
Delapan bulan kemudian.
Pram membenci dirinya sendiri karena harus menjadi suami dengan level siaga militer ketika istrinya sedang mengandung buah cintanya berjenis kelamin perempuan. Perutnya sudah membuncit, besar dan terlihat seperti sedang membawa sebongkah semangka utuh di dalam daster yang menjadi pakaian ternyaman Mentari sekarang. Beratus-ratus cara dia lakukan demi menjaga kenyamanan dan perlindungan istrinya. Meskipun kadang-kadang dia merasa kesal sendiri karena Mentari sering mengatakan dia berlebihan.
Pram mengelus perut Mentari seraya mencium kening istrinya.
"Kamu ingin anak kita memanggil kita dengan sebutan apa sayang?" tanya Pram sembari bersila di atas kasur. Dia memandang takjub pemilik pipi chubby itu sebelum tangannya tak bisa di cegah lagi. Pram mencubit kedua pipi istrinya seraya menyentuhkan hidungnya ke hidung Mentari.
"Gemes banget, sebentar lagi kita akan ketemu Little Miss Sunshine."
Mentari terkekeh, Little Miss Sunshine. Julukan sekaligus nama yang ingin Pram berikan pada anaknya nanti tapi hal itu menimbulkan perdebatan dan sedang mati-matian Asih protes setiap kali mereka berkunjung ke Jawa barat.
"Pokoknya emak dan bapak gak mau nama itu, Pram. Londo banget, ganti-ganti! Nama kalian aja Pram sama Tari, masa anaknya Miss Sunshine. Halah-halah."
Mentari pun ikut protes, alahasil sekarang nama itu hanya untuk julukan saja sampai ditemukan nama yang tepat.
Mentari menggangguk, ia membelai wajah suaminya yang ditumbuhi brewok yang belum di cukur.
__ADS_1
"Katanya mau olahraga, atau Aa pengen jadi kayak aku?" Mentari menggembungkan pipinya. Pram tertawa.
"Maaf ya sayang, cukup kamu yang membesar, aku harus tetap kelihatan bugar dan berotot!"
Pram menekuk kedua tangannya, menunjukkan hasil kerja kerasnya membantu Joko membabat pohon bambu di belakang rumah pribadi mereka di losmen idaman. Juga membuat sebagian tanah kosong di losmen itu menjadi kolam ikan. Semua itu belum ditambah pekerjaan rumah tangga yang dia lakukan, angkat-angkat galon, nyapu, ngepel, dan Mentari sebagai tuan putrinya cukup masak, cuci piring dan mengangkat jemuran baju. Itupun kalau malas mereka akan membawanya ke tukang penatu.
"Jadi aku tinggal ke tredmill dulu, Tar. Kalo butuh apa-apa tinggal panggil."
Tak bisa didebat, tak bisa ditawar. Olahraga adalah salah satu bagian dari hidup Pram yang di sukai Mentari.
Mentari mengangguk, dia pun ikut bangkit dari ranjang dan sewaktu pagi masih menunjukkan pukul setengah tujuh. Mentari menyiapkan menu sarapan pagi sementara Pram terus mempercepat langkahnya di atas tredmill, peluh mulai terlihat membasahi tubuhnya.
"Masak apa, Tar?" tanya Pram, Mentari mematikan kompor seraya menuangkan air putih untuk suaminya.
"Minum dulu baru peluk, kebiasaan Aa mah gak berubah. Bau tau."
Pram langsung melepas pelukannya dan menghabiskan air putih yang diberikan istrinya.
__ADS_1
"Habis ini kita mandi, iya?" tanya Pram,
Mentari tersenyum sambil menaruh dua piring ke atas meja. Dia tidak menyangka kalau situasi yang terjadi waktu ngidam dulu berlanjut hingga sekarang. Seperti sudah menjadi kebiasaan atau sebenarnya Pram ketagihan.
"Mandi sendiri-sendiri, Aa." jawab Mentari, ucapan itu langsung disambut dengan kesunyian terluka, Pram berhenti mengecupi puncak kepala Mentari lalu memutar tubuh istrinya.
Dengan mata lekat-lekat Pram menangkup kedua pipi Mentari.
"Mulai bosen ya?" tanya Pram.
Mentari menggeleng.
"Terus kenapa enggak mau? Ada kan alasannya?"
"Karena Aa suka bikin kontraksi!" sahut Mentari, gimana tidak. Tak terhitung karena kehamilannya yang terbilang sehat dan kuat, pria yang kini bertelanjang dada itu sering mengajaknya bergaul.
"Aku sudah hamil tua, Aa. Bahaya kalo keseringan." Mentari mengelus dada suaminya sebagai penghiburan lain. "Aa kan sayang sama little miss sunshine."
__ADS_1
Dengan sedikit kecewa Pram mengangguk karena rasanya harapan habis melambung tinggi tapi langsung terjun bebas dan menghempaskannya di tanah.
"Aku mandi dulu ya, habis itu giliran kamu." ucap Pram dengan nada yang di berat-beratlah biar istrinya luluh. Tapi ternyata Mentari tetap sama saja, sibuk menyiapkan sarapan dan memblender mangga.