
Dara langsung membantingkan diri ke belakang dan karena tidak ada aba-aba peringatan, kepalanya membentur dinding dengan spontan.
DUGH.
ARGH.
Dara sontak memegang kepalanya yang terasa ngilu-ngilu sedap. Mentari meringis geli, bukan malah kasihan.
"Makanya jangan lebay, Ra. Udah sering dibilangin masih terus-terusan over kamu tuh." seru Mentari seraya menyaut handuk.
"Aku mandi dulu, tolong kalo ketemu Pram yang sopan kamu, Ra."
Dara menggeram kesal. "Aku kejedot tembok gara-gara Om Pram, Tar. Malah di suruh sopan, gak bisa nanti aja ngomongnya? Kesel. Argh, pusing aku."
Mentari tak menggubris, dia keluar kamar, sejenak melihat Pram yang melepas sepatunya di taman dari balik jendela.
"Emang ada apa di Jakarta, Pram? Emakmu?"
Mentari menarik ingatannya kembali kenapa Pram bisa disini, dia sedang menghindari interaksi jodoh perjodohan yang dilakukan ibunya. Lantas satu fakta lagi yang akan Pram ceritakan nanti malam.
"Apa mungkin Pram gak punya pacar karena juga patah hati sepertiku?"
Mentari menerka sendiri hingga tanpa sadar sepasang mata lelah Pram melihat sebelah bahu Mentari yang berada di balik jendela.
Senyum usil Pram mengembang. Dia mendekat dengan gerakan super pelan dan bersembunyi di balik sisi jendela dan huaaaa, Mentari menjerit keras.
Pram terbahak-bahak. "Ngapain ngintip-ngintip?" serunya sewaktu Mentari mendekat hanya untuk mencubit lengannya.
"Siapa yang ngintip? Aku itu baru lepas stagen."
"Bokis bener!" seru Pram setelah menarik cepat kebaya Mentari ke atas dan masih ada tuh stagen yang membebat pinggangnya.
Mentari berkacak pinggang. "Emang bener kata Dara, kamu itu bikin sial!"
"Wadauuuw—bikin sial bro, belum tau anak emak ini siapa!" Pram berkacak pinggang, biasa saja, justru senang gadis itu mulai berani keluar dari zona aman sikap sempurnanya.
"Pramoedya Aji Nyebelin." Mentari melengos pergi ke dalam rumahnya, tapi kembali berbalik dan memasang tanda, 'selain karyawan di larang masuk', di depan pintu rumahnya.
Pram terbahak, "Emang Dara sial kenapa, Tar? Habis ngomongin aku pasti." tukasnya
__ADS_1
Mentari tak bersedia menjawab, dia menutup pintu rumahnya seraya berseru. "Mandi sana, kamu bau!" ucapnya dari balik jendela.
"Kamu juga kali, Tar. Gak nyadar!" balas Pram ketus. Keduanya berbalik dan menyunggingkan senyum geli.
Jeda Magrib, keduanya sama-sama beristirahat di ruang yang berbeda. Namun bayang-bayang akan kejadian hari ini melambung di sukma keduanya meski logika berkata masih jauh untuk menyebut keduanya saling bertemu titik nadi di saat hati masih terjebak dalam gulita, hilang arah, terlalu rapuh dan butuh pundak.
Pram dan Mentari sama-sama menyimpan tanya dalam hati, harus sampai kapan berhasil melawan gelap dalam kesendirian?
Mentari bangkit, menguatkan kaki untuk melangkah ke dapur. Membuat nasi goreng dan wedang jahe untuk Pram. Lagi, rutinitasnya kembali seperti semula. Melayani tamu losmen.
"Pram." panggil Mentari.
Pintu terpentang perlahan, si Pram yang habis menelepon emaknya untuk mengabari kalau hari ini dia bersenang-senang bersama pacar bohongannya tersenyum.
"Makan malammu, Pram." Mentari mengulurkan nampannya.
Pram menerimanya. "Terima kasih, cuma gak makan bareng lagi?" tanyanya.
Di antara suara malam yang berpendar, dan lampu yang tak kunjung di ganti, tapi justru sekarang menambah kesan keromantisan sekaligus mendukung Pram untuk curhat, Mentari malah menggeleng.
Pram langsung mendesah, "Ya udah, aku makan sendiri. Cuma kamu tetap disini." tandasnya, memasang wajah antara sedih dan maksa.
Pram sontak menggelengkan kepalanya. Bisa tarik urat kalau sama Dara. Gadis itu sudah ia cap sebagai titisan ibunya. Pintar beralasan dan berkilah, mendebat dan berdebat. Sudah cukup dia mengajaknya berkongkalikong tadi, ujungnya malah hilang harapan. Hanya saja penolakan Pram di anggap Mentari dengan salah frekuensi. Pram pasti keberatan dengan tingkah Dara tadi sore, pikir Mentari.
"Maaf kalo kamu gak nyaman sama Dara, Pram. Adikku emang kurang sopan anaknya, makanya tadi dia kejedot tembok." jelasnya.
"Kejedot tembok?" Pram membeo.
Mentari mengangguk, "Lupain, dia udah kualat ngomongin om-om!"
Pram terbahak, benar dugaannya. Dara pasti mengadu ajakannya tadi.
"Terus tanggapanmu?" Pram menyipitkan mata berlagak heran seraya duduk bersila di emperan kamarnya. "Duduk geulis, gak sopan berdiri di depan om-om!"
Mentari langsung merapatkan rok selututnya. Takut angin membuat wajahnya jadi merona.
Terpaksa ia ikut duduk di lantai, kedua kakinya di tekuk ke belakang dengan arah yang sama ke kiri. Manis, Pram bisa mendapati gadis itu membawa diri.
"Tanggapanku masih sama, aku gak bisa ke Jakarta."
__ADS_1
"Tapi kamu percaya aku bukan orang jahat atau penculik?" tanya Pram, sambil makan dia mendengarkan Mentari menguraikan pendapatnya.
"Seperti kita sudah banyak bicara soal itu, kamu jahat apa tidak, kamu yang tau, Pram."
Pram mengangguk setuju. "Boleh aku tanya sesuatu, Tar?" tanyanya dengan ekspresi serius, sambil makan lagi, buru-buru, entah di kunyah apa tidak, sepuluh menit nasi goreng berserta isinya sudah habis. Tinggal wedang jahe, sekali teguk hilang. Pram tersenyum lega, lumayan kenyang, nanti tengah malam dia akan buat mi instan kalau lapar. Gampang, petualang sejati akan slalu memiliki ide dadakan di atas situasi genting dadakan, contohnya lapar.
"Tanya apa, Pram?"
"Kamu bikin nasi gorengnya pake apa sih." kernyitan tidak suka membuat Mentari ragu-ragu untuk menjawab.
"Pake bumbu instan yang gampang."
"Oh, aku pikir pake sayang, enak soalnya." Pram tertawa.
Muka Mentari sudah gak karu-karuan, bikin jantung pengen keluar dari rongga tubuh lalu mencelat ke angkasa dan terbang bersama roh-roh lainnya alias mati saja. Daripada harus mendengar mulut alasan njeplak itu yang memang sebaiknya di bungkam dengan lakban hitam.
"Kamu emang suka gitu, Pram?" tanya Mentari, bertahan menghadapi laki-laki dan sekedar memancingnya.
"Suka asal ngomong maksudmu?" Pram meluruskan kakinya seraya bersedekap.
Mentari mengangguk.
"Ada masalah sama hal itu? Atau sebenarnya kamu memang jarang di rayu jadi sedikit-sedikit tersipu dengan ucapanku?" tandas Pram lembut tapi kejam untuk Mentari.
Gadis itu memalingkan wajah. Kehabisan kata.
"Gimana, lebih suka aku yang ceplas-ceplos kan daripada serius gitu?" seru Pram, "maaf kalo kamu tersinggung, Tar. Habis emang gitu kok aku lihatnya. Kamu sedikit-sedikit tersipu kayak gak pernah di rayu cowok gitu. Udah lama jomblo?" tanya Pram pura-pura tidak tahu.
Mentari mengendikkan bahu, bersikap tak acuh. "Kayaknya obrolan kita terlalu mengusik urusan pribadi, Pram. Maaf."
"Yups, itu mau gue!" Pram mengangguk, kembali ke logat Betawinya, "bukannya malam ini gue mau ngomongin urusan pribadi gue kenapa gue gak mau nikah dan kabur-kaburan bukan?"
Mentari mengangguk dengan kernyitan di wajahnya. "Itu nggak mengusikmu, Pram? Aku rasa masa lalu nggak harus kamu ceritain di tempatmu hiling, Pram. Gak enak kayaknya."
Pram membasahi bibirnya dan menggeleng. "Gue akan cerita!"
•••
To be continue and happy reading
__ADS_1