Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Max & Dara


__ADS_3

Dara terlihat celingukan sewaktu malam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ia yakin beberapa orang sudah tidur, beberapa lagi masih begadang setelah pesta api unggun selesai pukul sebelas malam tadi. Tapi niatnya yang sudah membumbung tinggi laksana asap api unggun tadi batal membuatnya terlelap.


"Sepi banget, apa jangan-jangan mas bule udah tidur?" gumam Dara. Menahan gigil, ia melangkah sedikit demi sedikit tanpa menimbulkan suara sedikitpun ke dekat kamar inap Maxime cs.


Tak kalah lirih dia mengetuk-ngetuk pintu kamar itu sambil sesekali menengok ke belakang, menengok lagi takut ada yang melihat kelakuannya itu.


"Mas bule, mas bule." panggilnya diiring ketukan yang terus mengganggu Maxime cs di dalam. "Dingin banget woi, buruan buka!" omelnya tak sabar sampai pintu terbuka karena tendangannya.


"Why are you here?" tanya Maxime, dia mengedarkan pandangannya. Terasa mencekam seperti kemunculan dara berkulit eksotis itu. "Lonely, sorry-sorry, not lonely!" ralatnya sambil menggeleng. Tidak mungkin Dara kesepian, atau mungkin Dara berusaha menggodanya setelah persoalan traveling tadi yang berujung ngambeknya Pram?


Oh pikiran Maxime langsung di penuhi tanda tanya, tapi dia senang gadis itu menunjukkan keberaniannya keluar malam-malam seperti ini dan menghampirinya diam-diam.


"Gak usah ngomong pakai bahasa Inggris, bahasa Indonesia aja kali, dan mas bule harus tau pepatah ini dimana bumi di pijak langit di junjung!" protes Dara seraya mendorong Maxime ke dalam kamar. Cepat-cepat Dara menutup pintu dan menghela napas.


Sementara Maxime memegang dadanya setelah berlonjak mundur. Ia terlihat tak percaya, gadis itu benar-benar akan menggodanya.


"Kakakmu akan marah kamu ada disini." kata Maxime sambil menendang kaki pacar adiknya biar bangun. Dia ingat bagaimana raut wajah Pram yang menegaskan ‘elo macam-macam, elo habis di tangan gue’. Tapi dingin dan kenyang rasanya lebih enak jika hanya rebahan sambil selimutan. Makanya itu segetol apapun Maxime membangunkan pacar adiknya dan satu teman lagi. Keduanya sama-sama menutup wajah mereka dengan selimut.

__ADS_1


"Kamu urus, Max!"


Tatapan Maxime langsung pindah-pindah tidak fokus. Mata hijaunya yang indah lalu berhenti di wajah gadis mungil di depannya yang terus menatapnya gelisah. Maxime pun menahan keinginannya untuk menghela napas.


"Apa ada cepat katakan? Jangan buat aku terancam di usir dari sini!" desak Maxime.


"Aku tahu!" Dara memajukan sedikit langkahnya ke dekat Maxime yang menyandarkan tubuhnya di dinding.


"Besok gak usah minta izin emak buat ajak aku traveling, jangan lakukan itu. Aku tidak mau orang-orang terdekatku khawatir. Apalagi baru ngurus pengadopsian aku. Oke, mas bule?"


"No, no, no." ceplos Dara. Dia berpikir sejenak. "Aku memang ingin tau gimana dunia, tapi tidak sekarang. Aku harus jadi anak baik-baik untuk orang tua angkat ku. Kamu ngerti mas bule gimana posisiku?"


Maxime mengiyakan akan pesan tulus itu. Sedikit perasaannya tersentuh jika memang itu yang lebih Dara inginkan. Karena ia memang juga ragu membawa gadis itu traveling.


"Ya sudah kamu keluar. Aku tidak mau ada yang menangkap kamu ada di kamarku." usir Maxime, dia berasal dari keluarga baik-baik. Besar kemungkinan dia tidak pernah macam-macam dan keberadaan mereka berdua yang masih terjaga membuatnya was-was.


Dara nyengir. Mengangguk. Poninya yang halus dan menyentuh alisnya dia tiup sendiri sampai rambutnya berkibar acak lalu kembali lagi menutupi kening gadis itu.

__ADS_1


"Kenapa kau ini?" seru Maxime heran.


"Biasa aja tuh, senang aja kamu bisa di ajak kompromi." Dara berbalik, membuka pintu dan berbalik lagi menatap Maxime di ambang pintu.


Maxime pun ikut memandanginya. Entah kenapa, ia merasa itu konyol sekaligus aneh. Kenapa gadis itu seperti menimbang-nimbang sesuatu.


Angin bergemerisik. Dingin semakin menjalar kemana-mana namun gadis itu tetap bergeming dengan menghangatkan tangannya ke dalam saku jaket.


"Ngomong enggak ya." batin Dara, sesuatu mengusik ketenangannya. Pasalnya ia tidak tahu lagi kapan bakal ketemu si mata hijau yang dia kagumi setelah nanti semua pergi untuk kesibukan masing-masing.


"Cepat kembali ke kamarmu!" Maxime mengibaskan tangannya dengan serius.


Pasrah, Dara memutar tumitnya dan berjalan menuju rumah pribadi pak Joko. Tapi, sepersekian detik yang berlalu. Gadis itu berbalik, langkahnya cepat dan memeluk sebentar tubuh Maxime yang kini bagai terkena semen. Mematung, kaku, terkesiap.


"Anggap aja ini salam perpisahan, mas bule. Salam kenal dan selamat tinggal."


Meski pelukan itu tak terbalaskan apa-apa. Dara tersenyum menatap mata hijau itu dengan leluasa. Ia berbalik dengan senyum ceria yang luar biasa membangkitkan semangatnya di pagi hari yang masih buta. Dara berhenti di ambang pintu lalu melambaikan tangan.

__ADS_1


__ADS_2