Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Menggoyangkan kearogananmu.


__ADS_3

Suasana temaram dalam kondisi gelap yang pekat di tambah suara burung hantu yang berkoak-koak di atas dahan pohon tak menyurutkan niat Tegar dan Danang untuk melakukan rencana jahat mereka di kolam ikan persembahan Pram untuk losmen idaman.


"Maju!" ujar Tegar sembari memandang sekeliling dengan was-was, di depannya Danang kontan melompati semak-semak yang menjadi tempat persembunyian mereka. Ia menolehkan kepalanya ke sana kesini seraya membungkukkan badannya dan berjalan mengendap-endap di antara pepohonan yang mengelilingi lahan losmen idaman dari sisi kanan losmen itu.


"Beneran ada ikannya," bisik Tegar di balik tumpukan kayu-kayu segar hasil tebang pohon tadi sore. "Dan, daripada di potas, gimana kalo kita jaring aja ikannya. Mayan tuh kalo gede bisa jadi lauk."


Danang yang sudah mengambil potas ikan dari kantong celananya menoleh cepat.


"Terus gimana Bisma mas? Kita baru bayaran setengah loh, lumayan juga mas bayarannya kalo gol malam ini." ucapnya dengan sangat pelaaannn.


Tegar langsung mengibaskan tangannya. Masa bodoh lah, karena ia tau perangai Bisma yang seorang pecundang.


"Gampang, dia gak berani ke sini buat cek kolam. Dia pasti ngumpet seperti biasanya, tapi kalo perlu bukti, ntar aja. Kita smbil jaring di rumah sama plastik habis itu baru di potas sebagian."


CK.


Tegar dan Danang berbalik. Bayangan mereka timbul-tenggelam di balik pepohonan sambil memandang awas sekeliling. Sejujurnya mereka salah prediksi, sudah lumrah mata-mata mengawasi dari balik tembok, balik pohon, atau di balik tameng lainnya.


Coba saja kalau mereka lihatnya ke atas pohon sambil cari wangsit. Mereka akan menemukan titisan burung hantu yang begitu awas mengamati setiap gerak-gerik mereka sambil menahan tawa.


"Udah pergi mereka, pak." kata Pram yang sekarang ngeri sendiri harus turun dari atas pohon.


Joko mengangguk dari dahan paling atas. "Biarkan saja dik Pram, ayo turun. Bapak sudah encok!"


"Tapi pak?" Pram mendongkak, ia senyum-senyum sendiri dengan konyol. Kakinya merinding dan rasanya benar-benar sudah melekat erat dengan batang pohon.


Joko geleng-geleng kepala. Merutuk kelakuan Pram yang tidak berani turun dari pohon meski sudah bergaya seperti ninja-ninja yang melompat dari pohon satu ke pohon lainnya dengan sarung yang di lilitkan di kepala.


"Ayo buruan dik Pram yang berani, jangan cuma berani gangguin si Tari!" seloroh pak Joko.

__ADS_1


Pram melepas pelukannya dari batang pohon, dia meneguk ludahnya dengan susah payah. Turun dari pohon rasanya lebih ekstrim ketimbang menerima kenyataan kalau malam itu sebagian ikannya telah di curi dan di potas oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Maka yang ia duga keesokan harinya terjadi juga.


Mentari menjerit histeris melihat ikan-ikan yang masih setinggi jari telunjuknya sudah pada menggelepar tak berada di atas kolam.


"Pram," Mentari meraih tangan kanan Pram dan menggenggamnya dengan rikuh. "Ikanmu mati gara-gara aku Pram, maaf kalo kamu kecewa."


Pram yang akan menjalankan rencananya memalingkan wajah. Bersikap sok cuek, marah, sedih, sampai-sampai Mentari yang melihatnya tambah sedih.


"Pram, maaf...," ulangnya, Mentari mencari fokus mata laki-laki itu dengan mengikuti arah pandang laki-laki yang mati-matian tidak luluh melihat kegigihan Mentari meminta maaf kepadanya.


Dengan berat hati dan sangat-sangat terpaksa melakukannya. Pram melepas tangannya dengan kelembutan yang dia jaga baik-baik tanpa menyinggung perasaan gadis itu.


Tapi namanya lagi gundah gulana, kelakuan Pram kepada Mentari bikin gadis itu mengerucutkan bibirnya, matanya pun jadi menghangat dan tak lama kemudian di penuhi air.


"Maaf, Tar. Aku butuh waktu." Pram menepuk bahu Mentari singkat, dia menggeleng pergi keluar losmen.


Mentari yang melihatnya menghilang meredupkan semangatnya.


Resah mendera jiwa gadis yang menjaring bangkai ikan dengan mimik sendu. Pelipur laranya sedang tidak bersahabat, maka kembali lagi sendu sendan menghiasi hari-harinya.


Pram menghela napas berat di samping pintu keluar. "Sori, Tar. Penjajakan ini butuh irama. Tidak selamanya gurau akan menyenangkan, contohnya aja prank!"


Pram menyunggingkan senyum seraya masuk ke dalam mobil. Rencananya kali ini harus berhasil, menggoyangkan kearoganan Bisma langsung di rumahnya.


Mentari menelengkan kepala sewaktu mesin mobil Pram menderu, semakin jauh semakin membuatnya tidak berminat bergerak dari tempatnya berdiri.


"Pram beneran marah." gumamnya tanpa tahu hikmah apa yang bisa ia petik setelah sendu yang menyerangnya tiba-tiba, begitu mengejutkan begitu mengubah senyuman Pram yang slalu laki-laki itu berikan.


Tiba di losmen milik keluarga Bisma. Pram tersenyum puas sewaktu kehadirannya langsung di sambut ceria oleh pengurus losmen Bu Desy.

__ADS_1


Pram langsung meminta satu kamar. Dia bilang akan menginap selama semalam untuk istirahat setelah perjalanan jauh.


"Baik mas, mari saya antar ke lantai dua!" ujar si pengurus losmen Bu Desy.


Pram mengikutinya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru losmen mencari laki-laki pecundang itu.


"Biar gue bikin jantung elo gak tenang, Bis!" batin Pram, kemudian ia tersenyum ramah setelah menerima kunci kamarnya.


"Kopi sama roti bakar saja, Bu." jawab Pram menyebutkan keinginan layanan kamarnya.


"Siap mas, tunggu sebentar!" Ibu dari Tegar dan Danang itu berbalik sewaktu Pram memanggilnya lagi.


"Ada apa mas?"


"Apa tamu bebas duduk-duduk di pendopo itu, Bu?" tanya Pram dengan muka malaikat dan senyum lebarnya.


"Silahkan mas, di belakang juga ada taman. Monggo, kalau mau santai-santai di luar kamar."


Itu yang gue mau.


Pram langsung mengutarakan niatnya untuk santai di pendopo saja yang jelas-jelas sebagai tempat keluar masuk losmen itu dan berharap Bisma nongol.


Laki-laki itu duduk dengan tidak tenang mengingat Mentari di rumah. Dia meraih kotak beludru putih dari kantong celana seraya menatap kilau berlian yang berpendar diterpa sinar matahari.


"Sebentar lagi kamu ada yang punya, itu kalo cepet urusannya, kalo lama sabar lagi Pram. Meluluhkan perawan desa yang dewasa memang susah. Jadi effort-nya lebih powerfull. Muach-muach...," Dikecupnya kotak beludru itu seolah mengecup Mentari sebagai pemanasan biar nggak gerogi.


Pram tersenyum geli dan suara motor yang memasuki halaman losmen Bu Desy membuatnya mendongkak. Pram tersenyum puas.


•••

__ADS_1


To be continue and happy reading.


__ADS_2