Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Tarik urat.


__ADS_3

Senja menggantung di langit sore setibanya mereka di depan losmen.


Dara yang sudah pulang sejak jam tiga tadi langsung berhambur keluar menyambut kedatangan mereka.


Pram turun dari mobil sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir sewaktu Dara hampir mengetuk kaca mobilnya


"Diem!" katanya pelan memperingati Dara biar tidak berisik.


Dara langsung berkacak pinggang dengan wajah sinis. Kesal, waktu di rumah bude Aminah tadi Purwati memberitahu jika si Tari dan Pram ke Dieng.


"Om ke Dieng gak ngajak-ngajak aku. Pelit." cecarnya dengan suara pelan. Wajahnya bete.


Pram memberi ringisan tak berdosanya. Kalau pun tadi Dara dia ajak terus siapa yang jaga buku tamu? Bisa-bisa bude Aminah yang ketar-ketir, Mentari kabur saja sudah bikin seantero rumahnya geger. Baru reda setelah Mentari menghubungi mereka tadi.


"Besok aja piknik ke Jakarta bareng aku kalo mau. Gratis!" tawarnya penuh siasat.


Dara tetap berkacak pinggang sambil mikir keras. Kerutan di wajahnya sampai terlihat seperti orang susah.


"Aku kerja Om, gak bisa main! Tapi kalo urusan gratis aku pikir-pikir lagi deh."


Dara ikut meringis. Inner child-nya tak bisa bohong, lama berada di lingkungan losmen dan panti asuhan membuatnya ingin pergi kemana-mana, melihat dunia. Apalagi gratis, gadis itu pasti gak akan nolak meski gelagatnya saja sok tarik ulur lah, penasaran lah dengan ide bagus Pram.


"Tapi ada syaratnya, Ra. Kalo kamu berhasil semuanya beres, Om Pram yang tanggung biaya jalan-jalanmu."


Dara menarik Pram menjauh dari mobilnya, membiarkan Mentari tidur.


"Apa Om syaratnya?" tanya Dara penasaran.


"Kamu wajib ajak Mentari!" kata Pram serius sembari menggulung kemejanya.


"Kenapa emangnya harus sama Tari? Om suka sama dia?" Dara menyipitkan mata.


Pram mendesah sembari sengaja membuat jeda yang cukup panjang. Membiar gadis berkulit sawo matang itu semakin penasaran. Kapan lagi ya kan bisa usil sama gadis kecil.


"Om gak mau jawab?"

__ADS_1


"Aku belum bisa bilang suka nggak sama Mentari, makanya berhubung Om cuma nginep disini seminggu, gantian kalian yang nginep di rumahku nanti, Ra."


"Ah gak mau ah, jangan-jangan Om orang jahat. Suka nyulik orang terus di jadiin simpenan atau di jual kayak di TV-TV itu. Kalo ibu panti bilang, human traffic." tukas Dara sambil mundur. Membuat jarak aman dan menarik urat.


Sontak Pram terperangah dengan pernyataan Dara.


"Emang gue kelihatan kayak penjahat? Nih bocah kayaknya kebanyakan nonton berita kriminal jadinya parno sendiri," batin Pram, "cuma wajar juga kalo gue pikir-pikir. Gue di sini hanya singgah dan ini terlalu buru-buru."


Pram menghela napas. "Jadi beneran gak mau?" tanyanya dengan nada dibuat sedih.


"Om mencurigakan kok, aku gak mau! Lagian kalo Om emang gak suka sama Tari kenapa harus ngajak dia ke Jakarta. Biasa aja kali." seru Dara, memutar tubuhnya seraya mengetuk-ngetuk kaca mobil, membangunkan Mentari.


Pram menepuk jidatnya. "Bego gue, salah strategi!"


Gegas, ia menyusul Dara ke mobilnya setelah main umpet-umpetnya yang ujungnya malah salah kaprah.


"Biar aku yang bangunin dia, Ra."


Dara cemberut, lalu menempelkan wajahnya di kaca mobil untuk memantau tindakan Pram.


Mentari tergeragap, dia memantap samar wajah yang meniup wajahnya dengan permen beraroma wangi.


"Aku bangunin kamu tanpa menyentuhmu gitu." jawab Pram, dia tersenyum, tahu Dara pasti sedang menilai tingkahnya terhadap Mentari.


Sementara bagi Mentari, tiupan itu merusak mimpinya sekaligus membuatnya sadar, itu orang tadi berada di dekat wajahnya.


"Kenapa gak kamu tabok aja bahuku Pram, biar sekalian aku jantungan daripada main tiup-tiup! Ganggu tau—jadi ganggu pikiranku." Mentari mendesah sembari mengusap wajahnya. Terjebak sendiri dengan aroma itu dan pasti rasa dari permen familiar yang juga dia sukai.


Pram membasahi bibirnya, merasa tertarik.


"Kapan-kapan bakal aku coba kalo kita ketemu lagi dan kamu tidur di mobilku, Tar. Tapi janji jangan nangis kalo sakit. Awas kalau nangis dan gak jantungan." ancamnya dengan nada bercanda.


Mentari mengangguk asal-asalan. Ia menoleh, mendapati Dara tetap menempelkan wajahnya sampai napasnya berembun.


"Aku keluar duluan ya, Pram. Ada adikku tuh, adik jadi-jadian." Mentari melepas seat belt, membungkuk untuk mengambil sepatu hak tingginya.

__ADS_1


Pram mengangkat alisnya, menahan rahangnya untuk tetap stay cool dan tidak terbahak. Mentari dan Dara jelas sangat berbeda, namun ia tak berhak untuk membandingkannya.


"Nanti malam aku pingin nasi goreng, Tar. Pedes, tolong buatin, aku belum makan nasi dari tadi."


"Baik, Pram."


Mentari mendorong pintu mobil sampai membuat Dara ikut memundurkan langkahnya.


"Gak sopan kamu, Ra!" celetuk Mentari sembari berjalan ke samping rumah.


"Aku cuma ngawasin kamu sama Om, Tar." bela Dara, sekilas dia menoleh ke belakang, Pram masih di dalam mobilnya, mengamati foto-foto yang sudah di kirim si fotografer.


"Masa dia tadi ngasih tawaran ke aku untuk piknik ke Jakarta gratis, tapi syaratnya aku harus bujuk kamu untuk ikut, Tar. Aneh kan tuh om-om, pasti gak beres tuh orangnya!" adunya.


Mentari menelengkan kepala. Tidak kaget, Pram sudah menawarinya juga, cuma dia belum membuat keputusan. Hanya saja sekarang dia heran, kenapa laki-laki itu getol mengajaknya ke Jakarta.


"Tapi jangan kayak gitu, gak sopan tau, dia tamu disini."


"Halah," Dara mengibaskan tangan, "harusnya kamu yang lebih hati-hati, Tar. Kamu kan...," Dara tidak melanjutkan ucapannya, tidak tega.


"Aku tahu, tapi Pram gak mabuk, Ra. Dia sadar, otaknya masih jernih."


Dara kesal sendiri dengan pernyataan Mentari, itu bukan karena mabuk apa enggak, itu cuma untuk jaga-jaga karena mau otaknya masih jernih bapa tidak kalau nafsu dan setan yang bicara akan lain lagi ceritanya.


Dara menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan kasar.


"Yang penting aku udah ngingetin, terus kalo ada apa-apa jangan cuma ngumpet di kamar terus nangis dan semua urusan losmen ini aku yang tanggung. Gak mau aku."


"Iya." jawab Mentari lembut, "makasih masih mau kerja di sini."


Dara ikut masuk ke kamar Mentari. Duduk di tepi kursi sambil memandangi empunya kamar melepas sanggulnya.


Dara cengengesan, konyol sendiri membayangkan Mentari ke Dieng pakai kebaya, makanya gak heran si fotografer tadi mengira dua orang itu mau prewedding tanpa persiapan alias ngirit betul-betul ngirit karena Pram cuma pakai kemeja dan sepatu kets.


"Tapi, Tar. Kalo kita ke Jakarta berdua kayaknya aman-aman aja deh, kamu bilang deh sama ibuk dan bapak."

__ADS_1


Mentari langsung menggeleng cepat, orang tuanya jelas sudah berpihak pada Pram dan pasti setuju-setuju aja dia ke Jakarta bareng laki-laki itu. Dan entah kesaktian apa yang laki-laki itu miliki, cuma pasti orang tua lebih paham dengan intuisi batin mereka karena terbukti, mereka dulu sempat meragukan Bisma, dan apapun yang di lakukan Mentari untuk membujuk orang tuanya merestui hubungannya dengan Bisma berakhir tragis.


"Aku gak mau!"


__ADS_2