
Menunggu Pram siap bercerita Mentari izin masuk ke rumahnya untuk mengambil jaket dan beberapa makanan dari rumah bude Aminah.
Dalam gelap yang semakin wening. Pram menelengkan kepala sewaktu Mentari kembali menghampirinya sembari membawa nampan.
"Kamu melamun Pram?" Mentari sekalian membawa tumbler berisi wedang jahe kalau-kalau Pram perlu kehangatan lain di atas kegalauannya nanti.
"Gaklah, gue anti ngelamun!"
Pram mengubah ekspresi wajahnya dengan cepat, meski meringis, matanya tak bisa bohong. Mata yang kerap berbinar-binar itu meredup.
Mentari tersenyum, memasukkan secuil apem ke mulutnya. "Udah siap?" tanyanya.
"Jawab dulu pertanyaan gue tadi, Tar."
seru Pram, tidak mau membuka kisahnya terlebih dahulu.
Mentari memasukkan sisa apemnya sampai pipinya mengembung. Dia menatap Pram sambil mengunyah apem yang nyaris terasa keras itu dengan tatapan berpikir.
"Udah lama jomblo?" ulang Mentari, mengembuskan napas. "Aku belum lama jomblo." imbuhnya sambil tersenyum miris.
Pram meringis kuda, jujur juga ini cewek, pikirnya sembari menyomot brownies coklat.
"Baru putus?" tanya Pram, batal beli susu protein, batal olahraga, ujungnya batal menjaga otot di tubuhnya tetap kekar. Di losmen, kerjaannya cuma makan terus, kalau gak makan, gelisah melanda tiada kira di antara dingin yang kerap membuatnya menggigil.
Malu, Mentari menggelengkan kepalanya ragu-ragu. Pram layaknya kembang api di malam tahun baru yang membuatnya di landa penuh keterkejutan dan sepertinya tidak cukup itu saja hingga dia terbius pesona kata-katanya yang Pram serukan di atas sepi hari-harinya.
Pram datang menyita waktunya lengkap dengan sendu gurau yang berbeda di atas tanggung jawabnya. Tapi sebab berbeda itulah yang menyebabkan terjadinya gejolak asing dalam jiwanya. Mungkin terlalu cepat, sebab di antara banyak pertemuan dengan tamu losmen lainnya hanya Pram yang menyita perhatian.
"Udah lumayan jauh dari hari ini, setelah taun baru." jawab Mentari pelan dan pasti, tidak cukup mahir berbohong. Dan tanpa sadar dia menatap tangan kirinya, bekas cincin yang tersemat berbulan-bulan itu masih terlihat memutih melingkar di jari manisnya.
"Tapi kamu masih sakit hati gak?" tanya Pram, pada setiap kata yang ia ucapkan sebenarnya hanyalah pancingan mau sampai mana gadis itu ingin menceritakan kisahnya.
Mentari menggeleng. "Aku gak tau, tapi aku sudah mengikhlaskan kepasrahan. Mungkin. Entah. Aku hanya mengikuti arus."
__ADS_1
Mentari tersenyum seperti mencecap sesendok madu hitam yang pahitnya gak hilang-hilang.
"Gue juga pernah serius berhubungan dengan seorang cewek dari jaman gue SMA. Manisnya dia emang cinta pertama gue. Manis banget, semua berjalan layaknya sebuah cinta pertama pada umumnya, malu-malu, setiap ngedate masih minta uang saku, motor masih sering rebutan sama adik, pokoknya kalo kata Raisa, kutukan cinta pertama itu gak ada habisnya. Sayangnya karena waktu itu emak sama bapak belum ketiban warisan dari engkong sama aki gue yang emang sejak orak udah jadi juragan
, cewek gue pergi sama sahabat gue."
Pram membuat jeda sembari menghirup udara malam dalam-dalam. Rasanya madu hitam itu juga mengalir ke dalam tubuhnya bercampur sesak yang mengundang keprihatinan.
Mentari ternganga. Tak ada rangkuman kata yang bisa ia katakan untuk menyangga tubuh Pram agar tidak loyo.
Pram menoleh sambil tersenyum kecut. "Katakanlah mereka main serong di belakang gue sampai akhirnya, berhubungan gue gak pernah nyentuh cewek gue kecuali pelukan, dia hamil, tapi sebelum nikah dan keduanya ngomong semuanya sama gue, gue bikin babak belur dulu sahabat gue sampai masuk rumah sakit. Tapi masalahnya, luka yang timbul di muka sahabat gue gak separah luka di hati gue. Gue hancur, dan katamu tadi, kamu ingin membeku? Gue udah ngelakuin itu, Tar. Jauh sebelum mungkin apa yang terjadi sama kamu."
Kalimat itu bagaikan serangan tak kasat mata yang sanggup menonjok dada Mentari. Kemudian nyeri langsung tersebar ke seluruh tubuh dan mata sarat kehampaan itu berkaca-kaca.
De Javu. Pram seperti menceritakan kisahnya sendiri yang mati-matian ia tutupi. Hanya saja bapaknya tidak, demi menjaga putrinya, satu ancaman walaupun lembut di dengar dia utarakan lengkap luka yang belum sepenuhnya mengering itu demi sedikit rasa iba dari kaum yang menyewa penginapannya.
"Pram." panggil Mentari dengan suara lirih.
"Setelah putus dengan kondisi tragis itu, gue lebih menutup diri dari perempuan dengan hiling karena tiap emak gue maksa minta mantu gue kabur, udah hampir dua tahun gue kayak gitu, tapi kabur kali ini menurut gue paling seru. Seenggaknya, momen yang ada di dalam perjalanan gue. Beda!" tandasnya.
"Terus apa itu yang membentuk kamu sekarang?" tanya Mentari ragu, ekspresi sedih masih terpampang jelas di wajahnya.
Bukan menjawab Pram malah mengulurkan tangannya.
"Apa?" tanya Mentari heran.
"Salaman doang."
Mentari menyalami Pram. Dua telapak tangan mereka bertemu dalam kondisi berkeringat dingin.
"Selamat, kamu ketemu Pramoedya Aji yang baru, Pram yang kata emak jauh lebih menuruni sifatnya daripada menuruni sifat suaminya." Pram meringis, kembali ke mode awal. Mengenyahkan Tatiana yang memang sudah tidak ada di hatinya namun masih ada di kepala karena dia tidak amnesia.
Mentari mendesah. "Jadi kamu gak mau nikah karena trauma, Pram?"
__ADS_1
Pram mendesis. "Aku mau nikah kalo ketemu cewek yang tepat, Mentari. Bukan trauma, enak aja trauma. Kamu kira karena seonggok asmara yang kandas di atas perjuangan bikin aku jadi ilalang di tengah pematang kolam? Sendiri di terpa angin dan goyang-goyang sendirian? Gak lah, Tar. Aku tetap mau nikah." akunya jujur.
Mentari terpana dengan jawaban Pram, mungkin laki-laki itu sudah benar-benar move on jadi mudah mengatakan itu. Sementara dia, baru beberapa bulan yang lalu woy, tapi dia respect dengan cara Pram melanjutkan perjalanan hidupnya. Mungkin aku bisa contoh, pikirnya. Lalu menyomot satu brownies sebelum habis di makan Pram.
"Kamu gak akan pernah nikah kalo cuma kabur-kaburan, Pram. Setidaknya menetap dengan satu pilihan ibumu dan memulainya." saran Mentari.
Pram langsung menolak mentah-mentah, bersila dan menegakkan tubuhnya. Ekspresinya berubah serius.
"Ogah!" Pram mendengus, "emang aku gak laku pake di jodoh-jodohin, sori yee. Gue bisa cari sendiri."
"Belagu!" komentar Mentari.
"Wah," Pram pura-pura terkejut, "parah banget ngatain gue belagu, kamu sendiri gimana? Terjebak atas nama tanggung jawab dan gak bisa kemana-mana alias membiarkan semuanya menguap dengan sendirinya tanpa ada sedikitpun usaha untuk melaju sendiri?"
Mentari terperangah. Anak emak berkedok anak dukun ini tahu darimana jika itu caranya menyembuhkan luka hatinya. Jelas yang Pram katakan gak bisa semuanya di biarkan benar. Nanti besar kepala terus dia terlihat transparan.
Mentari menggeleng. "Aku memang bertanggung jawab atas losmen ini, cuma kamu gak bisa seenaknya bilang aku terjebak disini. Memang kamu tau apa? Kamu gak tau apa-apa, Pram!" sergahnya galak. Mengangkat dagunya dengan keangkuhan yang berlebihan.
"Oh ya?" Pram terbahak, "boleh juga kamu kalo marah-marah gini. Aku suka, geulis. Ayo marah lagi."
"AYO!" tantang Mentari.
Pram semakin tergelak sampai tergeletak dan memegang perutnya. Merasa sangat-sangat terhibur dengan kelakuan Mentari yang out of sikap sempurnanya.
"Boleh di adu nih. Apalagi kalo ketemu emak, pecah!"
Mentari membuang napas panjang. Bukannya habis curhat jadi melankolis ini malah bikin darting alias darah tinggi.
"Udah cukup layanan kamarnya, Pram. Sampai ketemu besok pagi!"
Tanpa menunggu jawaban dari Pram yang berlagak santai di lantai Mentari langsung melengos pergi. Membanting pintu seraya menjulurkan lidahnya ke arah Pram.
"Aku akan menjungkirbalikkan tuduhanmu, Pram. Lihat aja!"
__ADS_1
•••
To be continue and happy reading.