Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Tidak amanah.


__ADS_3

Tidak semua badai datang untuk menghancurkan tatanan hidup yang kembali disusun dengan susah payah, beberapa datang justru turut menimbun kenangan lama dengan cara yang baru, yang wajar adanya, semampu porsi diri hingga tanpa sadar, badai itu merebut perhatian dan menerjang dua orang yang sedang berusaha memapah diri untuk tegak kembali dengan percaya diri.


Mentari mengembuskan napas lelah, beruntung riasan di wajahnya menipu mata siapa saja yang melihatnya jika tidak wajah malu kekurangan daya itu akan terlihat menyedihkan sekaligus prihatin.


"Udah dong jangan cie-cie terus, udah Tari bilang Pram itu cuma tamu losmen, ikut kesini di undang bapak karena biar sekalian ngasih layanan kamar." protes Mentari sambil mengerucutkan bibirnya di hadapan bude Aminah dan saudara-saudaranya.


"Cie-cie, cah ayu salah tingkah, tapi cocok lho Nduk kamu sama Pram. Orangnya mudah berbaur, tuh di luar sama bocah-bocah akamsi pada jajan es krim gerobak di parkiran." adu bude Aminah yang melongok ke luar rumah.


Mentari menutup wajahnya. Benar-benar kehilangan muka karena dia pun tidak bisa menyangkal bahwa semua yang dikatakan keluarga besarnya benar.


Pram asyik orangnya, ramah, dan memang sanggup memasuki topik apa saja yang dibicarakan keluarganya. Maka tak heran orang asing itu sama sekali tidak seperti orang kesasar di acara hajatan orang asing pula yang sebentar lagi di mulai.


"Udah to bude udah, kalau gak berhenti ngeledeknya aku ngambek. Gak mau jadi buku tamu!" protes Mentari sambil melipat kedua tangannya.


Dara terbahak, dia menyaut kipas bulu ayam dengan warna senada dengan kebayanya, merah muda.


"Lagian ngapain salting kalo kamu gak ada perasaan apa-apanya sama om Pram. Hayo, suka ya sama om Pram?" tukas Dara sambil mengipasi wajah Mentari yang sedari tadi sangat menghibur sampai si calon manten yang gerogi atensinya teralihkan olehnya.


Sontak Mentari menarik kain jariknya ke atas sambil menghirup napas dalam-dalam sebelum melengos keluar rumah.


"Pram!" Mentari menggeram, tergesa ia menghampiri laki-laki yang mendelikkan mata. Takjub akan gadis berkebaya merah jambu dengan gincu yang merekah di bibirnya.


Mentari berkacak pinggang. Sementara laki-laki yang membawa badai baru dalam hidupnya itu asyik makan es krim sekaligus menikmati kelakuan si gemes.


"Kenapa geulis? Mau minta es krim juga?" tanya Pram santai.


"Pram!!!" sungut Mentari, "udah aku bilang jangan bikin aku darting, jangan bikin aku salting, lihat—" Mentari menunjuk ke arah belakang. "Gara-gara kamu aku jadi bahan pembicaraan satu keluarga. Malu tau, gak kira-kira sukanya kalau ngomong."


"Maaf." jawab Pram, mengorek sisa es krimnya lalu menyantap sisa terakhirnya. "Maaf geulis."


"Aku Mentari bukan geulis!" protesnya kesal, tak peduli tamu undangan yang hadir di parkiran menatap mereka heran.

__ADS_1


"Iya, maaf Mentari. Mulutku udah kehilangan rem untuk mengatasi kejujuran ini." aku Pram menahan tawa.


Di belakang Mentari, Dara melambaikan tangan meminta si gemes untuk bergabung.


Pram mengangguk. "Sudah sana jadi buku tamu. Tuh udah ditungguin Dara." katanya memberi tahu.


Mentari menoleh, Dara melambaikan tangan.


"Awas kamu kalau ngomong sembarangan lagi aku tendang kamu ke mars! Hiling disana, jangan di losmenku."


Mentari berputar, namun siapa sangka kain jarik yang ketat dan high heels yang dia gunakan membuatnya nyaris terjengkang jika Pram tidak segera menangkap tubuhnya. Mata keduanya menyatu dalam lekat yang begitu dekat. Dua wajah terpantul di masing-masing netra yang menyerap wajah ciptaan sang pencipta dengan tempo yang sesingkat-singkatnya


"Pram, cukup!" kata Mentari gelagapan.


"Ya udah berdiri yang betul dulu. Lagian aku juga cuma bantu kok daripada kamu tambah malu." jawab Pram menegakkan tubuh Mentari.


"Dasar tamu anti mainstream, awas kamu bikin ulah lagi!" ancam Mentari, berbalik, diam, berusaha semaksimal mungkin menetralkan detak jantungnya sebelum dengan kehati-hatian dia melangkah ke depan tenda. Duduk manis, dibuat seanggun mungkin walau batin ingin segera pulang terus sembunyi di kamar.


"Satu menit tapi kenangannya bisa selangit." Buahaha, terbahak gadis itu di atas kesengsaraan si gemes.


Mentari mendengus, alih-alih menghapus video satu menit itu, dia malah mengirimnya ke nomernya sendiri.


Pram bersiul, berkumpul dengan pemuda-pemuda di parkiran sudah cukup baginya karena bisa memantau Mentari, begitu sebaliknya. Jangan salah walaupun kesal setengah mati, si gemes masih tetap memastikan keberadaan tamu anti mainstream itu jelas terlihat.


"Udah punya cowok belum dia?" tanya Pram.


Segerombolan pemuda-pemuda desa yang memang akrab dengan keluarga bude Aminah menghela napas berat.


"Batal nikah dia mas, tunangannya selingkuh." jawab salah satu pemuda berbaju batik.


Pram mengepalkan tangan, merasa geram dengan yang namanya perselingkuhan. Dia juga korban, tapi tak separah Mentari dan konon karena wanita slalu menggunakan perasaan makanya sukar untuk melupakan.

__ADS_1


"Gue harus maksa dia buat hiling bareng-bareng keluar dari losmen, dan yang harus gue sikat dulu adalah orang tuanya, terus si Dara. Cewek itu sebelas dua belas lah, butuh hiling habis ngurus bocah sunat." pikir Pram, seketika terbayang waktu Dara menenangkan bocah-bocah yang habis sunat, "parah, bisa-bisa trauma mereka."


"Kenapa mas tanya-tanya? Suka sama si Tari?" tanya si baju batik.


"Suka gak ya?" Pram mengusap dagunya sambil berpikir. Selang sepuluh menit kemudian dia tersenyum.


"Mungkin kalau aku seusia kalian aku akan gampang menyebut ini dengan kata suka atau tertarik dengan lawan jenis. Tapi berhubung status ku di Jakarta sudah jadi pakdhe banyak pertimbangan yang harus di pikirkan sebelum bilang suka."


"Walah mas-mas, abot banget bahasamu." respon pemuda itu lalu gelang-gelang, "Kayaknya itu keluarga calon pengantin lanang sudah datang."


Pram menengok, nampak rombongan dari calon pengantin pria berada di parkiran dan sedang membentuk posisi berbaris. Beberapa orang membawa seserahan. Satu diantaranya adalah sepasang ayam kampung.


Pram pindah, bergabung dengan keluarga Pak Joko yang kebagian menyambut kedatangan keluarga baru mereka sebelum masuk ke tenda dan melaksanakan ijab kabul.


"Mentari." panggil Pram.


Mentari yang sama sekali tidak mau melihat prosesi ijab kabul saudaranya membuang muka ke arah Pram.


"Apa!"


"Kabur yuk. Aku tertekan lihat orang nikah." aku Pram.


Tawaran itu terdengar menggiurkan, Mentari juga tertekan, ralat, dia sedih, harusnya sebelum saudaranya yang ini nikah, dia sudah melaksanakan pernikahan sebulan yang lalu, namun selagi hidup masih misteri apapun akan terjadi tanpa prediksi.


Mentari mengangguk, menerima uluran tangan Pram sewaktu laki-laki itu membantunya berdiri.


"Aku mau ke Dieng, Pram."


•••


To be continue and happy reading.

__ADS_1


__ADS_2