Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Cuma satu menit


__ADS_3

Keesokan harinya, keadaan di losmen idaman tak ada yang berubah. Ngopi dan ngumpul di taman adalah kegiatan para laki-laki sementara bagi perempuan mereka menjadikan dapur sebagai tempat ngerumpi panjang lebar tentang kehidupan sambil masak-masak.


"Pokoknya nanti kamu kalo di tanya-tanya sama orang dinas bilang yang baik-baik, Ra. Bilang emak orang punya, orang baik, keluarga juga welcome gitu. Tapi ngomongnya biasa-biasa aja biar gak kelihatan kalo emak briefing." kata Asih sambil mengaduk sayur asem di depan kompor.


"Iya, emak. Santai. Aku mah anaknya nurut aja." balas Dara lalu senyum-senyum.


Mentari berdehem, ia yang sejak tadi menemani Dara mengupas bawang merah dan bawang putih di dapur terheran-heran dengan sikap cewek itu yang sebentar-sebentar cengengesan lalu senyum-senyum sendiri meski tak ada yang lucu.


"Kamu kenapa, Ra?" tanya Mentari. Ada yang aneh dari sikap Dara sekarang. Seperti bukan kebiasaannya sehari-hari yang sukanya ceplos ke sana ceplos ke sini dengan sikap tengil yang slalu membuatnya yakin Dara ini memang adiknya Pram yang telah lama hilang.


Dara meniup poninya lalu mengedipkan sebelah mata. Sejenak, dengan lihay ia mengiris-iris bawang merah lalu mengusap matanya yang berair.


"Sedih pokoknya, Tar." ungkapkan seraya turun dari kursi bambu.


"Tapi apa? Gak mau cerita?" desak Mentari, rasa penasarannya semakin menggebu-gebu kala Dara malah pura-pura terisak sambil menumis bumbu di depan kompor.


"Ra, cerita dong. Kamu kenapa sih senyum-senyum sendiri."


"Mau tau ajahhh." sahut Dara. Dan seketika itu Mentari langsung cemberut, rasanya seperti di tolak, perasaannya jadi keruh. Ia keluar dari dapur, meninggalkan keramaian dapur yang sedang menyiapkan sarapan pagi dalam porsi besar.


"Aa..." panggil Mentari dari kejauhan sambil berjalan. Serempak, semua orang yang merasa sebagai seorang Aa menyahut sebelum Pram membuka mulut.


"Apa, Tari? Sarapannya udah siap?" jawab Roni dengan muka cengengesan, terbirit-birit ia pindah ke belakang Maxime karena Pram mengancamnya dengan segenggam cabai lalap pelengkap tahu susur goreng.


"Mulutmu kurang pedes, Ron! Sini elo, biar makin pedes!" seru Pram, dengusan kasar langsung keluar sewaktu Roni malah menyuruh Maxime untuk membantunya melawan Pram.


"Aa!" sentak Mentari. Pram berbalik, batal memasukan cabai-cabai itu ke mulut sahabatnya yang mulai pindah haluan ke seseorang yang masih menjadi kekhawatirannya.


"Apa sayang?" tanya Pram, mukanya yang kesal sekarang berganti dengan muka heran. Raut wajah istrinya terlihat kesal bin sebal, tidak ada sedikitpun senyum cerah atau senyum formal resepsionis yang Mentari tunjukkan.

__ADS_1


"Kamu kenapa, geulis?" Pram merangkul bahu Mentari, mengajaknya keluar dari taman. Menghindar dari semua orang yang sedang bercanda terus-terusan.


Di halaman losmen, Pram mengajak Mentari duduk di ayunan besi. Di genggamannya tangan sang istri seraya mencium pelipis kanannya.


"Kenapa cemberut?" tanya Pram.


"Dara tuh Aa, aku tanyain dia kenapa cengengesan sama senyum-senyum sendiri tapi jawabnya mau tau ajahhh. Kan sebel bikin penasaran." ungkap Mentari, menyentuh dagu Pram dengan lembut.


Degupan jantung Pram langsung tidak normal. Pram menegakkan tubuhnya saat wajah istrinya mendekat namun bukan hendak menciumnya. Bukan, Mentari memegang dagu Pram sambil menyipitkan matanya.


"Sebagai suami yang baik, Aa harus tanya Dara kenapa. Kalo enggak Aa tidur di luar!" Mentari melepas dagu suaminya, lalu menceritakan kelakuan Dara dengan rinci.


"Gak mungkin Dara gak waras, geulis. Dia mungkin." Kedua mata Pram semakin melebar. Sesuatu langsung pecah dibenaknya, gejala tidak waras itu seperti gejala jatuh cinta. Gejala umum bagi siapa saja jika mengalami hal itu.


Pram turun dari ayunan.. "Aku panggilkan Dara dulu!" Mentari pun setuju.


Gak beres Dara, kalo seandainya jatuh cinta. Jatuh cinta sama siapa dia. Temen gue? Gak, gak. Temen-temen gue pada udah punya istri. Bisa gawat urusannya kalo sampe itu bener-bener terjadi.


Sambil mengunyah, dia menghampiri Pram yang melambai padanya.


"Kenapa, om?" tanya Dara.


"Ikut om ke luar. Penting, demi keberlangsungan nasib om nanti malam!" Pram berbalik. Dara mengekori, sejenak dia menatap Maxime yang meliriknya tajam.


Mas bule pasti terngiang-ngiang soal tadi malam. Hihihi.


"Duduk, Ra!" kata Pram, urusan sepele ini harus berakhir secepatnya. Gak mau gue tidur di luar cuma karena rasa penasaran istri gue yang lagi hamil muda.


Dara ikutan naik ke ayunan, tidak menyangka kalau Mentari masih memasang muka cemberut karena candaan tadi.

__ADS_1


Pram menghela napas. Keadaan sedang menuntutnya untuk menjadi kakak dan suami yang baik serta bijaksana. Pram menatap Mentari dan Dara bergantian.


Bukannya mereka ini sahabatan. Harusnya ngerti dong sahabatnya kenapa tanpa perlu dijelaskan. Heran gue kenapa cewek slalu drama.


Pram mengembuskan napas seraya merangkul Mentari.


"Tadi Mentari bilang kamu cengengesan sama senyum-senyum sendiri, Ra. Dia penasaran apa kamu lagi jatuh cinta?" tanya Pram tanpa tedeng aling-aling. "Sama siapa?"


Dara langsung tak kuasa menahan tawa, ia geleng-geleng kepala sambil menusuk perutnya yang nyeri.


"Ya Allah, Tari. Aku itu bukan jatuh cinta, cuma ada sesuatu yang lebih dari itu!" kata Dara, kalem dia mencubit pipi Mentari yang menggembung. "Pokoknya ada, cuma ini rahasia. Kapan-kapan aku bilangnya!"


"Pokoknya aku mau kamu ngomong sekarang, orang aku dulu enggak main rahasia-rahasia sama kamu." jawab Mentari sinis.


"Udah ngomong aja, Ra." timpal Pram penuh harap. "Om bakal tidur diluar kalo kamu gak ngomong sekarang."


Alih-alih tertawa, suasana hati Dara bercampur aduk. Kembali ia merasakan sensasi rasa bimbang yang bertubi-tubi seperti semalam. Tapi dasarnya gadis itu memang cabe rawit, Dara mengigit bibirnya lalu menyunggingkan senyum.


Dara menggaruk-garuk pelipisnya. Dilihatnya wajah Pram dan sahabatnya yang begitu antusias menunggu jawabannya.


"Tapi janji dulu jangan bilang emak." kata Dara.


"Kenapa emangnya?"


"Soalnya semalam aku meluk Maxime. Makanya aku cengengesan, orang gak tahan."


Sontak Pram dan Mentari saling pandang. Ribuan gagasan langsung menari-nari liar di kepala mereka. Cuma, sepuluh detik yang menjadi hening Dara langsung memberi imbuh.


"Untuk pamitan karena aku gak mau ikut mereka traveling. Aku mau jadi anak emak aja yang baik." Dara tersenyum, "Lagian meluknya cuma semenit kok. Jadi om jangan marah, kamu juga Tar udah ngambeknya."

__ADS_1


Pram memijit pelipisnya sambil menundukkan kepala. Pantes daritadi Maxime diem terus, ternyata dia habis melewati malam yang kejam sama Dara. Mau kasian tapi juga pengen ngakak, adik gue bener-bener dah, nekat pisan.


__ADS_2