
Pram bergeming di pinggir balkon setelah berlari di atas tredmill puluhan menit yang lalu. Peluh sebesar telur semut berserakan di sekujur tubuhnya, terlihat basah dan berkilauan di bawah sinar matahari pagi. Tapi lelahnya terbayar dengan pemandangan orang senam di halaman belakang dengan instruktur gadis manis yang membuktikan kalau dia bisa masak dan telah teruji secara langsung oleh Asih, Pram bersiul keras. Memuja Mentari dengan canda.
"Terus geulis, terus. Ke kanan, putar, sikat, jangan kasih kendor!" teriaknya lantang-lantang.
Mentari mendongkak, tubuhnya yang bermandi keringat terlebih gerakan senam yang terus lanjut membuatnya hanya bisa menelan rasa jengkel dengan sendirinya. Apalagi ada keberadaan Asih, Bagyo, Sum, Dara, Ari, Danang dan Tegar di belakangnya.
"Malu tau di lihatin gitu, mas. Pergi sana!"
Pram terkekeh melihat muka si gemes jadi sebel.
"Emang ya Tuhan maha baik, gue suka olahraga, dapet calon istri instruktur senam. Mantap jaya, tiap hari nanti bakal tarik mas, tangan ke atas, goyangkan badan. Putar, hiyakkkk."
Pram menuruni anak tangga dengan lintang pukang lantas berlari kecil ke arah Mentari. Si gemes yang malu harus bersanding dengan Pram berlari menjauh di ikuti semua anggota senam hingga ia berhenti sewaktu Bagyo yang nampak sangat kelelahan dengan dada yang mengembang mengempis dengan cepat membungkuk, memegang ke dua lututnya. Napasnya terengah-engah.
"S—udah, ba–pak capek."
Mentari langsung melotot ke arah Pram, "Udah di bilang usilnya jangan kebangetan!" rutuknya dalam hati, Mentari menyeka keringatnya lantas menggiring pengikut semamnya kembali halaman belakang untuk melakukan pendinginan. Sementara Pram memapah Bagyo ke kursi taman.
"Tarik napas dalam-dalam terus keluarkan, pak. Ulangi lagi, sampai aku selesai ambil minum." Pram menepuk ke dua bahu ayahnya dengan pelan.
"Bawa untuk yang lain juga, Pram!" kata Bagyo dengan napas ternganga.
Pram mengangguk sambil bersiul geli, terbayang main kucing-kucingan tadi. Sekejap namun menghibur diri.
"Banyak-banyak sabar ya geulis kalo sama si kasep, otaknya sedang kemana-mana jadi bikin lieur terus. Emak sendiri pusing ngurusnya." kata Asih sambil tertatih-tatih mendekati suaminya.
"Jantung aman, pak?" tanyanya lalu menghempaskan tubuhnya dengan hati-hati. Asih memegang punggungnya. "Capek bener lah."
Bagyo mengelus dadanya. "Makanya ayo Sih mulai sekarang jalan-jalan pagi, biar tidak syok jantung setiap minggu di ajak mantu enam pagi."
"Halah," Asih mengibaskan tangannya, "Biar Pram aja yang senam, pak. Kita mah keliling kebun juga udah olahraga, nggak usah di paksa. Usia nggak bohong!" urainya dengan napas lelah.
__ADS_1
Mentari yang mendengarnya menundukkan kepala sambil tersenyum geli.
"Minum-minum," seru Pram yang membawa satu nampan besar, "oiii yang di belakang sono jangan arisan dulu lah. Gabung sini." teriak Pram sambil menaruh sepuluh gelas air putih di meja.
Dara dan para pekerja Pram menggeleng, lebih enak selonjoran di rumput sambil menengadah menikmati pagi-pagi yang sudah di genjot senam pagi.
Pram terkekeh, bersedia membawakan mereka air putih setelah Mentari juga ikut selonjoran di sana.
"Dua jam lagi kita berangkat ke Jawa barat, kalian tadi malam udah packing?" tanya Pram.
Dara, Tegar dan Danang mengangguk cepat, hanya Mentari yang diam sambil meneguk air putihnya. Ia mengerti jarak akan saling menjaga, tapi hati sedang menggebu akan rasa. Jadinya pisah rumah setelah kerap bersama itu nyut-nyutan ya, rindu tertahan, rindu bersuara. Tapi jarak memang menguji mental agar setia dan ikhlas menunggu sampai waktu bertemu. Ujian cinta katanya orang-orang.
"Jadinya kita mau balik kapan, Tar?" Dara menyeletuk.
Mentari memangku gelasnya sambil menghela napas. "Secepatnya." katanya dengan getar-getar keraguan.
Pram yang mendengar keraguan dari suara Mentari mendadak menjatuhkan diri di sampingnya.
"Males denger orang cinta-cintaan!" gumamnya. Lalu berdiri, minggat, ikut Ari ke gubuk bambu di tengah empang.
Mentari memutar cincin yang sejak kemarin melekat di jarinya, rasa hatinya tak ingin Pram bersama yang lain. Tapi sudah, memang begitu adanya. Pulang ke losmen adalah keharusan, kembali menikmati keindahan pedesaan dengan hati yang berbeda. Ada nama yang tidak biasa di hatinya. Pramoedya Aji, tamu losmennya sendiri yang mati-matian ia puji lalu ingin ia tendang jauh-jauh dari sisi. Emang berani si Mentari, nantang orang dewasa jadinya kualat sendiri.
Mentari tersenyum lebar, tapi percayalah lain di mulut, lain di hati.
"Mau kok, jadi izinkan aku berjarak, biar kita sama-sama yakin arti pertemuan kita, mas."
Pram tersedak pura-pura. Sedikit tidak senang di panggil ‘mas’ karena mengingatkannya akan ‘mas Bisma’, Pram meneguk air putih lalu menengadah. Cahaya matahari kali ini sama hangatnya dengan sentuhan lembut Mentari di lengannya.
"Kita bisa kan, mas?" tanya Mentari.
"Boleh aku request panggilan yang lain, Tar?" tanya Pram ragu.
__ADS_1
"Boleh, mau yang mana? Aa atau akang?"
"Aa."
Mentari mengangguk sambil menyunggingkan senyum. Satu detik kemudian, dia menunduk malu.
Pram menekuk lututnya hingga bersila. Ia menegakkan tubuh, memandang lurus ke dua orang tuanya yang juga memandangnya.
"Gue bisa, semoga lah ya, cuma kamu harus tau Tar, gue lagi di tahap senang-senangnya punya tunangan. Pengennya nempel terus. Cuma tuh, mereka, liat gue kayak penjahat pencuri hati. Bahaya." Pram menyeringai, ketawa pelan. "Aku khawatir mantanmu rese lagi, Tar. Jadi gimana kalo sebelum kamu balik, aku ajari karate?"
"Boleh," Mentari mengangguk, "biar kamu juga bisa aku karate kalo macem-macem!" ancamnya galak.
Pram tertawa cekakakan. Takjud juga, mana mungkin Mentari sanggup meng-karate dirinya. Yang ada cewek itu ciut duluan menjadi partisipannya.
"Aku nggak akan macem-macem sayang, aku setia kok karena yang ada di tubuh ini di bawah teritorimu. Jadi aku bakal jaga buat kamu, percaya kan?" Manis sekali kata-kata Pram itu sampai-sampai Mentari yang mendengarnya ingin muntah karena saking manisnya.
"Percaya, cuma aku yakin, kamu juga menganggap apa yang ada di tubuhku ini di bawah teritori mu?" tukasnya seraya berdiri setelah puas memandangi anak Bu Asih yang hanya memakai celana pendek olahraga.
"Aku mandi dulu terus beres-beres, Aa."
"Tunggu dulu," Pram menahan pergelangan lengan Mentari, "aku udah minta izin emak empat hari buat kita bareng-bareng, jadi kamu izin pak Joko dulu gih biar mereka tenang kamu lama di sini."
Mentari jadi senyum-senyum sendiri. Empat hari bareng-bareng, lumayanlah daripada nanti udah di Jawa barat terus besoknya lagi udah di losmen. Lelah kan, batin rindu, raga ngelu.
"Ya udah lepas dulu tangannya, senang banget elus-elus!" ejek Mentari, takut juga Asih ngomel-ngomel.
"Udah pengen," Pram melepas tangannya dengan muka mengkerut gemas. "Lagian udah lama enggak elus-elus tangan cewek, jadi candu. Alus pisan tanganmu, Tar."
Mentari memutar bola matanya jengah sambil berlalu. Itu baru tangan, belum lainnya, Pram-Pram.
•••
__ADS_1
To be continue and happy reading