
Mentari dan Pram berbalik meninggalkan Maxime yang malah asyik melihat keakraban satu keluarga itu sambil mengabaikannya dengan kamera yang menggantung di lehernya.
Mentari dan Pram, mereka tidak ada yang bicara. Masing-masing dari mereka memikirkan sesuatu yang berbeda. Mentari terus berharap Pram mengerti kondisi yang benar-benar bukan salahnya. Sementara Pram sangat-sangat butuh waktu untuk menghadapi istrinya sekarang.
Keriuhan pagi di losmen itu selain gemerisik dedaunan yang tertiup angin pagi juga suara siulan dari para penabuh genderang Roni dkk yang menggoda Pram dan Mentari masuk ke rumah.
"Cie Aa sama Eneng, berdua-duaan. Sini atuh jangan gitu." seru Roni.
"Yakin gue, dadanya Pram udah kayak di tinju samsak sekarang, Ron." timpal Dias.
Di tengah ambang pintu, Pram menoleh. Matanya seperti memancarkan api yang akan menghanguskan Roni dkk, tapi mulutnya tersenyum.
"I'm fine, brother. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku." katanya, tapi bohong banget yang memang langsung di ketawain Roni dkk, bagi sahabat-sahabatnya itu muka galak dan senyum paksa sudah jelas menunjukkan Pram tertekan dan segera mengurung Mentari dengan pertanyaan-pertanyaan penting.
"Udah bro, mending kita kenalan aja sama mereka." bisik Roni, "Itung-itung karena kita tadi udah di anggap keluarga sama Mentari jadi asikin ajalah. Kayak dangdutan, makin di kendang, makin asoy."
Roni dkk kembali melanjutkan senam ajojing mereka menjadi senam kesehatan jasmani.
"Gabung sini, bro. Daripada kedinginan." seru Roni sambil melambaikan tangan, dan kegaduhan dari lagu senam yang di putar di channel video berbagai itu lengkap dengan sorakan Roni dkk membangunkan Bagyo yang masuk angin.
"Mentari bukannya hamil, Sih? Kok senam?" tanya Bagyo serak.
Asih yang sudah mengintip sejak tadi kembali menutup gorden seraya menghampiri suaminya.
Asih duduk di tepi ranjang. "Rame di luar, pak. Ada tamu losmen datang, kasep pisan, londo, tinggi, putih, rambutnya pirang, gondrong." jawabnya antusias, malah senyum-senyum geli kemudian.
"Mentari senam?" tanya Bagyo sekali lagi untuk memastikan mantunya itu senam tidak. Risiko keguguran waktu hamil muda terbayang di benaknya.
__ADS_1
Asih mengibaskan tangan. Berusaha sabar akan kekhawatiran suaminya yang baru saja mengeluarkan gas.
"Bukan mas tenang atuh, itu temen-temennya si kasep. Pada rusuh di luar godain kasep, yakin emaklah, kasep cemburu sekarang." Asih mengeluarkan minyak angin dan menggosokkan isinya di perut suaminya.
"Sudah jangan kepikiran, Mentari lagi di sidang sama si kasep. Ntar emak pantau!"
Bagyo tak mengacuhkan ucapan istrinya. Pasti Asih bakal ikut campur nanti. Kemarin saja, waktu kasus Tatiana dia harus ikut-ikutan marah meskipun sebenarnya dia lebih legowo daripada istrinya itu.
•••
Tanpa buang waktu, di dapur Pram langsung menahan kedua bahu Mentari agar melihatnya dari dekat setelah istrinya itu merebus air.
"Siapa mereka sayang?" Pram menyunggingkan senyum dengan terpakai. Terpaksa pula, Mentari juga tersenyum manis kepada suaminya. Ia tidak salah, itulah fakta yang slalu dia gembar-gemborkan dalam benaknya saat ini.
Mentari memegang pinggang Pram. Suaminya suka di sentuh, itu fakta paling benar selama ia mengalami kurungan di rumahnya sampai mengandung.
"Oh, namanya Maxime." Pram mengangguk, disingkirkannya rambut Mentari ke belakang. "Terus kenapa tadi rikuh gitu sama aku di depan dia?"
"Aku malu," Mentari mencengkram pinggang Pram dan membuang tatapannya pada api kompor, "Mereka gak tau losmen ini sudah tutup dan gak ngasih kabar sama sekali kalo mau ke sini."
"Terus?" desak Pram, menahan dengusan napas panjang yang syarat emosi.
"Maxime balikin termos yang dia pinjem dulu." Mentari kembali memandangi suaminya, "Aa kenapa sih? Kalo Aa cemburu itu lumrah, aku maklum, cuma aku juga gak enak tau ngusir mereka gara-gara aku sudah punya suami."
Suasana berubah hening. Pram merasa istrinya tidak tahu ia mendengar semua pembicaraan mereka tadi selama berada di dalam losmen. Mentari menganggapnya hanya keluarga, bukan suami. Bagaimana itu rasanya. Dan sekarang justru semakin diperkeruh dengan senyuman aneh Mentari.
"Aa cemburu?"
__ADS_1
Pram menarik napas panjang, ekspresinya berubah seperti dia juga amat menyesal harus mengatakan ini.
"Aku bukan cemburu, cuma kamu gak jujur sama mereka kalo aku suamimu, bukan cuma keluargamu." ucap Pram dengan suara tetap lembut.
Mentari sontak terperangah. Pernyataan itu sedikit membungkam mulutnya beberapa saat.
Huhuhu, Aa denger ternyata. Pantesan tadi panggil aku adek. Lucunya suamiku kalo cemburu. Wk wk.
Mentari menyandarkan kepalanya di dada Pram, mendengar denyut jantung suaminya yang seperti habis ikut senam kesehatan jasmani di luar. Emosi tertahan itu juga sejujurnya bersemayam di hatinya sendiri.
Mentari terdiam beberapa saat dengan kondisi memeluk suaminya, dia mencari kata-kata yang cocok untuk menentramkan hati suaminya yang gagah perwira ini sebelum salah kaprah.
"Takut status kamu Maxime tau?" tukas Pram, disingkirkannya lagi rambut Mentari bagian kiri ke belakang.
"Maksudnya?" Mentari mengangkat wajahnya.
"Kamu gak mau Maxime tau kamu udah nikah, jadi dia ada peluang untuk deketin kamu, Tari." jawab Pram dengan lembut, sepasang matanya lalu menangkap perubahan sorot Mentari.
Apa gue nuduh yang enggak-enggak? Anjir lupa, istri gue lagi hamil, kenapa gue yang sensi banget.
"Maaf, mungkin aku yang kebangetan panasnya." Pram meraih tangan Mentari yang perempuan itu lepaskan dari pinggangnya bersamaan dengan sorot mata sedih yang masih terpancar sekarang.
"Aku yang bakal gantiin kamu ngasih layanan kamar buat mereka. Jangan bantah." Protes tidak berlanjut. Pram membenamkan bibirnya dengan sengaja ketika Mentari hendak membuka mulut. Dan tentu saja, tanpa sepengetahuan Mentari nanti. Pram tidak akan tinggal diam. Genderang perang akan dia mulai sendiri meski harus mati-matian menahan diri untuk tidak menjitak kepala teman-temannya yang pasti akan meledeknya habis-habisan.
Ngakunya kangen kabut, ternyata diam-diam ada yang kangen sama Mentari di sini. Bisa gitu, panggilan alam emang luar biasa.
"Pokoknya kamu santai-santai saja, sayang. Aku bisa kok ramah tamah seperti kamu." janjinya.
__ADS_1
Mentari mengangguk, tapi dalam hati, gak mungkin Aa bakal ramah. Yang ada dikit salah ngomong nanti Maxime di tonjok. Huh, repot, punya suami kebanyakan otot.