boleh dikit aja." Mentari tersenyum.


Pram tepuk tangan seperti bocah yang di kasih surprise. "Panas ini," Pram mengusap-usap telapak tangan, ancang-ancang, baru juga meraih pinggang Mentari, Asih sudah teriak-teriak di bawah.


Mentari terkekeh lagi sambil memeluk Pram. "Nanti ya, di kamar pengantin. Bukan di kamar ini."


Pram mengembuskan napasnya.

__ADS_1


"Buruan turun, emak bawel ntar. Gue lagi yang disalahin." bisik Pram.


Mentari melepas pelukannya sambil memaku tatapannya di mata Pram, Mentari mendekatkan wajahnya. Alih-alih memejamkan matanya, Pram melebarkan matanya seperti melihat penampakan, Mentari tersenyum malu-malu seraya mengecup rahang Pram dengan cepat sebelum melengos keluar.


Mentari berbalik di ambang pintu. "Istimewa."


Pram mengusap rahangnya yang berewokan, dia menyunggingkan senyum malu.


"Akhirnya pipi gue nggak perjaka lagi, jadi makin greget gue sama tuh cewek."


Pram bersiul sepanjang lorong bertembok terakota itu, mandi, menuntaskan kewajibannya sebelum turun ke bawah. Menemui Mentari di dapur.


"Sayang, kopi dong." pintanya, duduk di samping Mentari.


Asih yang baru mengeluarkan bahan masakan dari lemari es mencibir.


"Mulai manja, mulai apa-apa minta di layani. Baru juga calon udah di suruh-suruh bikin kopi."


Pram menggenggam tangan Mentari di bawah meja. "Emak sih nggak tau aja, Mentari tadi udah beresin kamar Pram. Jadi nggak masalah cuma minta kopi doang."


"Ya udah kalo gitu sekalian bikin untuk semuanya aja, emak dan bapak teh tawar panas, yang lainnya sesukanya neng geulis aja mau bikin apa. Kami terima kasih, senang pokoknamah." Asih meringis.


Pram jadi cengengesan melihat muka Mentari yang terkejut. Biar pun kaget dengan pesan terbuka itu, Mentari tetap melakukan semuanya, ikut memasak sarapan sebelum keluar dari rumah Bagyo untuk menyaksikan pagi hari di kampung halaman Pram.


"Tunggu bentar, Tar. Aku ambil mobilnya bapak dulu."


Mentari bergeming di pinggir tiang listrik, menyaksikan bagaimana hamparan sawah membentang luas di depan rumah “Juragan Bagyo” seakan alam menjadi saksi dimana ia terperangah melihat mobil dua pintu yang tak lain adalah mobil pick up berisi tong besar berwarna biru.


"Hayu, jalan. Harus kerja nih Aa ke empang." seloroh Pram sambil melongok keluar dari jendela mobil. Mentari meringis geli sambil melangkah mendekat, pantas Pram tadi bawa handuk kecil segala di lehernya.


"Beneran kerja, Aa?" Mentari bertanya.


"Lah iya sayang, mau nikah nih gue. Seserahan pernikahan gue nggak mungkin tipis! Juragan..." Pram menepuk-nepuk dadanya dengan jumawa seraya menggerakkan persneling mobil dan menekan pedal gas dan kopling, membawa Mentari berkeliling kampung halamannya dengan percaya diri. Bentar lagi nikah cuy, nggak ada lagi beban buat mengelak pertanyaan kapan nikah, Pram. Aman pokoknya sekarang, bisa pamer ayang.


•••

__ADS_1


To be continue and happy reading.


__ADS_2