
Seisi ruang tamu kontan dipenuhi suara Pram yang berderai-derai sewaktu Mentari mengomel panjang tentang healing yang ia inginkan bersamanya.
"Bisa kali kita saling kerja sama, Tar. Kita hiling berdua gimana? Biar sama-sama sembuh barengan." teriak Pram, lalu diam, mikir.
"Emang Mentari butuh penyembuhan dari apaan? Kenapa gadis sebaik Mentari butuh hiling sementara rumahnya sendiri adalah tujuanku buat hiling dari emak dan Tatiana?"
Tanya tanya besar menggantung di kepala Pram. Mentari berhenti di ujung koridor, dia berbalik menatap Pram yang hendak menghampirinya. Namun sebelum Pram benar-benar dalam radius dekat, Mentari kontan mematikan saklar lampu.
"MEN...TARIIII...,"
Gadis itu sontak lari tunggang langgang ke arah rumah, Mentari mendorong sekuat tenaga pintu sampai membentur dinding, Mentari terengah dan buru-buru mengunci cepat-cepat pintunya. Dia mengintip dari balik tirai yang ia cubit sedikit di bagian tepinya.
Pram tidak ada, mungkin sudah terbirit-birit ke kamar. Mentari tersenyum geli. Lalu pindah ke kamarnya, membaringkan tubuh. Satu menit, dua menit. Mentari tersenyum dalam sepi yang membuatnya senang sendiri. Kalau dia tidak senang, itu bohong karena baru kali ini dia mengerjai tamunya dengan hal konyol itu. Benar-benar pertama kali, bahkan sebelum bintang satu menjamahnya ke dalam kelam.
"Lihat besok Pram, lagian kamu hiling buat apa sih? Buat menghindar dari pertanyaan kapan nikah?" tukas Mentari mengacu pada umur Pram.
"Sama berarti tapi nikah bukan kompetisi yang hanya beralaskan umur."
Mentari meraih ponselnya, menulis sesuatu sebentar seraya memeluk gulingnya setelah menaruh ponselnya di meja. Dia tersenyum dan perlahan-lahan mulai menutup matanya. Sementara di kamar nomer satu, Pram merutuk tingkah gadis losmen itu sembari mengunci pintu kamarnya, membatasi matanya dari segala penjuru yang memberikan suasana gelap.
"Hampir jantung gue, mana cicak langsung bunyi 7 kali. Tanda-tanda gue harus banyak doa!"
Dengan badan membungkuk Pram meraih ponselnya, mengernyit ketika chat dari nomer losmen idaman berada di barisan paling atas setelah chat dari Asih dan Aji yang sengaja ia abaikan.
Selamat malam, Pram. Nikmatilah hilingmu dalam kegelapan!
__ADS_1
Pram menarik sudut bibir kirinya.
"Nih cewek losmen emang sengaja kayaknya ngehindar dari gue setelah persoalan tadi! Tapi caranya gak gitu juga kali, udah angker makin angker nih rasanya." Pram batal membuang napasnya dengan lepas sewaktu mendengar siulan dari luar losmen.
Mata Pram membeliak. "Suara siapa tuh?"
Dia bangkit, berjalan dengan pelan-pelan ke dekat jendela, diam-diam mengintip.
Penerangan yang remang-remang tidak memberinya pengelihatan yang cukup baik hingga matanya menyipit fokus, maklum saja selain gelap matanya sudah minus.
Tok... Tok... Tok...
Pram menarik diri sewaktu mobilnya diketuk-ketuk seperti orang mengetuk pintu. Lalu bersiul lagi dan hilang.
Pram berbalik dengan cepat lalu meraih bedcover seraya menutup tubuhnya rapat-rapat, tanpa celah dengan hati yang mendadak was-was, resah dan panik.
Pram meringkukkan tubuhnya bagai orang yang benar-benar ketakutan. Meski kenyataannya di luar tadi hanyalah tukang ronda malam yang mengambil uang jimpitan.
•••
Keesokan hari, karena biasa bangun bersamaan dengan fajar sadik, Pram menguap lebar-lebar dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
"Dingin banget, bro. Mandi air anget enak nih terus jogging." gumamnya terdengar serak.
Pram meraih jaket dan memakainya sebelum keluar kamar. Kabut menyambutnya dengan gelap yang masih terasa seperti tadi malam. Tapi bedanya ini sudah pagi, kuntilanak dan demit yang ada disana gantian beristirahat. Jadi sedikit rasa aman itu membuatnya dengan percaya diri pergi ke dapur umum.
__ADS_1
Pram merebus air, di tunggu sampai mendidih dengan kepala yang berkali-kali menengok ke rumah Mentari.
"Tuh cewek belum bangun? Kalau dia jadi anak emak udah di uber-uber dia daritadi, disuruh bangun terus mandi dan sholat. CK!" Pram meringis bersamaan dengan ceret yang berbunyi tanda sudah benar-benar mendidih.
"Mandi, ngopi, terus jogging sekalian cari dompetnya Mentari. Mau penting apa enggak, mau banyak apa sedikit isinya, seenggaknya itu lebih melegakan gue, dia juga."
Pram mengangkat ceret yang pantatnya sudah hitam, efek sering dipakai merebus air dengan kayu bakar ke dalam kamar.
Dalam waktu kurang dari lima belas menit, lelaki itu sudah rapi jali, bersih dan wangi. Pram menggunakan sarung dan kaos seraya menuntaskan dua raka'at shalat dengan khidmat.
"Sehat-sehat ya, Mak."
Pram melipat sajadah dan melepas kopiahnya, mencampakkan sarung yang kemudian terlihat celana olahraga pendek berwarna biru dongker.
"Saatnya ngopi." Dibawanya lagi ceret itu ke dapur, merebus sedikit air dan kembali membawanya ke ruang tamu serta membawa satu sendok dan cangkir bersih.
Pram tersenyum sembari membuka kopi sachetan yang malah mengingatkannya akan masa kuliah dan Tatiana.
"Kayaknya semua harus diubah, gue harus bikin atau minta sesuatu yang khas dari losmen ini, sekoteng!"
Pram batal menuangkan kopi tadi ke dalam cangkir, dibukanya sekoteng sachetan dan menuangkannya ke cangkir, aroma jahe langsung menyeruak ketika bertemu dengan air panas hingga membuatnya tersenyum hangat.
"Udah hangat, menyehatkan. Pilihan Mentari emang enaklah."
•••
__ADS_1
To be continue and happy reading.