
Sebagai suami yang sedang diatas kelegaan dan puncak harga diri yang hendak diambang patah hati, Pram menyapu taman di tengah losmen seraya merapikan tanaman-tanaman yang ada di sana sambil bersiul-siul. Ia terbebas dari tugas masak-masak karena sudah ada empat perempuan paling dia segani di dapur losmen idaman. Mentari, Asih, Purwati dan Wartini yang membuat ruangan itu ramai akan ocehan ibu-ibu dan calon ibu.
"Mereka gak capek apa ngomongin gue daritadi? Emak mah, buka aib gue terus jadi gak kelar-kelar."
Pram mengusap keringat di keningnya dengan punggung tangan. Satu jam sudah ia membuang waktu dengan membersihkan taman dan halaman losmen. Tapi tak kunjung rombongan yang main di kali itu pada kembali.
"Gak-gak-gak, jangan sampai mereka pulang-pulang nanti basah semua. Cucian langsung banyak dan gue–gue yang harus nyuci." Pram menunjuk dirinya sambil geleng-geleng kepala. "Bener-bener ngerasain jadi Mentari gue. Kesel-kesel sedap!"
Pram melanjutkan kegiatannya membuang dedaunan yang ia kumpulkan ke tempat sampah. Pada akhirnya, empang yang dulu pernah dia perbaiki kembali ke tempat semula. Menjadi tempat pembuangan sampah dan ia hanya bisa tersenyum melihatnya.
"Yang penting usaha gue berhasil." Pram meraih sapu lidi yang tergeletak di tanah seraya mengembalikannya ke dalam rumah, ia mencuci tangan sambil mendongkakkan kepala.
"Apa sayang?" tanyanya, bersiul, tangannya menggosok betis sampai tumit kaki seraya membasuhnya dengan air.
Mentari tersenyum, menunjuk gudang yang berada di samping kamarnya. Masih ada cara untuk menggoda kecemburuan Pram terhadap Maxime setelah fakta baru, Maxime sudah tahu mereka nikah.
"Ambil tikar Aa, Maxime barusan chat, mereka udah dalam perjalanan pulang." jelasnya dengan antusias. Mentari mengulum senyum sewaktu suaminya menyipitkan mata.
"Chat itu doang? Bukan chat curahan hatinya gue skakmat tadi?" Pram menyelidik, bisakan Maxime tampak tegar didepannya, tapi dibelakangnya segenap hati yang belum ia sampaikan ujungnya diungkapkan secara daring.
Mentari memasang senyum termanisnya yang sedikit mengandung was-was untuk Pram.
__ADS_1
"Sayang jawab!" desak Pram, dengan iseng ia membasahi tangannya dengan air dan menciptakannya di wajah Mentari. Istrinya kontan terbahak-bahak dan menutup wajahnya.
"Mana hp kamu, Tar? Mau lihat sendiri aku, dan ogah mendengar jawabanmu!" Pram meraba kantong celana dan jaket yang Mentari gunakan. Tiba dimana benda pipih langsing dan berkamera depan belakang itu terasa di telapak tangannya. Pram langsung merogoh sendiri ponselnya istrinya.
Dengan langkah cepat, seperti penguntit yang mendapat benda sasaran, Pram langsung mencari tempat teraman untuk membuka ponsel istrinya. Wajahnya jadi cemas dan bersiap menerima kemungkinan besar yang terjadi.
Maxime green eyes. Nama yang ada di aplikasi chat Mentari.
"Mata hijau, untung bukan mata duitan elo Max. Tapi mata-matain istri gue."
Pram membuang napas, tanpa sedikitpun rasa kecewa yang benar-benar ada, laki-laki itu membaca chat dari Maxime yang berisi foto-foto rombongan pelancong itu di sungai yang sedang beraliram sedang. Mana pada seru-seruan semuanya seperti sudah kenal lama, tak ada yang cemberut. Semua bibir nyaris meringis atau mangap dan ketawa.
Hanya Pram seorang yang menekuk wajahnya. Cemberut.
Mentari menyentuh pinggang Pram dari belakang sehingga laki-laki itu menoleh dan tanpa sadar mendengus.
"Biasa saja, Aa. Kesampingkan cemburu yang bikin Aa malah jadi lucu." kata Mentari, ia mengambil ponsel yang diulurkan Pram tanpa berbalik kepadanya.
Pram terdiam memikirkan cara untuk tetap percaya diri di atas gempuran ejekan dari sahabat-sahabatnya. Sementara Mentari memikirkan kegundahan hati suaminya, sebuah gagasan yang berlawan arah namun sama-sama pada satu masalah yang sama. Rombongan pembuat onar, baik jiwa ataupun raga.
"Aku sudah milik Aa, apa yang Aa takutkan lagi?"
__ADS_1
"Harapan, Tar. Gak baik ngasih orang baik sebuah harapan kosong." Pram berbalik, lalu memeluk raga yang baru saja ikut memeluknya.
Aku tidak memberinya harapan, bahkan sama ketika kita bertemu. Cuma keadaan hati seseorang siapa yang tahu dan siapa bisa cegah. Tapi ternyata kamu singgah dan tidak pergi, Pram. Gak tau lagi aku gimana keadaan ku jika dulu kamu tidak datang dengan drama kehidupanmu yang bikin aku pusing.
"Udah-udah, masakan udah pada mateng itu, Pram, Tar. Buruan piringnya dikeluarkan dari dapur, jangan lupa gelas sama jumbo air. Banyak tamu ini, jangan cuma peluk-pelukan terus!" seru Asih di ambang pintu.
Pram dan Mentari sontak melepaskan pelukan dan kecupan manis di pagi hari.
"Iya, hatiku ini lho baru nggak tenang." aku Pram dengan cengengesan, "bapak gimana? Apa perlu di bawa ke klinik?"
"Bapak cuma capek, udah jalan-jalan noh sama besan Joko!" Asih membuang napas, "Pram sekarang kamu siapin semuanya terus mandi. Antar emak ke panti asuhannya Dara." ucapnya serius.
"Emak serius mau adopsi Dara?" tanya Pram langsung serius, "Bapak sama ibu sudah setuju kalo Dara kita asuh?" tanyanya dengan ekspresi yang sulit di tebak.
Asih mengangguk tanpa ragu karena sejak dari Jakarta kemarin ia sudah menyiapkan data lengkap syarat pengadopsian anak.
"Sudah, emak sama besan sudah bicara di dapur kasep. Besan setuju-setuju saja, karena Dara kan memang bukan tanggung jawab mutlak mereka, jadi nanti kalian berdua temani emak dan bapak untuk pengajuan pengadopsian Dara di panti sekaligus sebagai saksi."
Dari arah pintu masuk, Dara yang basah kuyup langsung berlari menubruk tubuh Asih. Dipeluknya tubuh perempuan sepuh yang mengangkat kedua tangannya dengan muka kaget. Air matanya banjir tak kalah banyak seperti tetesan air sungai dari tubuhnya yang ia bawa pulang. Dara, gadis tak bernasab itu kini benar-benar akan memiliki keluarga seperti harapan yang kerap kali tubuh di benaknya walau terus ia tepis sendiri.
Siapa yang bahagia? Mentari dan Pram memeluk gadis itu bergantian walau kemudian mandi dan mengantri kamar mandi adalah kegiatan yang membuat Pram dongkol setengah mati.
__ADS_1
•••
To be continue and happy reading