
Pram melemparkan tatapan tak sabar pada gerbang rumahnya. Dia menunggu tamu-tamunya datang untuk ikut memeriahkan suasana pengajian di rumahnya. Sementara di kamar, Mentari sedang membiarkan Asih memakaikan jilbab dusty pink di kepalanya.
"Cantiknya, Pram pasti tambah tergila-gila sama kamu, Tari." Asih mencubit pipi mantunya dengan gemas. Ah sungguh-sungguh siapa yang tidak mau jadi mantu emak Asih ini. Sudah baik, royal, tapi tengil. Suka bicara sesukanya, tapi suka benar adanya. Apakah semuanya orang tua sama, tentu berbeda. Jadi pikirkan tentang yang indah saja sambil berkhayal tentang yang baik-baik saja.
Mentari menyunggingkan senyum sambil mematut diri di cermin. Pagi menjelang siang ini selepas menghabiskan pagi yang ternyata sibuk sekali sampai tenaganya di butuhkan. Ia terlihat menawan dalam balutan gamis berbahan satin dan sedikit di beri brokat pada bagian badan.
"Semoga cuma tergila-gila ya Mak, tapi jangan gila beneran. Aku nanti yang repot dan susah menyadarkannya."
Asih tertawa, kemudian percakapan biasa dilanjutkan dengan membahas mengenai acara pulang kampung. Dengan mata menyipit sedikit tidak tenang, tanpa banyak ina-inu, Asih menyentuh kedua bahu Mentari. Ia sudah memastikan mereka hanya berdua saja.
"Emak cuma minta jangan lama-lama disana ya, Tari. Emak khawatir kalo nanti mantan kamu itu berantem lagi dengan Pram. Kasian dia, tidak bahagia."
"Baik, emak." Mentari mengangguk, sejujurnya ia nyaris tidak terkejut karena peringatan itu karena dia hanya ingin tidur di kamarnya, melihat kabut di rumahnya, dan mengabari orang tuanya akan kehamilannya. Lalu pulang, dan tiba-tiba Pram masuk dengan muka panik.
"Mak, Mak." katanya sambil menunjuk ke depan dan cemas. Pram di penuhi rasa syukur, tapi juga mendadak merasakan gelombang emosi yang membingungkan.
"Kenapa kasep, ada apa? Lihat demit?" gurau Asih, Mentari mendengar.
"Ada Tatiana di bawah." jawab Pram. Mentari langsung berdiri di samping mertuanya, merangkul punggung ibunya yang mematung dengan ekspresi dingin meski cuaca di luar perlahan-lahan menghangat.
"Kenapa dia di sini, untuk apa Pram. Apa ndak cukup dulu dia." Asih menoleh kepada Mentari.
"Aku sudah mengenalnya, Mak." jelas Mentari, "kami sudah ketemu beberapa hari lalu."
"Tapi untuk apa kalian ketemu, kurang ajar, apa dia–"
Mentari menggeleng. "Tidak, bukan seperti yang emak bayangkan. "
"Ya Allah, Pram, Tari. Emak masih membencinya, dia yang bikin emak khawatir dengan masa depanmu, Pram." sambung Asih, seolah tidak bisa di tahan lagi ia menghembuskan napas kasar.
__ADS_1
Pram berusaha sebaik mungkin untuk menjelaskan semuanya, baik dari sudut pandang Mentari dan dirinya sendiri.
"Terus kenapa dia kesini? Dia mau apa, Pram?"
"Mau doain jabang bayi kami lah, Mak. Mau apa lagi ini kan acara pengajian, bukan tawuran. Lagipula rame-rame di bawah." sahut Pram, "kami sudah baik-baik."
"Ya udah ayo ke bawah, emak mau tau apa dia masih punya tampang dan berani lihat emak." tantang Asih. Pram kira, Asih cuma bercanda marahnya ternyata sewaktu bertemu Tatiana, suami, dan anaknya Asih memasang sikap ketus, bahkan dia tidak mau menjabat tangan Tatiana.
"Ku kira kamu jadi mantu, ternyata jadi udu." celetuk Asih jengkel di depan tiga orang yang meminta bertemu secara pribadi.
"Oma, udu itu apa?" celetuk anak Tatiana dengan penasaran sekaligus mimik wajah polos.
Asih mengelus rambut halus lembut gadis kecil yang memakai bandana merah muda.
"Main sama cucu-cucu Oma di belakang rumah, geulis. Banyak ikan di sana, lucu-lucu, nanti boleh minta pakde Aji untuk di bawa pulang." katanya lembut.
"Boleh sayang, tapi hati-hati." Tatiana tersenyum, melihat sebentar langkah kecil putrinya yang kebingungan menuju halaman belakang sebelum Mentari menggandeng tangan kecil gadis itu.
Tatiana lalu memandangi Asih yang memandangnya tanpa sedikitpun menurunkan kadar keruhnya dari wajahnya.
"Ana minta maaf atas kejadian yang lalu, mak. Maaf Ana dan mas Abri tidak langsung menemui emak secepatnya."
Seolah melihat serial yang menegangkan, Pram dari kejauhan memandangi mereka dengan serius dan tegang.
"Ngapain elo, bro? Gak tenang, Ana sama Abri berhadapan dengan emak elo yang super jutek itu?" tanya Roni dari belakangnya.
"Emak gue kaget Ana datang, Ron. Emak pikir kita masih bersengketa." Pram membalikkan badannya, si Roni jadi meringis.
"Tapi bagus kan, lihat tuh, emak elo nyuruh mereka sungkem. Emang gak kira-kira emak elo kalo marah, masih ingat gue, beliau ngamuk di rumah sakit setelah bikin Abri babak belur."
__ADS_1
Pram cuma bisa tersenyum tipis. Lagian laki kalau belum berantem belum afdol meluapkan kemarahannya.
"Bapak gue udah siap-siap tuh, bentar. Aku cari Mentari dulu." Pram menepuk bahu Mentari, "Cath, belajar masak elo biar Roni gak kerempeng gini. Kasian gue lihatnya kayak gak elo urus."
Catherine, istri Roni jadi meringis sambil memegangi pinggang suaminya.
"Perempuan gak harus bisa masak kali Pram. Emansipasi wanita udah jayalah sekarang. Udah gih sana cari istri kamu yang udah ngajak bojoku jadi pedagang. Emang cocoklah, baby Roni jadi penjual."
Pram terbahak-bahak sambil geleng-geleng kepala. Ia mendorong pintu belakang dan mengganjalnya dengan batu.
Pram bersiul. "Mentari, sayang, sini. Udah ngasih makan ikannya, nanti lagi. Bapak udah mau mulai pengajiannya!"
Seperti sudah terlatih mengasuh anak, Mentari ikut-ikutan bersiul meski gagal total untuk mengomandoi anak-anak dari sahabatnya Pram.
"Masuk-masuk, ayo kita minta om Pram sebutin nama ikan-ikannya, kalo om gak bisa, nanti kita minta es krim yang banyak. Minta pizza dan kerak telor. Mauuuu?"
"Mauuuu." Segerombolan bocah-bocah dengan serentak lalu menghampiri Pram. Satu persatu dari mereka lalu menanyakan nama ikan-ikan yang Pram miliki.
"Ayo om jawab. Iya, om, jawab."
Mentari tertawa kecil. "Udah beliin es krim aja gampang, Aa. Lagian kapan lagi bisa kumpul-kumpul kayak gini. Rasanya hangat."
Pram menoleh ke dalam rumah. "Woi, yang merasa punya anak tolong dong, di urus dulu ini krucil-krucilnya. Gue mau doain krucil gue sendiri nih. Help! Gue gak bisa jawab, lele gue ratusan. Ogah gue kasih nama."
Tawa geli langsung terdengar meriah di rumah Pram sebelum acara pengajian berlangsung dengan khidmat, serius, dan penuh kehangatan. Mentari dan Pram pun terlihat begitu khusyuk melantunkan doa-doa suci demi calon sang buah hati tercinta.
•••
Happy reading.
__ADS_1