
Bagian paling ironis dari perjalanan pulang yang di isi Mentari dengan menetralkan rona wajahnya dan doa adalah rumah.
Tak lama lagi. Motor berbelok, roda dua itu melindas kerikil-kerikil hingga menimbulkan suara derak di bawah kanopi pepohonan yang rindang sebelum terpaksa berhenti di samping rumah.
Jantung Mentari berdetak seperti irama kendang di acara dangdutan. Sayangnya Mentari tidak bisa bergoyang, salah tingkah itu masih membuatnya tak berani menatap Pram.
"Kamu beneran gak mau turun, Tar? Masih lemes kakinya?" tanya Pram.
Sudah dimatikan mesin motornya, sudah dicabut pula kuncinya, tapi si Mentari masih duduk santai di jok dan karena Pram juga sebenarnya biasa aja, capek juga, dia turun dulu. Diulurkan kunci motornya kepada sang pemilik.
"Udah gak usah malu gitu, aku gak akan godain kamu. Sumpah, kalau tadi bikin kamu gak nyaman."
Mentari mengangguk setuju, itu yang dia mau, betapa Pram pengertian.
"Makasih Pram." kunci tergenggam erat di tangan, Pram bersiul riang sembari melambaikan tangan.
"Aku mandi dulu, Tar. Jangan lupa layanan kamar, aku tunggu!"
Alih-alih turun dari motor dan segera masuk ke dalam untuk menyajikan soto ayam buatannya dan mengambil baju-baju kotor Pram, Mentari malah membuang waktu di samping rumah, masih di atas motor lagi.
"Kalau Pram udah punya pacar, duh gak enak banget aku. Bisa-bisa Pram mikirin aku terus ribut sama pacarnya," Mentari geleng-geleng kepala, "gak - gak, aku harus minta maaf soal tadi."
Mentari bergerak, mendorong pintu yang telah termakan usia dengan cat yang sudah mengelupas.
Mengendap-endap, Mentari mendekat ke kamar nomor satu.
BYUR... BYUR... BYUR...
Pram membuang air dengan cepat dan banyak-banyak biar sekalian menghilangkan bekas Mentari yang begitu melekat di punggungnya.
"Untung gue olahraga, coba gue kerempeng, jatuhnya tadi di seruduk kambing dan bonyok berjamaah. Bukan romantis dan bikin Mentari tersipu-sipu."
Pram menggosok seluruh tubuhnya sambil bersiul. Berhubung air di bak mandi sangat dingin meski mentari di luar sangat cerah, Pram buru-buru membebat pinggangnya dengan handuk seraya keluar dari kamar mandi.
"Seger bener dah, udah kayak mandi pake es. Adem benerrr..!"
Mentari berjongkok, menggigit bibir bawahnya sembari mengendap-endap menjauh dari sana.
__ADS_1
"Bisa gawat kalau ketahuan, ntar aku dikira caper lagi dan tadi lain lagi ceritanya," Mentari mengembuskan napas lelah, "capek, udah kayak kodok."
"Tar, ngapain jongkok di sana?" teriak Pram di ambang pintu, dihampiri gadis itu dengan langkah lebar-lebar sembari membawa tubuh yang segar dan wangi.
"Habis ngapain ngos-ngosan gitu, atau masih kepikiran soal tadi?"
Pram ikut berjongkok, dilihatnya sendal jepit Mentari berada di tangan kiri gadis itu. Buru-buru Mentari mengenyahkan sendalnya dari mata Pram. Biar tidak curiga kalau dia habis jadi penguntit tamunya sendiri.
Ragu-ragu Mentari menyunggingkan senyum setelahnya.
"Pram, boleh aku minta maaf soal tadi, aku gak sengaja semuanya terjadi hanya spontanitasku karena takut. Bisa dimaafkan?"
Pram diam dengan takjub. Sulit mengabaikan permintaan maaf gadis itu, seperti halnya dompet di saku celananya.
"Dan tolong jangan berpikir aneh tentang aku." tambah Mentari.
Pram merogoh saku celananya sebelum berkomentar.
"Kalo kamu spontan karena khawatir dan takut itu tandanya kamu juga normal, Tar. Sama kayak aku. Bedanya, cowok pakai logika, cewek pake perasaan. Udah gitu aja, tapi lebih berbahaya untuk cewek sih, jadinya wajarlah untuk hal kayak tadi kamu jadi salah tingkah dan menganggap itu berlebihan, perasaan cewek itu kayak bunglon," Pram tersenyum, "nih dompet kamu, aku gak tau isinya. Coba cek."
"Aku kira, aku akan kehilangan dompet ini selama-lamanya," Mentari menoleh dan tersenyum hangat, "terima kasih, Pram."
"Sama-sama." Pram memberikan senyum anak baik-baiknya, "jadi mana soto dan tempe gorengnya, Tar? Aku udah laper lagi nih walaupun tadi udah makan bubur sama njamu."
"Njamu?" Mentari terkesiap, "maaf aku lupa kasih layanan kamar tadi pagi. Aku tidur terlalu nyenyak jadinya gak ke pasar pagi-pagi sekali." akunya malu-malu, padahal juga bokislah, pagi tadi dia hanya mau ngumpet dari Pram. Tanpa tahu hukuman dari kecurangannya ternyata lebih parah dari dugaannya sendiri.
Pram mengangguk, "Tapi sotonya masak belum? Aku bisa ngambek lho Tar kalo udah gak dikasih layanan kamar, soto gak dimasakin, rasanya aku tuh kurang di service disini. Sedih," Pram memasang wajah lesu.
"Kalau yang itu udah Pram! Tapi mungkin udah dingin sekarang," Mentari berdiri, "aku siapin dulu, kamu mau makan dimana?"
"He'eh, disini aja, Mentari. Tapi aku mau menikmati sotonya bareng yang buat, kira-kira bisa gak? Biar sekalian kalau kurang apa-apa aku tinggal bilang."
Tanpa sadar Mentari memutar bola matanya jengah.
"Untung tamunya hanya kamu, Pram. Coba kalau semua kamar disini penuh dan permintaannya seperti kamu. Mati aku."
Pram terbahak dan kemudian sadar apa permintaannya gak wajar?
__ADS_1
"Biasa aja tuh, toh gue kan cuma minta layanan terbaik dari losmen ini. Kalau gak wajar paling Mentari aja yang keberatan."
•••
Di dapur, Mentari mencuci tangannya seraya kembali mencicipi cita rasa soto ayam buatannya. Berkali-kali ia mencecapnya memastikan rasanya tetap sama.
"Pas kok, enak. Kalau Pram sampai bilang ada yang kurang mungkin lidahnya tebal!"
Gadis itu kembali memanaskan kuah sotonya dengan api besar. Selang lima belas menit, semua siap di bawa ke hadapan Pram.
Laki-laki itu tersenyum sembari menghirup aroma kuah soto yang terlihat kuning dan menggiurkan.
"Sambel sama kecapnya mana, Tar?" komentar Pram ketika tidak ditemukan mangkok sambal dan kecap pelengkap enaknya kuah soto itu.
Mentari kembali masuk ke dalam rumah, mengulek cabe rawit dan bawang putih kuat-kuat sambil dibayangkan wajah Pram yang berada di dalam cobek itu.
"Prammmm!!!"
Mentari mengembuskan napas kasar, dibawanya sambal dan kecap tadi kembali bertemu Pram.
Mentari tersenyum ramah walau hatinya terasa dongkol. "Semoga sesuai selera mu, Pram. Selamat menikmati."
"Kamu juga, Mentari. Kalo enak aku pasti nambah lagi kok, kamu tenang aja!" Pram meringis, "kamu juga makan, jangan malu-malu. Kalo malu gak kenyang, itu kata emakku kalau lagi datang ke acara besar, jadi makan aja jangan malu-malu terus."
Mentari mengangguk, melihat Pram dengan penuh penilaian.
"Selain terlalu peka, dia terlalu jujur. Tapi bukannya terlalu jujur kadang menyakitkan?"
Mentari tersenyum sewaktu Pram menaruh dua tempe goreng di mangkoknya.
"Makan dan jangan lihatin gue kayak gitu, gue nanti salting, Tar! Terus susah makan dan jadi baperan." sahut Pram, memecah keheningan dan seketika Mentari membuang muka ke arah langit dengan rona merah padam.
"Mau ditaruh dimana lagi mukaku ini," rutuk Mentari dalam hati.
•••
To be continue and happy reading.
__ADS_1