Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Ancaman Pram.


__ADS_3

Mentari menunggu berjam-jam dengan kondisi gelisah tiada henti, bahkan sampai adzan Maghrib berkumandang di tengah kabut yang begitu pekat dan dingin yang enggan pergi. Gadis itu masih berada di ruang tamu losmen, berdiri di belakang jendela menunggu kedatangan laki-laki yang katanya butuh waktu sendiri. Tapi kenapanya begitu lama untuk waktu yang dibutuhkan laki-laki itu!


"Apa mungkin Pram kabur?" gumamnya, kembali meraih ponsel untuk menelepon Pram.


Di kamar losmen Bu Desy, Pram sedang tidak melakukan kegiatan apa-apa selain hanya rebahan dan menatap langit-langit kamar. Rasanya, batin dan otak sedang memuncak dalam keruh yang berkepanjangan.


Dia sudah menerima informasi dari Wartini tentang suka-duka menjadi pengurus losmen, begitu pun kondisi pribadinya. Maka akting yang ia lakukan sambil menulis jawaban ringkas, padat, dan jelas di buku catatan penting yang slalu ia bawa kemana saja lengkaplah sudah tanpa menimbulkan kecurigaan.


Tapi beberapa fakta kenapa dua anaknya Tegar dan Danang masih nganggur ya selain hanya bisa menjadi kuli panggul di pasar dengan pendapatan yang tidak seberapa, Bisma adalah uang berjalan bagi mereka.


"Kenapa?" tanya Pram sambil beranjak dari kasur, ia tersenyum menang mendapati tak cuma lima pesan yang Mentari kirim tapi puluhan dengan kalimat yang hampir sama. Dimana kamu dan permintaan maafnya yang bertubi-tubi banyaknya.


Mentari bernapas lega, tapi "Kamu dimana!" sentaknya kesal, rasanya tak enakkan kalau lagi bersalah terus di tinggal begitu saja tanpa pamit.


Pram semakin tersenyum, sekali nge-prank dua orang lebih langsung kena. Emang ya kalau rencana tersusun secara matang, efeknya terasa.


Pram berdehem memutus jeda. "Aku di pikiranmu sayang, kenapa? Kangen?" godanya.


Mentari langsung menjauhkan ponselnya dari sisi telinga.


"Siapa yang kangen, dih, aku cuma khawatir tau! Kamu di mana sayang, jawab!" desaknya galak.


"Rahasia!" Kekeh Pram, "aku bakal jawab kalo kamu bilang kangen, Tar!"


Mentari mengusap wajahnya yang tak bisa terlihat kalem berjam-jam sampai detik ini.


"Pram aku gak lagi bercanda, aku serius! Kamu di mana?" Dihembuskan napas kasar yang berupa semua rasa kekesalannya pada laki-laki itu. "Pram ayolah, kabut di luar dingin banget, kalo aku benar-benar membeku tanpa kamu gimana?"

__ADS_1


Tak kuat menahan tawa, Pram tergelak. Kekehan yang menyusup ke gendang telinga Mentari terasa menyebalkan.


Bisa-bisanya dia ketawa, apanya yang lucu emang?


Dalam hati Pram tak akan membiarkan Mentari membeku sendirian, ada aku yang menghangatkanmu nanti, pikir Pram sembari menghela napas.


Sekarang urusannya adalah masa lalumu, Tar. Kalo yang ini udah beres gue singkirin, semuanya bakal jadi!


"Udahlah, Tar. Kamu tidur aja yang manis di kamarmu sama ke lima ikan-ikanmu yang gemes. Aku masih butuh hiling sendirian sebelum pulang! Jadi gak usah khawatir."


Sambungan telepon terputus secara sepihak, Pram menghela napas seraya bangkit dari tepi ranjang. Dadanya terasa sakit harus membohongi Mentari, namun apalah daya, pria dewasa selain sudah banyak bertemu dengan banyak kalangan bos, mereka juga butuh hiburan seperti membuat hidup Bisma kacau balau.


Pram keluar dari kamar. Udara dingin langsung menyerbu kulitnya, Pram yang memang sudah menyiapkan semua baju gantinya tadi malam ke dalam mobil merapatkan jaketnya.


Pram menyusuri koridor kamar, dia yakin Wartini masih ada di losmen itu karena ada dua tamu baru yang datang tadi sore. Dan setibanya di lantai dasar, suasana hening dan syahdu terasa begitu nikmat sebenarnya jika punya pasangan. Tapi berhubung masih single dan happy-happy aja kecuali jika emaknya baru rusuh, Pram cuma bisa menyandarkan tubuhnya di tembok. Mengamati sekeliling sambil menikmati pemandangan.


"Gue yakin nih Bisma sama istrinya paling-paling masih musuhan, tapi ini baru pemanasan doang mereka udah jadiin kamar pecah. Apalagi kalo molotov yang gue lempar, udah pecah terbakar lagi. Tega banget gue keknya!" batin Pram. Tak dinyana, yang di batin malah datang menghampirinya. Bisma menatap nyalang keberadaan musuh besarnya dari dalam rumah sejak suara langkah laki-laki itu menuruni anak tangga dengan mantap.


"Kunaon-kunaon!" ulang Bisma ketus, laki-laki muda yang mendapatkan banyak masalah karena kehadiran Pram bergeming di depannya sambil menatapnya lurus-lurus.


"Jauh-jauh dari Mentari!" kata Bisma dengan ekspresi dingin.


Pram melipat kedua tangannya. Bersikap tak acuh dengan senyum jumawa seraya ganti memandangnya lekat-lekat.


"Kayaknya gak perlu gue jelasin lagi kalo elo biang kerok dari semua hal apes-apes enak yang gue alami. Jadi..," Pram berjeda biar suasana yang sudah ngeri-ngeri sedap semakin menyeramkan.


Tapi si lutung yang gak pernah bisa selangkah lebih pintar itu malah mengolok pernyataan Pram.

__ADS_1


"Jadi apa mas?" tantangnya kelebihan nyali.


Pram tersenyum geli, boleh juga nyali mantan si gemes, pikirnya sambil mencondongkan tubuh.


"Gue bakal respect elo berubah, Bisma Kurniawan! Cuma kayaknya nyali elo boleh di adu nih, gue coba ah." Pram mengeluarkan siulan andalannya seraya tersenyum miring.


"Besok pagi gue bakal kasih surprise ke elo. Tunggu ya, itu balasan dari gue karena elo udah bikin semua ban mobil gue kempes, elo yang bikin kepala gue benjol, dan ikan-ikan gue mati semua. Eh ralat, ikan-ikan gue mati dan hilang. Jadi tunggu aja sayang, dariku untukmu."


Pram menepuk kedua bahu Bisma dan mencengkeramnya. Bisma yang tidak terima kontan mendorong tubuh Pram hingga membentur dinding. Kepalan tangannya meninju perutnya berkali-kali sampai Pram mengerang kesakitan.


Hanya sekejap helaan napas yang memancing emosi, kondisi langsung berubah, Pram yang sudah bersabar dengan kelakuan calon bapak itu menerjang tulang kering Bisma dengan kakinya. Kejutan yang tak terduga, Bisma langsung beringsut sambil memegang kakinya yang ngilu banget.


Pram berdecak, ia merenggangkan jari-jari tangannya seraya memberi satu tendangan bebas ke tubuhnya. Bisma terjerembab ke atas konblok.


"Gue gak akan nyari masalah sama elo kalo elo gak mulai!" Pram merenggangkan kedua kakinya di atas badan Bisma seraya mencengkeram kerah bajunya erat-erat sampai sebagian tubuh Bisma terangkat.


"Elo milih, berhenti ganggu keluarga pak Joko atau masuk penjara karena gue gak segan-segan ngobrak-abrik keluarga elo sedikit aja elo masih gangguin keluarga pak Joko!" Didorongnya tubuh Bisma lagi.


Pram berdiri, mengusap tangannya seraya berbalik.


Wartini yang melihat semua kejadian itu di belakang tembok hanya bisa ternganga melihat Pram berjalan ke arahnya.


Pram tersenyum kecut sambil mencondongkan tubuhnya. "Saya minta tolong, besok pagi jam lima kita ke rumah ibu!" bisiknya seraya pergi ke kamar.


Wartini kontan memegang dadanya yang berdetak kencang tak karuan setelah perkelahian tamu dan juragannya.


"Ya Allah, gimana ini."

__ADS_1


•••


to be continue and happy reading.


__ADS_2