
Mentari memberi atensi yang tidak bisa Pram baca artinya. Gadis itu beringsut mundur namun tersenyum ramah sembari mengangguk khas resepsionis hotel yang menyambut kedatangan tamu hotel. Bedanya resepsionis losmen idaman di depannya sekarang biasa saja, tidak pakai gincu, ujung rambut mencuat ke sebarang arah, belum mandi pula.
Tapi mata bening yang rikuh ketika menatap dan memanggilnya dengan sebutan "Mas Pram" tadi menarik baginya. Ada ketakutan yang diperlihatkan di balik senyum ramah Mentari.
"Gue udah transfer untuk booking kamar? Kamu gak lupa kan nyiapin kamar buat gue? Kok jadi resah gitu?" tanya Pram curiga. "Apa jangan-jangan kamu lupa, Mentari?"
"Tidak - tidak, aku tidak lupa. Semua kamar siap di pakai dan bersih." jelas Mentari dengan suara yang dipaksa untuk tenang.
"Ya udah kalau gitu ayo ke kamar. Punggung gue udah capek banget, Mentari." keluh Pram sembari merenggangkan tubuhnya tanpa rasa malu sedikitpun di hadapan seorang gadis.
"Baik, mari kita ke kamar." jawab Mentari akhirnya. Tapi diam-diam ia menarik napas dalam-dalam sewaktu Pram menurunkan koper-kopernya dari dalam mobil.
"Banyak banget bawaannya, mau nginep berapa hari mas Pram?" batin Mentari, memberi senyum formal ketika Pram meringis bodoh kepadanya.
"Kamu mau main tebak-tebakan gak?" tanya Pram.
"Apa?"
Untuk pertama kalinya Pram tersenyum sembari ditatapnya wajah penasaran Mentari yang menunggu jawabannya.
"Satu di antara koper ini ada isinya, yang dua kosong. Jadi kamu pilih satu terus bantuin gue angkat ke kamar. Mau?" jelas Pram.
Mentari yang mendengarnya semakin yakin, Pram itu aneh. Untuk apa coba koper kosong pakai dibawa segala, mana ngajak main tebak-tebakan. Apa Pram lupa umur, atau terjebak dalam tubuh laki-laki dewasa hingga di usianya yang terbilang sudah layak punya anak masih ngajak main tebak-tebakan.
"Gimana Mentari? Tangan gue cuma dua ini, jadi kamu pilih mana yang mau kamu bawa. Lagian gue juga dapat pelayanan dari gadis cantik kan? Mana dia?"
Pram mengedarkan pandangannya, yang ia dapat ya cuma Mentari. Tidak ada Dara karena gadis tengil itu baru pulang ke panti asuhan untuk membantu masak-masak acara sunatan.
"Kamu gadisnya?" tuduh Pram.
Mentari mengangguk samar sambil tersenyum malu.
__ADS_1
"Ya udah pilih. Apa perlu, cap-cip-cup mana yang harus aku kecup!" seru Pram sembari menunjuk koper-kopernya bergantian.
"Bukan gitu lagunya!" sergah Mentari gemas. Lagian apa yang mau dikecup, kopernya? Dasar aneh, rutuknya.
"Terus gimana? Gue lupa." aku Pram sembari menahan ringisan di bibirnya karena hanya lirik itulah yang sering ia nyanyikan ketika menghadapi empat keponakan kala kumpul keluarga.
"Cap-cip-cup kembang kuncup, mana yang harus di cup!" lantun Mentari seraya menarik koper yang sontak membuatnya melebarkan mata.
Pram meringis. "Terima kasih, ayo ke kamar."
Mentari menarik koper yang beratnya minta ampun ke dalam ruang tamu.
"Maaf Pram, bisa saya pinjam kartu identitas untuk mengisi buku tamu sebentar." kata Mentari, berdiri di balik meja kayu mahoni setinggi satu meter di sudut ruangan sembari mengambil hard book dan kunci kamar.
Pram menarik dompet dari kantong celana jinsnya seraya mengulurkan kartu tanda penduduknya.
"Jangan salfok sama tanggal lahir gue, ntar bukan lagi di panggil mas gue, tapi Oom!" seloroh Pram.
Mentari tersenyum, bukannya mengindahkan peringatan Pram. Dia mencatat dan mengingatnya dalam kepala.
Tiga puluh lima tahun, pantes udah kelihatan dewasa, pikir Mentari. Ia mengulurkan kembali kartu identitas Pram.
"Mari ke kamar." ajak Mentari, kembali meraih koper Pram.
Bagai kerbau yang dicolok hidungnya, Pram mengangguk. "Ayo, gue udah gak sabar tau dari tadi."
Keduanya berbalik badan dan menuju kamar. Pram sudah benar-benar ngantuk, tapi sejak tadi siapa sangka ia benar-benar memperhatikan semua yang ada di losmen idaman dengan saksama.
Dari brosur yang udah kucel di dompet gue, sekarang gue bener-bener ada disini. Ajaib.
Mentari berhenti ke kamar nomer satu, kamar yang Pram inginkan dengan biaya sewa yang telah di bayar lunas.
__ADS_1
Mentari menjejalkan kunci ke lubang seraya mengayunkan daun pintu dan menghidupkan lampu.
"Silahkan masuk, Pram." Mentari merapatkan koper seberat dirinya ke tembok, begitupun Pram. Lelaki itu kemudian menatap kamar penginapannya dengan pandangan menilai.
Kasur lebar yang terbungkus seprai putih dan berselimutkan bedcover batik. Dua bantal dan dua guling diatasnya.
Di depannya, satu televisi dan antena berada di meja panjang yang juga untuk meletakkan handuk dan macam-macam kebutuhan mandi dalam porsi kecil di atas talenan kayu selebar dua jengkal.
"Layanan kamar setiap pagi, makan siang dan makan malam, Pram. Tapi kalau ada sesuatu yang penting bisa cari saya di rumah belakang." jelas Mentari, dia mengeser gorden yang sanggup memperlihatkan rumah pribadi Mentari dari kamar Pram.
"Saya disana, kecuali kalau sedang keluar rumah." jelas Mentari.
"Gampanglah, gue anaknya asyik kok. Tapi untuk sementara ini, gue mau tidur aja. Makan siangnya pending sementara. Mungkin jadi makan sore? Lihat ntar, gue gak perlu dilayani selayaknya benar-benar tamu disini. Gue cuma butuh tenang."
Pram menghempaskan tubuhnya di sofa. Merasa kacau sendiri dengan kamar yang menurutnya sanggup untuk hiling ternyata adalah kamar berpasangan. Sementara dia, Jomblo! Karatan! Ngenes!
"Baik." Mentari mengangguk, sekilas dia memandang Pram. Lelaki itu melepas sepatu dan langsung menjatuhkan diri ke belakang.
"Selamat istirahat, Pram."
Mentari menutup pintu kamarnya dengan kelembutan seorang perempuan dan bergegas pergi ke rumahnya setelah mengunci pintu delan. Mentari yakin Pram benar-benar tidur karena terlihat saking capeknya.
Tapi sayangnya tidak, lelaki itu masih membuka mata. Entah merasa healing yang dia lakukan akan berangsur membaik atau justru takdir itu terlanjur menuntut adanya perubahan status KTP?
Pram melonjak dari kasur seraya mendekat ke jendela, dia memperhatikan Mentari masuk ke rumahnya, tak lama gadis itu keluar membawa handuk.
Pram tersenyum, sedikit bagian dari hatinya yang bersifat jantan berfungsi normal.
"Manis juga resepsionis losmen idaman. Padahal gak mandi. Coba kalau mandi dan dandan, ahhhh..." Pram melompat ke kasur, mendekap guling dan mengurungnya dalam dekapan.
"Merancang mimpi dululah, sebelum ganggu resepsionis losmen idaman dengan permintaan layanan kamar!"
__ADS_1
•••
To be continue and happy reading.