
Mentari menerima selimut bunga-bunga merah muda dari Salsabila tepat di pukul sebelas malam sehabis ngobrol ke sana ke sini dengan keluarga Pram.
"Teteh nggak apa-apa tidur sendiri?" Salsabila bengong sesaat, menatap kamar tamu yang tidak pernah di pakai.
Mentari yang tahu kamar tamu tidak pernah di gunakan mengendik tak mengerti mengapa harus takut? Kan dia sedang tidak nginep di Jurassic Park yang lengah sedikit di terkam dinosaurus.
"Aku berani kok kak, nggak apa-apa sendiri." kata Mentari tidak enak kalau harus di temenin segala, sudah cukup rasanya bergabung dengan keluarga Pram yang terus membuat pipinya kaku dan merona.
"Ya udah kalo teteh berani, tapi aku kasih saran ya teh, kamarnya di kunci. Si Aa badung pisan soalnya, takut ganggu teteh nanti malam-malam." ucap Salsabila lirih.
"Iya," Mentari mengangguk, Salsabila pergi setelah suaminya dari lantai dua memanggilnya. "Ati-ati ya teh, Aa Pram udah nggak kuat banget tuh. Pengen hareudang di kamar."
Pram yang mendengarnya di halaman rumah mendesis jengkel sambil melompat masuk ke dalam rumah dengan hati yang ikut memanjatkan doa biar semua lancar sampai hari akad.
"Tidur gih, biar besok pagi ikutan naik mobil dua pintu. Keren, jalan-jalan keliling kampung bareng-bareng. Kita bikin cemburu awewe yang dulu nolak aku." Pram mengeluarkan cengiran lebarnya di depan Mentari.
Mentari menarik gagang pintu sambil menjulurkan lidahnya. "Kamu manfaatin aku!"
"Canda, sayang. Canda, nggak hafal-hafal deh kalo aku bercanda itu jangan di masukin hati, tapi masukin paru-parumu biar jadi separuh nafasmu. Eaaa," gurau Pram sambil menaik-turunkan alisnya.
Mentari sama sekali tidak menggubris candaan itu, dia asyik memutar bola matanya sebagai respons tak peduli.
"Baru juga separuh nafasmu udah sombong, coba kalo seluruh nafasmu buat aku. Baru aku suka." rutuk Mentari sambil menjulurkan lidahnya lagi. "Aku tidur dulu, Aa. Good nite."
Pram memajukan kaki kanannya untuk menahan daun pintu yang nyaris tertutup. Dari celah selebar satu jengkal, Pram memajukan wajahnya sampai menyentuh daun pintu.
"Mau aku temenin biar bisa tegang bareng-bareng?"
__ADS_1
Mentari menghadiahi dada Pram dengan cubitan.
"Yang ada kita di marahi emak! Udah sana ke kamar kamu sendiri, Pram." kata Mentari galak, akibatnya Pram jadi menarik kakinya dengan muram.
"Ngambek gue di panggil Pram doang. Aa atuh kalo enggak aku bilang emak kamu nggak sopan, Tar!"
Mentari melebarkan pintu kembali setelah mati-matian menahannya. Ia sudah menduga Pram hanya bercanda, tapi muka cemberut itu tidak berubah menjadi cengiran andalannya setelah lima menit menjadi momen hening di penghujung malam.
Mentari mengusap lengan Pram. Bisa saja lelaki ini kecewa dengan sikapnya. "Iya, Aa. Jangan ngambek gitu lah, hilang nanti kasepnya."
Pram menahan senyum, dia sudah cukup kenal untuk tahu bahwa selain Mentari mudah di tebak, gadis itu slalu bilang tidak mau gagal lagi. Sudah cukup sekali, imbasnya sudah fatal, apalagi dua kali gagal tunangan. Cantik-cantik nggak laku.
Pram mengelus kepala Mentari. Ada yang salah dengan malam ini, kembali ke rumah orang tua dan di kelilingi orang tercinta justru bikin dia susah tidur. Apalagi setelah sore tadi izin ke ketua desa membawa tamu dari jauh, keberadaan mereka sudah terendus oleh warga sebagai calon manten.
Sentuhan Pram turun ke bahu Mentari.
"Kapan-kapan ajak orang tuamu ke losmen biar mereka tau keluargaku dan tidak menyesal telah menikahkan putranya dengan anak kaki gunung sepertiku."
Pandangan mata Pram jadi mengiba. Terlalu sulit mengabaikan Mentari seperti ikan-ikannya di kolam. Berharga, bermanfaat, mengenyangkan perut dan dompet. Juga berenang-renang di isi kepalanya.
"Tar..., Aku bakal yang ngemis cintamu kalo orang tuaku protes dengan keluargamu. Sumpah, nggak peduli gue, udah nyuruh-nyuruh buruan nikah. Giliran udah dapat yang pas malah di persulit. Jadi kamu tenang aja, aku yang bakal protes nanti."
Asih yang mendengarnya di dalam kamar mengelus dada. "Si kasep beneran suka sama neng geulis. Mau ngemis-ngemis lagi, ngemis cinta. Hihihi, kasian amat bujang emak."
Mentari termangu hatinya saat Pram menggenggam tangannya. Semua itu nyata, tidak semu.
"Nggak usah di pikirin ya, aku udah siap berkeluarga dengan apa yang gue punya di rumah. Kamu hanya perlu siap-siap aja jadi ibu untuk anak-anak kita nanti."
__ADS_1
Perut Mentari bergetar-getar sewaktu kamar yang Asih tempati terbuka perlahan. Pram juga langsung melepas tangannya.
"Kenapa, Mak?"
Asih mengucek matanya sambil menguap. "Kalian ngapain masih berdiri di depan kamar gitu-gitu, mau mau macem-macem ya, mau berdua-duaan di kamar biar emak buru-buru nikahin kalian?" tukasnya sengaja.
"Emak mau apa keluar kamar? Mau minum?" tanya Pram, mengabaikan tuduhan ibunya.
"Emak mau sholat tahajud biar anak emak batal jadi pengemis cinta, malu-maluin."
"Emak!!!" Sekonyong-konyong Pram langsung memeluk ibunya, diberikannya kecupan-kecupan kecil di pipi ibunya yang di makan usia. "Emak nguping?"
Asih mengungkung tangan Pram yang melingkar di perutnya.
"Masuk ke kamarmu neng geulis, biar emak bawa Pram ke kamarnya. Bisa sampe subuh kalian begitu kalo nggak ada yang patroli. Bahaya." Asih berjalan pelan-pelan sambil menarik Pram ke arah tangga.
Pram menoleh. "Good nite, darling. Aku batal jadi pengemis cinta walaupun aku tetep akan slalu minta kamu buat cinta sama aku."
Mentari merasa disuguhkan kenyataan bahwa Pram benar-benar serius memasukkan namanya di bawah namanya di lembar kartu keluarganya. Ia tersenyum, tak sanggup melawan hukum alam yang meminta seluruh bait-bait puisi cinta yang romantis adanya tersaji hanya untuk Pram semata.
Mentari merebahkan diri di kasur, tepat di lantai atasnya, di lantai dua, Pram juga langsung merebahkan diri di kasur setelah kamarnya di kunci Asih secara paksa.
"Emak bener-bener nguping, tapi baguslah, emak sadar perbuatannya kemarin-kemarin salah." Pram menyengir, "Bisa tidur nyenyak gue, Arghhh... nggak sabar gue pengen buru-buru pagi. Ketemu dua Mentari yang sama-sama bikin anget." Pram memejamkan mata sambil tersenyum penuh kelegaan, mungkin sudah saatnya dia berhenti bertanya siapa seseorang yang menyimpan tulang rusuknya yang hilang.
•••
To be continue and happy reading.
__ADS_1