Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Pengen ikut, boleh?


__ADS_3

Dapur yang sejatinya akan ramai dengan kegiatan masak-masak yang dilakukan Purwati ketika ada tamu losmen menginap sekarang terlihat sama seperti beberapa hari belakangan, sepi.


Entah Mentari harus bersyukur atau tidak akan kedatangan tamu yang sangat santai itu dan berminat tanpa ragu untuk memakan apa saja tanpa permintaan aneh. Mentari cuma bisa memastikan hari ini tidak ada pengeluaran. Cukuplah sore ini salam pembuka dari losmen idaman untuk Pram ia tambahkan pencuci mulut.


Satu butir apel yang berteman dengan secangkir kopi hitam yang panas.


"Saos extra pedas mungkin cuma alasannya aja karena sudah lapar banget, mungkin, karena kelihatannya Pram itu gragas. Apa-apa doyan." Mentari mengomel sembari mengangkat nampan besar.


Dia menghela napas sewaktu didapatin laki-laki itu masih duduk-duduk di taman, menunggu dengan sabar dan senyum ceria.


"Harus banget ya makan bareng? Ya Allah, niat mau mencari ketenangan tapi ujung-ujungnya ngeribetin juga kan, Pram. Dasar." rutuk Mentari dalam hati.


Kemudian ia menyunggingkan senyum formal di jarak yang aman dari laki-laki berwajah ganteng dan habis mencukur brewoknya itu. Lumayan rapi ketimbang waktu jumpa tadi pagi.


"Mau makan disini atau di ruang makan, Pram?" tanya Mentari.


"Disini ajalah, seger, di dalam kalau cuma berduaan aku jadi canggung." aku Pram.


Itu basa-basi yang sempurna karena tentunya Pram punya maksud tersendiri, tapi bagi Mentari yang slalu memasang alarm waspada ketika melayani tamu laki-laki terlebih dimana orang tuanya sedang tidak ada di rumah, dia tentu senang sekali Pram memilih makan di taman.


"Baik." Mentari menaruh nampannya di kursi, "sebentar aku ambilkan air putih dulu."


Pram mengangguk, melihat apa yang disajikan Mentari lalu tersenyum.


"Apel merahnya jadi penghibur di antara sayur orak-arik dan ayam goreng sisa acara sunatan ini. But well, kita nikmati saja, apalagi di temani gadis cantik. Mayanlah, sedep daripada ngayal pacar bohongan."

__ADS_1


Pram manggut-manggut. Sementara Mentari menatap bingung sambil membawa segelas air putih dingin untuknya.


"Ada apa, Pram?"


"Ehm gak, gak ada apa-apa tuh." kilah Pram, padahal mukanya jelas-jelas menunjukkan tabiat usil.


Mentari tersenyum. Sudahi basa-basinya biar cepetan selesai, pikirnya sambil duduk.


"Silahkan dimakan, Pram. Kalau rasanya tidak begitu enak, tolong maklum ya. Nanti makan malamnya ibu buatkan yang enak." janji Mentari.


Menunggu Pram segera mengambil porsinya karena porsi yang ia bawa dari panti asuhan tadi memang hanya sedikit.


"Oke, santai aja yang penting gak bikin aku keracunan. Cuma kalau malam-malam aku jarang makan nasi. Aku makan oatmeal sama susu protein tinggi." urainya


"Baik, nanti aku carikan oatmeal dan susu tinggi proteinnya untuk makan malamnya." kata Mentari, mengangkat muka.


"Serius? Kapan belinya? Pengen ikut sekalian jalan-jalan di wilayah sini." Pram mengatupkan kedua tangannya, mimik mukanya serasa ingin Mentari tonjok secepatnya. Gak lucu dan gak ingat berapa umurnya sekarang.


Dada Mentari mengembang sempurna sebelum udara terhembus panjang dari lubang hidungnya.


"Habis magrib. Aku harus makan dan mandi dulu, Pram."


Pram manggut-manggut. Begitu selesai anggukan kepalanya, Mentari meletakkan piring ke telapak tangan Pram yang menengadah.


"Terima kasih, Mentari. Rasanya aku seperti memiliki istri." selorohnya terang-terangan sewaktu Mentari dengan tekun menaruh makan sore ke piringnya.

__ADS_1


Mentari mengangkat wajahnya. "Maaf, aku terlalu dekat." katanya rikuh sembari menegakkan tubuh, memangku piringnya dan menaruh makan sorenya sendiri.


Sebelah alis Pram terangkat. "Bukan begitu maksudku, Mentari! Aku yang malah gak enak karena kamu benar-benar seperti ya..., sebagimana seorang istri melayani suami." urai Pram.


Bukan karena pernah merasakan langsung, bukan, Tatiana dulu manja, sering minta ini-itu dan justru ia yang melayaninya pagi, siang, malam sampai Asih heran mau dibawa kemana hubungan kalian?


Dengan berat hati Pram dan Tatiana bilang sepakat untuk pacaran dulu sampai semua terwujud, meski sempat di ragukan Asih, bujuk rayu Pram terbukti manjur. Hanya saja ternyata kepercayaan yang terus Pram berikan kepada Tatiana termentahkan akan skenario gadis cantik yang menyukai novel Harlequin yang bikin adem panas. Termentahkan akan rasa yang buta, termentahkan akan candu asmara dari kisah kasih sesaat yang di berikan Abrizam.


Hari biru membekukan hati Pram kemudian. Melepas ikhlas kisah yang bukan hanya sekedar mengubah cara pandangnya terhadap perempuan. Namun juga mengubah makna cinta yang sesungguhnya.


Mentari terbatuk. Seorang istri melayani suami? Apa sampai begitu kelihatannya? Mentari salah tingkah. Bukan karena apa-apa, itu sudah tugasnya sebagai pemilik losmen. Biarlah di anggap begitu toh tempat ini slalu hanya di jadikan persinggahan.


Tamu datang membawa kisah masing-masing dan tujuan masing-masing. Setelah itu pergi, meninggalkan uang dan setumpuk seprai, handuk dan bedcover yang harus di cuci.


"Pram, orak-arik telur itu akan segera basi kalau kamu gak segera memakannya dan bukannya kamu tadi punya asam lambung?" katanya mencari alasan.


Dan bagian penting dari dustanya sendiri langsung membuat Pram ingat dia punya asam lambung bohongan.


Pram mengelus perutnya sembari meringis. "Oh iya aku lupa punya asam lambung. Makasih ya Mentari sudah diingatkan." Pram terbahak mengingat ngarang dadakannya tidak pernah sukses ia ingat betul-betul, "ayo makan."


Dalam dua kepala yang menunduk sembari menyantap makan sore di bawah naungan pohon anggur banyak sekali hal yang berkicau. Sulit untuk memihak kepada sesuatu yang dimaksud suami-istri.


•••


To be continue and happy reading.

__ADS_1


__ADS_2