Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Baik, Buk.


__ADS_3

Esensi gerakan pendinginan harusnya di lakukan dengan cara yang lumrah terjadi setelah lari-lari adalah perenggangan otot betis, paha, low lunge, atau semacamnya yang berupa proses pendinginan agar tidak mendapatkan cidera otot. Tapi berhubung kedua orang yang telah di pertemukan dalam takdir semesta yang slalu menjadi misteri ilahi. Maka dua orang itu malah ngadem di pinggir sungai. Main ciprat-cipratan air selayaknya dua anak kecil yang di landa kegirangan menemukan ruang dan tempat untuk menunjukkan suka cita.


Mentari mendekap tubuhnya sendiri, sudah kedinginan.


"Pulang! Dan kamu harus bilang sama emak dan bapak kalo kamu yang minta main beginian, Pram." seru Mentari kesal.


Pram terbahak-bahak, dia menyaut sepatu mereka berdua dari atas bebatuan seraya mengikuti Mentari memijak rerumputan liar di pinggir sungai.


"Tenagamu itu terlalu kecil untuk bikin aku basah kuyup, Tar! Udah ayo mandi, eh pulang." Pram meringis atas kesalahan ucapannya.


Mentari mendengus dan tetap terus melanjutkan perjalanan keluar dari area bermain masa kecilnya.


Tiba di jalan aspal, pesona dua orang yang basah itu membuat sebagian orang yang melintas memberi atensi yang berlebihan kepada mereka.


"Tuh gara-gara kamu kita jadi pusat perhatian!" celetuk Pram. Sedetik yang begitu cepat Mentari berbalik, Pram kira cewek yang terus memeras rambutnya itu akan memeluknya, ternyata, si gemes hanya ingin menyembunyikan wajahnya dari seseorang yang menggeber motor dari arah yang berlawanan.


"Dia udah lewat!" kata Pram pelan.


Mentari melongok ke samping, dilihatnya Bisma dan sang istri baru saja lewat.


"Pram," Mentari mengangkat wajahnya, suara ceria yang berpendar di antara cipratan air sudah tergantikan dengan suara gamang, "mas Bisma kalo tahu kamu nginep di losmenku pasti bakal bikin ulah."


Pram membuang napas panjang. Sejujurnya fakta yang baru saja dia tahu kalau selingkuh Bisma sudah hamil dengan usia yang bisa dia pahami dekat dengan tahun baru di mana Mentari juga terkena musibah itu, maka perayaan patah hati sehancur-hancurnya Mentari lengkaplah sudah.


"Siapa dia? Preman?" Pram tersenyum remeh, "kalo dia ngajak gue dalam urusan kalian berdua, gue bakal ikut andil jika dia bikin ulah di losmen kamu. Gue jago karate, jadi kamu tenang aja, Tar."

__ADS_1


Mentari cemberut, dengan semangat yang sudah hilang dia bercerita siapakah Bisma.


"Dia bukan preman, dia cuma orang biasa. Cuma karena bapaknya kades, beberapa orang pasti jadi komplotannya. Kalo diibaratkan dia itu ketua geng. Dulu, sewaktu kami jalan dia gak pernah ganjen, gak kasar, cuma posesif banget. Dikit-dikit marah kalo losmen rame dengan tamu apalagi tamunya cowok-cowok yang sengaja nginep sebelum naik ke gunung Prau apa ke dataran tinggi Dieng dia marah, cemburu, sampai suatu ketika, dia mulai berulah, bikin teror yang bikin pelanggan losmen pergi satu persatu."


Mentari menggeram kesal. "Maaf Pram."


Pram mengiyakan, bebas pokoknya kalau mau curhat saja.


"Teror apa yang dia buat?" tanya Pram penasaran. Lagian Bisma itu kalau ia lihat-lihat, tampangnya memang lumayan tampan. Badannya tidak begitu kekar dan setinggi dia. Jadi teror yang Bisma buat itu menarik perhatiannya.


Mentari berdecak mengingat hal-hal yang membuat down dan terus mengikis isi dompetnya.


"Bayangin aja kalo listrik tiba-tiba mati di tengah malam, terus paginya ada ayam mati di depan losmen pakai darah segar. Jadi waktu kamu bilang kalo losmen ini bertuah, aku gak kaget, aku udah melewati masa kritis menanggapi hal itu kalo losmen berhantu! CK!"


Gadis yang berhati-hati melewati jalan setapak di halaman rumahnya itu sedang tersenyum kecut dan memandang usaha keluarganya dengan sedih.


Meskipun Mentari tersenyum kecut, bahkan kecut sekali, Pram tahu gadis itu sudah cukup membaik mampu bercerita tentang kelakuan Bisma kepadanya. Bukan apa-apa, karena tak jarang beberapa orang memilih menyembunyikan masa lalu ketimbang membaginya dengan orang baru.


"Berhentilah," pinta Pram, Mentari berbalik dan memberanikan diri menatap mata Pram.


"Kenapa? Aku udah kedinginan, Pram!"


"Aku peluk," Pram mengerutkan wajahnya dengan gemas, "bercanda sayang, gitu aja galak lagi. Malu ah habis galau juga." ledeknya sewaktu Mentari mendelikkan mata.


"Mau bilang apa, soal mas Bisma?" sahutnya malas. "Itu udah lama, aku cuma jelasin karena siapa tau bagimu itu penting sayang!"

__ADS_1


Mentari mengusap wajahnya yang sejak tadi air dari rambutnya terus menurun ke wajahnya. Pram meringis, sontak di tatapnya gadis itu lekat-lekat.


"Kamu harus bahagia karena lepas dari cowok jahat sepertinya sayang, camkan itu baik-baik." Pram menyerahkan sepatu Mentari, "gue mau mandi, dan Bisma jadi urusan gue kalo sampai macam-macam disini!" tandas dan serius. Laki-laki itu bersiul sambil mendahului Mentari menuju pintu losmen.


Di dalam, Joko dan Purwati ternganga melihat dua orang yang mereka bicarakan basah-basahan.


Purwati berhenti menyapu taman. "Kalian dari mana?"


"Sungai, buk! Tari mandi dulu ya, habis itu mau sarapan. Ibuk udah masak?"


"Sudah," Purwati mengangguk meski tatapannya tidak fokus, dua orang anak muda itu pasti sudah aneh-aneh di sungai karena setibanya di rumah, dua-duanya langsung pisan dengan muka yang berbeda-beda.


"Makasih buk." Mentari langsung mencelat ke kamar, mengambil handuk dan mandi. Selang setengah jam, baru dia bertemu lagi dengan Pram di ruang makan keluarga. Joko sengaja mengundang Pram untuk makan bersama. Dan di kesempatan itu pula, Mentari mengatakan niatnya untuk healing ke Jakarta bersama Pram.


Sebersit wajah kaget terlihat jelas di muka, Joko dan Purwati, itu benar-benar suprise yang tak terduga dan makin tak karuan hati Purwati mendengar permintaan putrinya. Begitu juga Pram. Makin cepat ke Jakarta rasanya semakin cepat detak jantungnya.


"Aku sama Dara, ibuk. Dia pengen lihat Jakarta. Lagian masih nunggu masa sewa Pram di sini habis. Terus losmen ini tetap buka karena aku bisa handle dari sana." Mentari menatap satu persatu orang di depannya.


Purwati menatapnya tajam, lalu Pram. Suaminya benar, laki-laki itu punya “sesuatu” yang sanggup membius putrinya meski dengan cara-cara yang konyol dan tidak lazim untuk dua orang yang baru bertemu dan membawa kisah masing-masing.


"Dik Pram nanti ketemu sama ibu, berdua saja!"


Dan sebagai laki-laki yang bisa di percaya, padahal dia sendiri seumur-umur belum pernah bawa anak gadis orang jauh dari rumah, Pram mengangguk patuh.


"Baik, Buk!"

__ADS_1


•••


To be continue and happy reading.


__ADS_2