Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Poor Maxime


__ADS_3

"Maaf, aku harus mengatakan itu Max. Kami atau aku sebenarnya tidak ingin jika kehadiranmu kesini adalah untuk mengharapkan Mentari." ujar Pram dengan teramat menyesal di samping Maxime ketika mereka sedang jalan-jalan di luar losmen menuju sungai.


"Harapan akan menyakitimu."


Oh mengapa itu terjadi, belum apa-apa perih muncul di dada Maxime, ia menghela napas dengan teramat berat. Mentari pagi ini ikut lenyap dari dunianya. Dingin semakin memeluk tubuh pria jangkung yang memakai celana cargo pendek dan sepatu gunung itu.


Pram merangkul pundak mantan calon rivalnya, seseorang yang sebenarnya dia kasihani. Harapannya langsung pupus dalam satu tarikan napas tanpa bisa mengumbar rasa atau memberi perhatian lebih.


"Mungkin kalo kamu ngembaliin termosnya lebih cepat, kamu bisa mendapatkan waktu yang lama untuk mengenal Mentari. Sayangnya kamu belum beruntung, Max. I'm so sorry, kamu terlambat."


Maxime menghentikan langkahnya. Pram pun ikut melepas rangkulannya.


"Aku yakin bisa melupakannya." Maxime tersenyum masam sambil mengulurkan tangannya, "selamat atas pernikahan kalian." Matanya yang hijau menatap lekat wajah penuh kelegaan itu.


Pram langsung menyalami tangan Maxime yang lembab, lalu jabat tangan penuh makna itu berubah menjadi pelukan.


"Terima kasih, terima kasih, semoga kamu bisa mendapatkan mentari yang lain. Mungkin mentari senja atau mentari pagi yang lebih indah, Mentari yang itu sudah hamil, bikin pusing." seloroh Pram, tapi itu suara hatinya sekarang yang disembunyikan dari istrinya.


Maxime pun tergelak sambil menepuk-nepuk punggung Pram. "Aku senang mendengarnya."


Keduanya melepas pelukan lalu berlari di jalanan turunan mengikuti teman-temannya yang berteriak bebas di tengah udara segar.


"Teruslah mencari, kak. Jangan menyesal!" teriak Pricilla lalu terkekeh geli, sekuat tenaga ia berlari ketika kakaknya berlari ke arahnya sambil mengumpatkan bahasa Rusia yang hanya mereka tahu.


Maxime pun langsung mengungkung adiknya yang kelelahan dan hampir tepar di pinggir jalan.


"Aku pasti akan mengejar mentari yang lain, kau tahu, berisik?"


Pricilla tergelak sambil meronta-ronta.


"Poor Maxime, kasian sekali dirimu kak. Kau terlalu sering mengagumi matahari di atas gunung, sampai Mentari dalam hatimu sudah nikah dengan waktu yang begitu cepat." Pricilla tergelak, dalam hati tak percaya, tapi benar. Maxime melepas adiknya.


"Aku hanya kurang beruntung, diamlah." ucap Maxime memperingati.


Pricilla tetap tergelak tapi mata kakaknya yang menyiratkan kesedihan yang hanya ia tahu langsung memeluknya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, kamu kakak yang hebat. Jadi aku belum rela kakak punya pacar lalu sibuk pacaran dan meninggalkan aku."


Pram ikut memeluk kedua kakak beradik itu sampai-sampai dua jiwa yang terikat oleh aliran darah tersentak kaget dan memalingkan wajah.


Pram tersenyum lebar. "Jangan pergi terlalu cepat dan sungkan untuk berada di losmen, aku tidak mengizinkan kalian pamit atau membayar biaya menginap!"


"Galaunya udah woi, ini jalan mana yang harus di ambil?" teriak Roni tepat di pertigaan jalan.


Pram langsung berlari menuju kawan-kawannya yang berkacak pinggang sambil terengah-engah.


"Inget gak elo, bro?" tanya Roni dengan curiga pasalnya muka Pram memang mencurigakan. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri seperti orang bingung. "Inget enggak?" timpalnya lagi.


Pram kontan cengengesan dan menggeleng. "Lupa gue, hehe, kemarin waktu sama Mentari gue cuma ngikutin dia doang. Dan gak gue ingat-ingat jalanan."


"Anjirrr, akamsi gadungan elo!" Ditonyorlah kepala Pram oleh sahabatnya satu persatu. "Terus mau gimana ini, masa balik lagi, nanggung banget." eluh Roni yang mewakili semuanya.


"Telepon Mentari suruh ke sini!" timpal Dias, "bosen kali di losmen terus."


Persetujuan langsung terdengar dari semua mulut. Pram mendengus sambil merogoh ponselnya di kantong celana.


"Aa, kemana?" tanya Mentari heran, baru juga di tinggal ke belakang untuk menaruh cucian kotor, rombongan yang ramai bukan itu sudah lenyap dari taman.


"Jalan-jalan!" Pram terkekeh, "geulis, sibuk enggak? Sini dong, aku lupa jalan ke sungai tempat main dulu. He'eh." Pram mengangguk menjawab seruan Mentari yang kaget mereka pada mau ke sana.


"Sekarang kita lagi di pertigaan dekat toko bangunan Pak Dal, dekat tugu bambu." jelasnya, "Bawa air mineral juga ya geulis, ada di mobil. Kuncinya ada di kantong jaket!"


Mentari langsung mematikan ponselnya seraya masuk ke kamar. Ia menaruh ponselnya dan mengambil kunci mobil Pram di jaket suaminya.


"Gak berubah, kalo kesini pasti nyusahin." gerutu Mentari, "mana sekarang bawa rombongan lagi. Malu-maluin kalo sampe kesasar!"


Mentari keluar rumah, berbarengan dengan kembalinya Dara dan ibunya.


"Ibu bawa jajanan pasar gak?" tanya Mentari, untung mereka pulang tepat waktu. Kalau tidak, terpaksa ia mempermalukan diri dengan memakai motor RX-King milik bapaknya yang sering kali meminta atensi.


"Bawa, kenapa? Ada tamu lagi, Tari?"

__ADS_1


"Tar, ini kayak mobil mas bule yang dulu itu." timpal Dara sambil menyentuh jeep milik Maxime.


"Iya, Maxime datang lagi sama temen-temennya." Mentari membantu menurunkan belanjaan ibunya dari motor.


Purwati membungkuk sambil membuka satu persatu plastik untuk mengamati isinya. Ia berdiri sambil menyerahkan plastik berisi jajanan pasar. "Mau dibawa kemana?"


"Itu, Aa jalan-jalan tapi lupa jalan buk. Mau aku anterin sekalian biar pada di makan di kali."


"Di kali, mau main ke kali, Tar?" sahut Dara antusias. Gadis itu langsung kembali nangkring di atas motor setelah Mentari mengangguk.


"Aku ikut. Hehe." Mukanya itu langsung cengengesan. "Mas bule juga disana?"


Makin menjadi-jadilah Dara, ia memutar motornya lalu menyalakannya. "Ayo!"


"Nanti aku bantuin masak buk." kata Mentari sambil membuka pintu mobil Pram. Mengambil satu kardus air mineral kemasan gelas dan menaruhnya di pijakan kaki.


Sepuluh menit kemudian, dari kejauhan Dara menghidupkan klakson berkali-kali sampai-sampai segerombolan orang itu menoleh dan ingin menjitak kepala Dara bareng-bareng.


"Mau ke kali, om?" tanya Dara sambil turun dari motor. Sementara Mentari masih tersenyum ramah kepada Maxime karena laki-laki itu juga masih tersenyum kepadanya seolah tidak ada yang terjadi.


"Kali apaan, Ra?" Pram meraih semuanya yang diulurkan Mentari.


"Sungai, om, sungai." Dara meringis, "aku yang jadi pemandu wisata, soalnya Mentari mau pulang, mau masak!"


"Yahhh, emang bagusan kamu pulang Tar, masak yang banyak, yang enak. Jadi habis kita main di kali, tinggal sarapan. Enak banget gak tuh?" seru Pram sambil melihat kawan-kawannya, akhirnya kepala pria itu kembali jadi sasaran empuk tangan-tangan sahabatnya.


"Enak banget buat elo, gak enak buat bini elo goblok. Pulang sono bantu bini elo masak." seru Roni sambil menyambar plastik-plastik di tangan Pram. "Lagian elo yang jadi pelayan losmen. Udah sono balik, bantuin bersih-bersih losmen. Nih udah ada akamsi beneran!"


Roni merangkul Dara. Si kecil pemberani yang kini sahabat-sahabat Pram sayangi.


"Ayo, Ra!"


"Ayo, Om!"


Pram mendengus sambil naik ke motor. "Ayo pulang, Tar. Masak yang enak. Kita lagi punya tamu kurang ajar yang harus di turuti." gerutunya sambil melihat rombongan itu menjauh sambil terkekeh-kekeh riang.

__ADS_1


__ADS_2