Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Akhirnya sah.


__ADS_3

Pagi yang berkabut menyambut keresahan Pram di hari bahagianya. Laki-laki yang semalam suntuk tidak bisa tidur itu duduk di tepi sofa.


“Nggak usah mandi boleh nggak nih, dingin banget cuyyy.” Pram menguap lebar-lebar seraya menyampirkan handuknya dan berjalan dengan malas-malasan ke kamar mandi, dengan iseng ia menyelupkan tangannya ke dalam bak. Brrrr, baru tangan doang yang kena air Pram sudah menggigil sendiri.


"Nggak berani-nggak berani. Takut masuk angin, cuyyy... Batal keren nanti malam pertama gue." Pram keluar dari kamar mandi seraya pergi ke rumah pribadi pak kades, minta air panas.


"Silahkan mandi di kamar mandi saya saja mas, tapi masih di pakai istri." kata pak kades.


"Siap, pak. Siap. Saya anaknya sabar kok." selorohnya sambil tersenyum.


Pak kades pergi ke dapur, sementara Pram menunggu dengan sabar di ruang tamu, di saat yang hening, terdengar pintu kamar yang berderit dan terbuka.


Pram tersenyum geli. Bisma, calon bapak itu keluar dengan memakai boxer dan kaos. Ia menguap lebar-lebar sambil merenggangkan tubuh dan baru sadar jika ada seseorang yang melihatnya setelah berbalik.


"Ngapain kamu di sini?" tanyanya dengan galak.


Pram memberikan senyum andalannya. "Maaf mas, mau numpang di kamar mandi. Di losmen penuh." urainya dengan santai.


Bisma menggeram kesal sambil mengacak-acak rambutnya. “Arghhh, brengsek,” makinya sambil mendekat, "Semua jadi berubah gara-gara kamu mas. Kok masih nggak tau diri berani-beraninya masuk ke sini. Nggak cukup apa sama yang sudah kamu lakuin? Sialan."


Pram mengeluarkan tangannya dari saku jaket seraya menekan sisi kursi, berdiri.


"Upaya Mentari buat lupa sama kamu dan kejadian malam tahun baru mungkin sudah berakhir sampai hari ini mas. Semoga, saya berdoa untuk itu sepanjang hari dengan sebisa mungkin mengambil hatinya. Tapi mungkin dia nggak akan lupa sepenuhnya. Semoga mas mengerti, dan bisa mengukur dalamnya rasa sakit hatinya!" Pram menepuk bahu Bisma, mencengkramnya, membuat jeda yang mencekam waktu. "Hentikan harapanmu buat menyentuh Mentari sedikit aja, atau habis semua milikmu!" ancamnya memperingati.


Bisma yang terbakar api amarah kontan meninju wajah Pram. Sialan, perkelahian antar ke dua laki-laki yang menaruh hati pada Mentari itu terjadi sampai-sampai semua barang di meja ruang tamu berjatuhan, prangg-pranggg, bunyi benda pecah dan suara orang gedebukan itu membuat pak kades yang baru menuangkan air panas ke dalam gelas terpogoh-pogoh ke ruang tamu.


"BISMA!" bentaknya keras. Menarik paksa anaknya yang sudah berdarah-darah hidungnya.


"Cukup mas!" kata pak kades dengan suara mengintimidasi.


Pram mengusap hidungnya yang mancung seraya menghela napas panjang.

__ADS_1


"Saya tidak akan mulai jika anak pak kades tidak memulainya." kata Pram lugas, "Dan saya akan mentolerir tindakan kekerasan dengan kekerasan. Apapun alasannya."


Pak kades menahan badan Bisma yang memberontak.


"Saya mengerti mas, itulah sebabnya saya mengizinkan penginapan ini untuk tempat singgah tamu pak Joko sebagai permintaan maaf saya. Bagaimana pun keluarga saya telah bersalah dengan batalnya hubungan baik antara kami dulu, jadi saya harap setelah menikah mas bisa membawa Mentari pergi dari kampung ini supaya semuanya baik-baik." Pak kades memaksakan senyum.


"Mentari nggak akan kemana-mana, yah, Mentari nggak akan kemana-mana!" teriak Bisma sambil terus memberontak.


"Monggo, silahkan mas mandi. Siap-siap, sepertinya tukang riasnya sudah datang." kata pak kades sewaktu terdengar suara “kulo nuwun” di depan pintu.


Pram meninggalkan rumah pak kades dengan hati yang keruh. Bener-bener batal keren nanti gue, muka udah memar, belum dada gue sakit, Bisma kayaknya punya dendam kesemuat sama gue. Tonjokannya tambah kuat.


Lepas dua jam bersiap-siap, Pram benar-benar sudah menjadi calon pengantin pria yang memakai pakaian adat Jawa. Meski tanpa bunga melati yang menjadi ciri khas seorang pengantin, Pram tersenyum lebar ketika ibunya memandang sambil geleng-geleng kepala.


"Kamu ini mau nikah kok bisa-bisanya malah berantem, Pram, Pram. Jadi tidak kasep begini kayak make blush on." cibir ibunya sambil menyentuh pipi anaknya.


"Harga diri laki-laki kalo ada yang ngajak berantem itu di balas, mak! Jangan sampai kalah."


Asih menghela napas, sesaat kemudian, Bagyo keluar dari rumah pribadi pak kades setelah meminta maaf dengan formal atas kejadian yang memalukan tadi.


Pram jadi cengengesan, waktu latihan mah mudah, gampang, waktu berhadapan dengan penghulu langsung ya masyaallah rasanya.


Pram membuang napasnya berkali-kali. "Sebentar, pak. Masih deg-degan." ucapnya seraya mengusap tangannya yang lembab.


Mentari menunduk sambil tersenyum malu. Badannya boleh gagah perwira kayak maung, tapi nyalinya kayak kucing, imut-imut.


"Semangat, Aa." kata Mentari menghiburnya sambil mengelus punggung Pram yang tetap tegak lurus menghadap penghulu.


Pram meneguk air putih yang di sediakan di meja. Setelah menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Pram mengangguk perlahan-lahan.


"Aku akan menikahimu, Mentari. Lima menit lagi." balasnya yang langsung membuat semua tamu yang mendengarnya jadi ikut tersenyum lebar.

__ADS_1


Lima menit berakhir, Pram membuang waktu itu dengan pergi ke kamar mandi.


"Sudah yakin belum mas Pram? Kalo nggak yakin-yakin, nasinya keburu dingin lho." gurau pak penghulu.


Pram mengangguk sambil mendudukkan diri di samping Mentari. Untung bener-bener intimate wedding karena yang hadir di pernikahan mereka tidak sampai seratus lima puluh orang dari kedua belah pihak keluarga.


"Baik, kita mulai ijab kabul pagi ini dengan membaca alfatihah terlebih dahulu."


Khidmat, semua orang dengan saksama menyaksikan bagaimana Pramoedya Aji meminang seorang gadis bernama Mentari Saputri dengan seperangkat alat sholat dan sawah satu hektar di bayar tunai.


"Bagaimana saksi, sah?"


"Sahhhhhh...,"


"Alhamdulillah." Bapak penghulu mempersilahkan Mentari dan Pram untuk menandatangani surat nikah.


•••


Dua jam kemudian, setelah menikmati suasana malu-malu menjadi pengantin baru, Mentari yang batal mencium Pram di depan semua orang tersenyum sedih di depan suaminya yang sedang makan.


"Kata emak Aa tadi berantem sama mas Bisma. Ada yang sakit?"


Pram mengangguk sambil mengunyah dia mengelus kepala Mentari dengan tangan kirinya.


"Setelah kita ngurus surat-surat penting di kantor pemerintahan, kita akan tinggal di Jakarta, sayang. Berani kan jauh-jauh dari orang tua?"


Mentari mengangguk, memang sebaiknya begitu, menjauh dari kampung halaman. Tepatnya jauh-jauh dari Bisma demi kebaikan bersama meski juga harus jauh dengan orang tuanya. Tapi Mentari bersyukur kehadiran Wartini menjadi alternatif bagus untuknya bisa menjalani kehidupan barunya dengan tenang bersama Pram di Jakarta.


Pram meneruskan makannya sambil sesekali membalas sapaan orang-orang yang berlalu lalang di depannya dengan anggukan. Baru setelah acara benar-benar selesai, dan rombongan keluarganya pamit undur diri. Pram merasa bebas. Tidak ada ibunya yang menatapnya dengan tajam, tak ada adiknya yang mengejeknya terang-terangan. Hanya ada dia yang kini sudah tidak lagi mengemban predikat jomblo ngenes.


"Geulis, hayu ke kamar."

__ADS_1


•••


To be continue and happy reading.


__ADS_2