Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Bibirmu mirip sisik ikan nila.


__ADS_3

Pram mengetuk pintu kamar tamu yang didiami gadisnya selang setengah jam berlalu.


"Tari, mandi atau ngapain sih lama amat!" celetuknya tak sabar. "Aku udah laper banget oiii, anak-anak juga udah nungguin di dapur! Buruan gih keluar."


Mentari memasang jepitan rambut bermotif kepik, kumbang kecil berwarna merah dan memiliki totol-totol hitam di sayap mungilnya.


Meski sudah mengalah untuk tidak berkompetisi lagi, Mentari yang apa adanya memang belum di kenal Pram dengan baik. Gadis itu pandai bersolek, bersilat lidah pun dia pintar, terlebih basicnya yang seorang pekerja perhotelan memang cocok untuk di jadikan calon mantu keluarga Asih dan Bagyo. Selain ramah dan ulet, kejujuran merupakan sifat mendasar yang di milikinya. Dan ada adanya bukan melulu soal cuek akan penampilan, memakai barang yang apa adanya, itu salah, kembali ke apa adanya tanpa adanya kepura-puraan justru membuat Mentari kembali percaya diri lagi.


"Buruan, Tar. Atau jangan-jangan kamu ketiduran?"


Pram menurunkan gagang pintu, di saat itu juga Mentari langsung menghentikan aktivitasnya di depan cermin bundar, ia berjalan ke arah pintu seraya menarik gagang pintu dari dalam.


Bisa di bayangkan, reaksi Pram melihat Mentari? Pram mengulum senyum sembari memandangi penampilan gadis yang terus-terusan ia panggil dari ujung kaki sampai ujung kepala. Terlihat masih sederhana meski lebih berani bermain make up. Begitulah penilaian awam Pram mengenai dandanan ala putrinya pak Joko.


"Gak perlu minum-minuman keras aku bakal teler lihat bibir kamu, Tar!" selorohnya sambil mengerling nakal. "Bibirmu mirip sisik ikan nila, cerah, berkilau. Pake lip gloss?" pujinya sembari tersenyum lebar.


"Lip gloss? Kok tau?" Kontan Mentari menyipit curiga, jangan-jangan...,


"Adek gue punya kayak gitu, yang paling bontot seumuran kamu. Udah merit, tapi masih minta uang jajan ke gue. Jadi kalo habis belanja gue tanya beli apa aja, dia tunjukkin satu-satu! Termasuk lip gloss tuh yang bikin bibir berkilau dan sehat!" timpal Pram sewaktu muka si gemes mengandung curiga.


"Oh, aku kira kamu diem-diem juga punya lip gloss. Mau tau aja rasanya yang apa." elaknya sambil mendengus. Untung cuma adik, coba kalau mantan gebetan, meradang itu hati.


"Emang ada rasanya?" Pram heran, "Masa sih? Emang enak?"


Mentari mengangguk sambil membasahi bibirnya.

__ADS_1


"Iya, biasanya rasa buah-buahan!" Muka setengah polos itu langsung terkejut saat Pram mencondongkan tubuhnya di depan muka, persis.


"Mana gue coba kayak seger nih, rasa jeruk." serunya yang langsung membuat pipi Mentari merona.


"First kiss and ever." Pram mendekatkan wajahnya.


"Kasepppp, kunaon kayak gitu!" teriak Sum dari ambang pintu dapur.


Pram langsung menoleh dan memutar tubuhnya dengan mata yang melebar.


"Kunaon, Mbok?" Meski sempat terkesiap, Pram tersenyum lebar sambil menghampirinya.


"Dosa atuh, nikah dulu baru boleh kayak gituan. Emak nanti marah tau lihat kasep kayak gitu-gitu, nih si geulis juga. Tabok mukanya kalo si kasep teh nakal!"


Mentari mengangguk, tadinya kalau memang Pram bener-bener akan menciumnya sudah ia siapkan bogem mentah untuk menghajarnya. Mbok gak tau sih, batinnya sambil membuntuti Pram.


Sum menabok punggung Pram dengan muka kesal.


"Alasan! Mbok juga tau muda, tau begitu-begitu sama Aa dulu. Kamu ish, buruan ngomong sama emak biar tidak perlu gitu-gitu!" Sum terus melanjutkan ocehannya di dapur sampai Tegar dan Danang terbengong-bengong mendengarnya.


Pram lalu mendesah panjang. Tahu perbuatnya tadi memang nekat, namun karena adanya pendekatan terlebih dahulu dan piknik yang di inginkan Dara. Ia terpaksa mengundur pertemuannya dengan Asih.


"Siap, Mbok, siap, doanya dan kasih waktu seminggu lagi atuh buat seneng-seneng dulu sama geulis, habis itu Pram janji ngomong sama emak di rumah sana sekalian nganter Mbok pulang kampung. Setuju?"


Sum manggut-manggut, sarapan pun berjalan dengan lancar tanpa adanya kritikan dari Sum akan masakan Mentari dengan arti dia lolos seleksi jadi mantu emak Asih.

__ADS_1


Pram mendorong mundur kursinya, lalu berdiri. Perutnya yang sudah kenyang membuat kantuk datang semakin besar.


"Berhubung gue belum tidur dari tadi malam, gue mau bobok manis dulu di kamar gue. Kalian berempat terserah mau apa, tapi jangan keluar rumah, bahaya!"


Pram menatap lurus Tegar dan Danang dengan tajam. Lalu tatapannya beralih ke Mentari sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Baik-baik ya di sini, nanti sore kita jalan-jalan."


"Yeyyyy, jalan-jalan, jalan-jalan!" sorak Dara, kelebihan energi.


Pram memberikan senyum lembut, gak papa kalau Mentari no respon. Yang penting Dara setuju, karena bagaimana pun mereka satu paket.


"Ya udah, gue tinggal ke atas. Kalo kangen masuk aja. Pintu kamarku terbuka untukmu, saya—adowhh, Mbok!" pekik Pram kaget, lalu meringis menahan sakit.


"Jangan macem-macem!" Sum mencubit lagi pinggang Pram. "Sana tidur, di kunci kamarnya!"


Pram mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Mentari.


"Gue tinggal bentar, jangan kangen."


Mentari memutar bola matanya jengah sambil mengangguk.


"Lagian siapa yang kangen cuma di tinggal tidur doang, tapi," pikir Mentari sambil memandangi punggung Pram yang berlalu keluar dari dapur dan menghilang, menapaki anak tangga yang pasti langsung masuk kamar.


"Tapi, apa mungkin sikap apa adanya Pram kayak gitu? Romantisme-nya berlebih?"

__ADS_1


•••


To be continue and happy reading.


__ADS_2