
Mentari jadi tersenyum canggung, di tatapannya cangkir teh sambil menggeleng rikuh.
"Masih banyak tamu yang datang, Aa. Malu ishhh... kalo tau-tau pengantin baru sudah di kamar siang-siang bolong sementara banyak saudara yang datang pengen ketemu suami aku." katanya sambil memandang sekeliling dengan ekspresi geli.
Pram mengangkat dagunya dari sepiring bolu kukus, Pram nyengir sambil menyerahkan satu slice bolu kukus ke depan mulut Mentari.
"Gigit terus makan." kata Pram, ia merasakan kegembiraan liar yang menari-nari di dalam kepalanya sewaktu Mentari menerima permintaannya. "Yang banyak, makanan adalah sumber energi."
Mentari mengunyah sambil menahan tawa, "Udah!" pekiknya saat Pram menyodorkan bolu kukus lagi. "Aku udah kenyang, Aa... Udah makan tiga kali aku. Sarapan, makan bersama, terus barusan... Perutku kenyang banget." akunya sambil menepuk-nepuk perut yang terlilit stagen batik berwarna hijau. Mentari sangat cantik menggunakan paes gaya jogja meski bunga yang terselip di rambutnya bunga palsu.
Pram tersenyum. "Oke sayang, jadi nanti nggak ada alasan capek ya... Dan Hmm..., Jangan lupa." Pram berjeda sembari mencondongkan tubuhnya lalu berbisik di telinga Mentari dengan suara parau. "Berbagi kenikmatan di malam pengantin, geulis. Siap?"
Mentari buru-buru menutupi wajahnya yang merona dengan telapak tangan. "Aku malu buka-bukaan, Aa."
Buahaha, tawa Pram lalu meledak di iringi tatapan heran para tamu undangan yang baru saja datang dari parkiran.
"Terus kalo enggak di buka gimana geulis, masa pake telepati berbaginya, gak asik atuh." Pram terkekeh sembari menurunkan tangan Mentari. "Kamu lucu deh. Jadi gemes."
Pram memandang hangat istrinya yang malah menunduk malu.
"Iya nggak maksa, tapi kalo mau ayo aja. Bilang."
"Masa aku yang bilang, Aa." Mentari mencubit paha Pram yang berbalut kain batik. "Ntar aku di kira yang pengen, gak ah, sebulan pacaran yang suka bilang kangen kan kamu, Aa aku nggak."
Pram menangkup wajah Mentari saraya mengangkat pandangan matanya agar menatapnya. "Karena aku memang kangen, memang tidak jaim, beda sama kamu, kangen tapi gengsi, gak di bales, tanya-tanya Dara kan, chat emak juga. Kok bisa ya guys ya nggak ngaku kangen." keluh Pram sambil menelengkan kepalanya, mendesak Mentari yang kian tercekat tenggorokannya oleh kata-kata jujur.
"Gimana, masih nggak mau ngaku kangen, nggak mau ngaku semalam ngintip aku dan bilang Pram tambah kasep ya, Ra. Gagah perwira."
Ganti tawa Mentari yang meledak dengan renyah, ia tertawa sampai pipinya ngilu.
"Capek ketawa terus, perutku sakit." keluhnya sambil mengernyit, "Aa, temui tamu-tamu dulu ya, aku mau ke toilet sekali ngasih kabar ke Dara kalo dia aku pecat jadi adik, dia tukang ngadu. Nggak bisa jaga rahasia, mirip kamu!"
Pram mengusap pipi Mentari dengan sebelah tangan. "Iya sana ke toilet, aku belum siap lihat kamu ngebom di sini, lagipula sayang, Dara udah mengundurkan diri sebulan lalu jadi adikmu, dia sekarang jadi adikku!" ucapnya dengan nada bergurau.
"Uhhhh..., curang." Mentari berdiri, berhubungan memang ketawa di saat perut kenyang rasanya ya ampun, dia langsung pergi ke dalam rumah. Ia menendang sendal selop setinggi lima centimeter ke udara sebelum menuntaskan panggilan alam yang teramat menyiksa.
__ADS_1
•••
Pram menanti dengan tiada sabar di halaman rumah sewaktu Mentari tidak kunjung tiba setengah satu jam kemudian.
Pram menoel-noel lengan mertuanya. Joko menoleh, "Kenapa?" tanyanya dengan lembut.
"Pak, aku ke dalam ya. Mau nyusul ayang." pamit Pram dengan nada gurauan.
Joko meringis dan mengangguk. Dalam hati, ya udah tahu maksud si anak mantu yang sewaktu ijab tadi membuat semua jantung orang cenat-cenut mau apa.
"Terus istirahat saja dik Pram, tamu-tamu jauh sudah pada datang kemarin-kemarin. Ini cuma tinggal sisanya aja, gampang lah, bapak atur."
"Asik." Pram menjura kepada semua orang yang berada di depannya. "Monggo-monggo, silahkan di nikmati hidangannya. Biar saya cari hidangannya lain di dalam rumah." selorohnya sebelum berlalu.
Semua orang tersenyum lebar karena mantu pak Joko yang itu. Pram melewati kursi-kursi plastik yang masih tersebar dengan acak di halaman losmen idaman. Dia memamerkan senyumnya kepada sanak saudara yang masih leyeh-leyeh di losmen sambil makan.
Pram dengan santun mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Meminta pengertian dari semua bahwa ia ingin menemui sang istri di kamar.
"Ommmm..., Awassss Mentari galak!" teriak Dara dari bangku taman.
Gampang lah Mentari mah, galak-galak gitu, gue tetap paling galak. Gue kan maung nggak punya kuku. Nggak bisa nyakar tapi bisa bereproduksi.
Pram menurunkan gagang pintu, Mentari buru-buru berbalik sambil menggenggam stagen yang sedang ia lepas. Dan sewaktu Pram mendorong pintunya, ia tersenyum melihat kain jarik yang dikenakan istrinya basah.
"Baguslah kamu sudah di kamar, aku kira kamu masih di toilet, kepleset. Aku kan jadi cemas, makanya aku ke sini." Pram menarik keris dari belakang punggungnya seraya menaruhnya di meja.
"Baru ganti?" tanyanya pura-pura sambil melepas stagennya sendiri. Yang cepat, yang menang. Apalagi Mentari masih memunggunginya.
Gerak cepat, gerak cepat. Biar aku bisa membantu Mentari ganti baju.
Pram meringis geli. Mentari mengembuskan napas.
Sudah basah, tertimpa mata genit Pram. Pengen ganti di luar tapi nanti di kira arogan. Arghhh, sumpah, malu banget aku, pertama kali ketemu masa langsung buka baju terang-terangan.
Mentari mengangguk lemah. "Iya baru ganti." jawabnya sambil mengulur lagi stagennya dari pinggang.
__ADS_1
"Mau aku bantu?" tawar Pram setelah menumpuk bagian terakhir dari pakaian ke meja. Meski Mentari sudah membuka mulut, tapi kurang cepat dari suaminya yang berbalik dan langsung pindah di depannya.
Pram tersenyum manis. "Mau kan? Aku kan baik, biar dapat pahala juga sudah bantuin istri."
Pram mengulurkan tangannya, membelai garis wajah Mentari yang sehalus kain satin sutra. Pram tersenyum hangat sambil mendekat.
"Show me your love."
Pram mencondongkan tubuhnya seraya memeluk Mentari hingga stagen yang tergenggam erat di tangannya terburai perlahan-lahan ke lantai.
Mentari tak bisa tidak tegang, tubuhnya membeku dalam pelukan suaminya yang terasa asing, baru, tapi hangat, dan kuat. Mentari bisa merasakan panas tubuh dan aroma sang suami saat pelukan itu membuatnya menyandar pada dada berotot suaminya yang berdebar kencang.
"Tunjukkan padaku, sayang." ucap Pram sambil terus menghujaninya dengan tatapan penuh harap.
Mentari balas memeluk suaminya, merapatkan diri pada tubuh kekar yang begitu gagah perwira sebelum menjadikan punggung kaki suapijakan.
Mentari mendongkak, menikmati keterkejutan Pram dengan senyuman.
"Maaf, aku nggak cukup tinggi untuk ini."
Dengan kecepatan siput Mentari mencium rahang suaminya, menciumnya lagi seperti mempelajari kontur rahang sang suami perlahan-lahan. Tapi bukannya mesra dan menjadi hareudang, brewok yang habis di cukur itu menggelitik kulit mereka, keduanya terkikik geli sambil melepas pelukan.
"Aku habis cukur brewok, sayang." kata Pram.
"Iya tau," Mentari memberi sedikit penghibur untuk Pram, ia mengelus sisa-sisa brewok yang masih tertinggal di rahang suaminya sembari tersenyum.
"Tidak bisa di sini, Aa. Terlalu ramai. Di rumahmu nanti aja yang sepi."
Pram menarik pinggang Mentari dan mendekatkannya. Menempatkan lagi sang istri ke dalam pelukannya.
"Aku tahu, tapi aku nggak bisa bohong, sejak awal ketemu, bibirmu mengalihkan duniaku."
Pram membenamkan bibirnya dengan lembut di bibir Mentari. Menyatukan kelembutan dan kehangatan yang membangkitkan gairah di sekujur tubuh yang memanas.
•••
__ADS_1
To be continue and happy reading.