Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Ketiban sial.


__ADS_3

Keesokan harinya. Suara burung yang berkicau di dahan pohon yang terdengar begitu merdu mendadak buyar ketika suara motor RX-King Joko yang berisik berpendar dari arah gerbang.


Pram tersenyum cerah, Joko dan Purwati sedikit memberinya kesempatan untuk join ke dalam keluarga mereka dengan syarat-syarat yang mudah sekali ia turutin.


Pram yakin didikan emak dan bapaknya yang alim akan dia pegang teguh sampai ijab kabul terlaksana. Setelah itu ya jelas beda lagi. Jadi perjaka sampai jadi pakdhe kan rasanya cenut-cenut tak tahan untuk melancarkan sirkulasi di bagian inti tubuhnya yang mati-matian dia jaga sepenuh hati. Walau dulu pernah menjadi sasaran bola nyasar yang kontan membuatnya panas dingin.


"Sudah pulang, pak, bu?" tanya Pram yang sudah nongkrong di depan losmen meski jam masih menunjukkan jam setengah enam. Sudah pakai celana training dan kaos oblong siap jogging.


"Lha iya to dik Pram, masa iya nginep terus di tempat Mbakyu. Nanti kamu sama Tari main terus, " gurau Joko sembari menurunkan keranjang besi dari motor. "Dik Pram mau olahraga?" tanya Joko kemudian.


"Joging pak, kebanyakan makan. Takut megar!" akunya lalu meringis.


"Ajak si Tari sama Dara itu lho dik Pram, biar rame-rame dan tidak kesasar. Lagian Tari itu kalo gak ada tamu kerjaannya bangun siang, makan, duduk-duduk." Joko geleng-geleng kepala, "bapak takut, tidak ada yang mau. Ribet to nanti dik urusannya, anak cuma satu. Huh!"


Joko menghela napas. Keresahannya sebagai orang tua sebelas dua belas dengan Asih, karena wajar di usia yang kebanyakan saat reuni teman-teman sudah bawa anak. Satu, dua, atau masih dalam kandungan. Apalagi di wilayah kaki gunung, bukan rahasia lagi jika banyak yang melangsungkan pernikahan dini. Hingga sedikit saja telat nikah, mana di tambah gagal nikah, akan menimbulkan rumor kabar kurang sedap dari para netizen maha benar meski Joko lebih bijak menghadapi situasi itu ketimbang Asih.


Pram yang baru stretching kontan mengangguk setuju dengan ide pak Joko. Membangunkan Mentari dan joging bersamanya. Tapi tidak perlu ada Dara, pasti rusuh dan bikin gedeg.


"Mentari paling-paling capek pak habis ke Dieng kemarin. Jadi biarin saja bangun siang." katanya, biar terlihat pengertian.


Joko menggeleng, di balik pengertiannya dik Pram yang telah dia telaah sendiri menurut kamus masa lalunya, Joko tahu, meski tidak begitu besar, ada ketertarikan dari mata dik Pram itu untuk anaknya.


Makanya diam-diam dia juga punya rencana sendiri untuk mendekatkan anaknya dengan tamunya ini. Tentu tanpa Pram ketahui dan Mentari ketahui. Kalem yang penting jadi. Insyaallah sah, karena wong jowo bilang alon-alon asal kelakon dan witing tresno jalaran soko kulino. Semoga.


Joko tersenyum. "Tapi biasanya kalo ada tamu Tari udah bangun dik Pram, bapak panggilkan dulu ya."


Purwati yang sudah bersama Mentari dan Dara menoleh sewaktu Joko masuk ke dapur membawa keranjang besinya.


"Tari, kamu udah ngasih layanan kamar untuk dik Pram?" tanya Joko dengan sikap serius, "dik Pram tadi ketemu bapak di luar dan bilang kamu belum memberikan layanan kamar pagi! Bukannya itu termasuk protes?"


Mentari tercengang, sejak kapan dia ngasih layanan kamar pagi jam segini. Bahkan semalam suntuk ia kurang tidur, mikir Pram, ceritanya, ledekannya dan ambisinya sendiri untuk menyangkal semua ucapan Pram yang kadang benar. Mana di kira udah lama jomblo dan jarang di rayu, itu pelecehan secara verbal yang membuatnya gedeg sendiri meski itu benar. Seratus persen benar, menyebalkan emang si Pram itu.

__ADS_1


"Adowhh!" pekik Mentari seraya mengusap telinganya yang panas dibarengi tawa Dara yang semakin membuatnya darha tinggi, "bapak kenapa jewer telingaku, aku gak salah juga." katanya jengkel.


"Katanya kalo ada yang protes itu artinya losmen tidak memberi layanan yang baik, kamu ingat to pernah bicara itu sama bapak dan ibuk?" jawab Joko. Melepas jaketnya seraya menyampirkannya ke paku yang terpasang di samping lemari es.


"Ya ingat, tapi gak perlu di jewer juga pak! Pram aja tuh yang gak sabar. Lagian biasanya jam tujuh kok layanan kamarnya, itu pun jam paling pagi sekalian bersih-bersih kamar!" tukas Mentari membela diri.


Joko tetap keras kepala pada rencananya, membuat putrinya jogging dengan Pram.


"Itu berarti kamu yang harus menyesuaikan tamu bangun jam berapa, Tari."


Mentari terperangah, wajahnya benar-benar kalap, "Ya gak bisa gitu pak, ada jadwalnya. Masak iya Pram bangun subuh-subuh aku juga bangun jam segitu. Mau ngapain, ngepel genteng gelap-gelapan?" jawabnya ketus, Pram lagi Pram lagi. Benar-benar dah, makhluk satu ini harus segera dia atasi.


"Sudah-sudah temui dik Pram dan bawakan teh hangat!"


"Gak mau, ibuk aja tuh apa Dara, kalian kecipratan gaji juga." tolak Mentari sambil bersedekap.


"Pelanggaran, aku gak mau! Kepalaku masih pusing gara-gara kejedot tembok. Lagian kamu kemarin habis piknik kan, Tar. Masak sekarang kerjaan harus aku sama ibuk. Gak kasian sama kita? Udah capek-capek di acara nikahan sekarang masih harus ngurus Om Pram yang jelas-jelas itu urusanmu–uwww." balas Dara sambil memasang wajah yang lebih garang dari Mentari.


Kalah mutlak, Mentari menatap ibunya yang berwajah lesu dan benar-benar capek.


Dara dan Joko menimpalinya dengan anggukan tegas. Maka makin tersudutlah si Tari yang masih memakai baby doll itu.


"Ya udah – ya udah, cukup. Aku buatin tehnya dulu. Tapi janji kalian diam."


Joko yang sudah curi start menyeduh teh langsung menaruh dua cangkir teh hangat di depan Mentari.


"Satunya buat kamu, Nduk." kata Joko kalem.


Mentari mendengus sambil menghentakkan kakinya kuat-kuat di lantai. Kesal, bapaknya sudah kena pengaruh baik Pram, jadi apapun yang laki-laki itu katakan semua terasa betul.


"Bapak nyebelin!" seru Mentari sambil mengangkat dua cawan tehnya, dibalikkan badannya dengan kesal, diiringi senyum geli sang bapak, Mentari keluar dari dapur.

__ADS_1


Pram menoleh sewaktu suara sendal yang di pakai Mentari itu begitu kentara suaranya. Bag-bug-bag-bug, seolah di pakai raksasa yang baru marah.


"Geulis, udah bangun?"


"Pura-pura nanya, nih teh hangat untuk dik Pram!"


Pram yang sejak tadi terus melakukan pemanasan tersenyum lebar seraya menyeka keringatnya sendiri.


"Makasih, dik Tari." Diambilnya teh dari atas cawan dan meneguknya langsung. "Anget, mirip mentari pagi yang bentar lagi senyum ke bumi." katanya sambil menaruh cangkir tehnya kembali ke cawan.


Mentari memalingkan wajah. "Emang bener, ini orang bisa banget ngomongnya." cecarnya dalam hati.


"Katanya mau ikutan joging, kok belum siap-siap?" Pram mengernyit.


"Siapa yang mau joging sama kamu, sana joging sendiri!" usir Mentari sambil menggerakkan dagunya.


"Gak ah, nanti ada yang khawatir lagi terus nyusul gue lagi." jawab Pram, tersenyum sembari mengedipkan sebelah matanya.


Blush, Mentari kena lagi. Tapi demi menyangkal ucapan Pram. Mentari menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


"Aku gak khawatir kok, jadi kalo mau joging – joging aja sana. Pastiin aja gak nyasar dan ujungnya ngerepotin banyak orang!" ucap Mentari sarkasme.


Pram terkejut, tapi bala bantuan datang disaat yang tepat. Joko keluar, membawakan sepatu olahraga Mentari yang memang suka ikut senam Minggu pagi.


"Bapak lupa tadi, Tari. Kamu temani dik Pram lari-lari." kata Joko, menaruh sepatu Mentari di depan kaki anaknya langsung.


Rasanya Mentari ingin sekali memecahkan dua cangkir dia pegang sekarang juga.


"Apa perlu bantuan untuk pake sepatunya, Tar?" goda Pram. Masalahnya Joko masih di sana, menunggu anaknya benar-benar pergi joging.


"Gak perlu, aku bisa sendiri!" jawab Mentari sinis. Diserahkannya dua cangkir itu ke tangan bapaknya yang menahan senyum, lalu sendal yang di lepas dengan tenaga dalam itu terlempar sampai ke atas mobil Pram.

__ADS_1


Dipakainya sepatu cepat-cepat lalu berdiri, sedekap.


"AYO JOGING!"


__ADS_2