Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Pisah-sambut.


__ADS_3

"Neng geulis, udah siap belum?" Asih melongok ke kamar tamu pukul tujuh malam. Malam terakhir Mentari di rumahnya.


Mentari menoleh di depan cermin setelah mematut diri sambil menyakinkan diri bahwa dia benar-benar menjadikan Pramoedya pelabuhan akhir dari semua keluh kesah, dan keseluruhan yang ia miliki.


"Udah, Tante." Mentari berdiri, menyambut uluran tangan calon mertuanya. Asih tersenyum hangat. Putranya akan takjub melihat penampilan calon anak mantunya yang manut-manut saja ia suruh memakai baju kencan yang ia beli kemarin bersama Salsabila.


"Hayu keluar, tuh si kasep sudah tidak sabar kencan terakhir dengan kamu."


Mentari hanya tersenyum malu, benar-benar malu karena dia harus memakai gaun selutut berlengan pendek berwarna hitam polos, terlebih hak tinggi yang memiliki kristal di bagian depannya itu menambahkan kesan kencan pertama mereka yang bener-bener kencan sepasang kekasih.


Pram yang menunggu sambil duduk dengan gagah di kursi tamu kontan berdiri melihat dua bidadari berbeda usia berjalan ke arahnya.


"Cantiknya..." pujinya sambil menghujani Mentari dengan tatapannya.


"Emak?" Asih menyentuh dadanya dengan jumawa, "emak mah emang cantik, nggak usah di bahas emak tau kasep!"


Pram tersenyum lebar sambil mengecup kening ibunya, Asih yang hanya bisa berharap putranya benar-benar tidak berbohong lagi merasa lega.


"Iya emak cantik, tapi Mentari lebih uhuyyy..." Pram bersiul menggoda sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Mentari. "Oke juga nih cewek, ikut Aa yuk jalan-jalan cari karedok."


Pram mengulurkan tangannya, Asih lantas manaruh tangan si geulis yang ia genggam ke telapak tangan anaknya.


"Ingat kata emak, Pram. Jangan macem-macem!" Asih menepuk-nepuk lengan Pram, "Titip siomay kang Teddy buat semua orang rumah!"


Bukannya jadi romantis, Pram dan Mentari jadi cengengesan.


"Iya, Mak. Berangkat kencan dulu ya, doain nih, deg-degan aing." Pram nyengir lebar sambil menggenggam tangan Mentari lebih erat. Sementara Asih sebodoh teuing-lah, ibu tiga anak itu berlalu ke dapur. Memberi koordinasi pada Sum dan Dara untuk menyiapkan buah tangan untuk calon besannya.


•••


"Kita mau kemana, Aa?" Mentari memasang wajah heran, sudah satu jam perjalanan belum juga sampai-sampai.


"Tempat favoritku." Pram menjawabnya sambil fokus mengemudi. Perjalanan menuju kafe di perkotaan memang butuh waktu lama karena bisa di kata rumah keluarganya jauh dari kota.


"Jauh banget ya?"


"Cie nggak sabar buru-buru pengen kencan sama aku." goda Pram, mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut panjang Mentari. "Sabar ya, aku juga nggak sabar nih. Cuma aku lebih menikmati suasana ini, jadi maunya yang lama, yang jauh, biar bermakna."

__ADS_1


Pram menyisipkan rambut Mentari ke belakang telinganya sebelum memacu mobilnya lebih cepat lebih baik soalnya bisa duduk di satu kursi yang sama. Bukan terpisah persneling mobil dan tas Mentari.


•••


Satu jam kemudian, tiba di kafe di kawasan Dago yang telah Pram sewa untuk acara kencan pertama dengan gadis belia yang cantik jelita bersama juragan empang se-Jawa barat. Pram benar-benar bisa bangga mengenalkan gadis itu kepada semua rekan bisnisnya. Baik rekan bisnis dari Bagyo, ataupun rekannya sendiri.


Pram bersiul, meminta atensi dari para pria dewasa di depannya untuk sekedar melihat bagaimana cantiknya wanita yang selama ini dia harapkan.


"Calon istri gue nih, Mentari namanya, pak Joko nama ayahnya." ucap Pram.


Gelak tawa dan siulan yang beriringan silih berganti mengudara di dalam kafe itu langsung membuat wajah mentari merona.


"Aa," Mentari menoleh, memandang laki-laki yang terus menebar senyum andalannya itu di depan semua orang, rata-rata memang bapak-bapak, yang seumuran Pram bisa di bilang penerusnya kelak, "malu aku." adunya benar-benar menghadap Pram.


Pram menggenggam kedua sisi lengan Mentari, dirinya yang begitu senang bisa memamerkan kabar gembira itu tersenyum lebih lembut.


"Aku harap kamu mau minum kopi biar betah melek sampai nanti karena malam ini malam terakhir kita bareng-bareng." Pram meringis geli mendengar sorakan dari teman-temannya.


"Sabar atuh, bro. Anaknya masih malu-malu." elaknya menjawab sorakan cium-cium-cium, padahal mah nggak berani Pram cium Mentari di depan banyak orang. Kembali menyorot wajah Mentari, Pram tersenyum lagi.


Sekilas yang terasa cepat, Pram menyentuh kening Mentari dengan bibirnya sebelum mengajak gadis itu membaur bersama yang lain.


Pukul satu dini hari, tepat dimana kafe harus tutup. Pram dan Mentari melambaikan tangan kepada semua orang yang pasti hendak pulang ke rumah masing-masing.


"Sampai rumah jam tiga ini, Tar. Emak pasti udah bangun tidur ini. Kita bakal kena marah!"


Mentari yang ngantuk parah cuma meresponnya dengan menguap. "Yang penting pulang, daripada enggak. Emak pasti mikir yang enggak-enggak nanti kemana kita." katanya lalu mengadu dingin dengan bahasa tubuhnya.


Pram meraih jaketnya di jok penumpang yang sejak tadi nganggur akhirnya berguna. "Sori ya aku bisanya ngasih jaket, belum bisa ngasih peluk soalnya, takut khilaf."


"Berlaga takut khilaf, padahal kelakuanmu tadi udah khilaf semuanya, Aa. Nyebelin." omel Mentari sambil memakai jaket Pram.


Pram kontan mencubit pipi Mentari dengan gemes seraya mengemudikan mobilnya perlahan-lahan. Di pertengahan jalan yang sepi sekali, "Dulu gue sering balapan liar, jadi...," Pram mengedipkan sebelah matanya dengan iseng sebelum jeep putih besar itu melesat cepat ke arah rumah.


Hanya butuh satu jam, gila, Mentari yang sepanjang perjalanan tadi terus berteriak untuk menyudahi kegilaan Pram memukul lengan laki-laki di sampingnya yang bernapas lega.


"Masih keren juga gue." ucapnya bangga.

__ADS_1


Mentari keluar dari mobil dengan berang, "Aku hampir jantungan parah gara-gara kamu, Pram! Argh, rumah tangga apa yang akan aku jalani nanti!"


Pram terkekeh-kekeh sambil merangkul bahu gadis itu di kegelapan malam. "Rumah tangga yang meriah. Tapi tergantung kitanya sih mau gimana. Kita diskusi kan nanti aja, sekarang kamu istirahat."


Pram mendorong pintu kamar tamu dengan tangan kirinya. Tapi Mentari enggan untuk masuk lebih cepat. Dia menyandarkan diri di kusen pintu, memadang Pram lekat-lekat dengan mata kantuknya.


"Pram, apa kita menikah tanpa ada kata cinta?"


"Cinta?" Pram mengernyit, Mentari mengangguk perlahan dengan muka meraba raut wajah Pram yang terkejut "Ya, laki-laki dan perempuan yang akan menikah slalu mengucapkan itu. Kenapa kita tidak?"


Pram tak kuasa menahan senyumnya yang menawan. "Kenapa kita tidak?" ulangnya dengan geli. "Karena gue bakal mengucapkan kalimat sakral itu waktu kita menikah di rumah kamu!" Di depan keluarga mantan tunanganmu, biar mereka tahu, cahaya yang mereka buang sudah bersinar di tempat yang tepat.


Mentari jadi tersanjung dan pasti suasana hari di hati sepasang orang asing yang melebur menjadi satu itu akan berbeda dari sebelumnya sewaktu Mentari sudah mengepak barang-barangnya ke dalam koper milik Pram dan membawanya keluar rumah siang harinya.


"Aku pulang, Aa." Mentari tersenyum masam di hadapan Pram yang sejak semalam meminta waktu untuk bersama.


Pram membuka pintu travel yang ia sewa untuk mengantar kepulangan Mentari tanpa Dara, gadis petasan renceng itu di dapuk menjadi anak buah Asih setelah losmen sudah tidak ada pekerjaan. Korbannya tentu persahabatan bagai kepompong antara Mentari dan Dara yang harus kandas di rumah juragan Bagyo. Tapi hidup slalu mempunyai pilihan dan kesempatan, baik Dara ataupun Mentari berhak menentukan masa depan mereka sendiri-sendiri meski sudah selengket perekat tikus.


"Kamu beneran bisa jaga diri dari Bisma kan, Tar?" Pram merasa tidak nyaman dengan ucapan sendiri mengingat bagaimana Bisma bertingkah laku seperti pengecut, "Masih ingat yang gue ajarin kemarin?"


Mentari mengangguk, genap empat hari dia menjadi tamu penting dari keluarga “Juragan Bagyo”, ia sudah di ajari bagaimana rasanya menjadi anak juragan yang nyatanya tidak melulu tinggal enaknya doang, selain itu latihan karate, walau cuma teknik dasar, lumayanlah kemarin bisa memberi satu tendangan bebas kepada Pram sebagai bukti dia bisa menjaga diri. Meski efeknya kaki kiri laki-laki itu membiru.


"Nggak usah khawatir, Aa. Mungkin sekarang udah berubah keadaannya di kampung dan itu karena kamu." puji Mentari sambil menyentuh dada Pram yang slalu dia pamerkan jika memakai kemeja.


Pram mengelus pipi Mentari dengan perasaan campur aduk seperti makan mi ayam pedas dan es campur.


"Aku bakal kangen sama kamu, Tar. Jaga diri baik-baik ya sampai aku bisa jagain kamu langsung."


Hati siapa yang tidak menghangat melihat sepasang kekasih yang pisah untuk menyambut hari baru itu. Mentari mengiyakan sambil menatap semua orang di depan teras rumah yang melambaikan tangan kepadanya.


"Titip Dara, Danang, dan Tegar ya, Aa. Aku terima kasih banget sama keluarga kamu sudah mau terima mereka di sini. Utang budi aku ke kamu jadi banyak banget."


Mata Mentari berkaca-kaca, Pram hanya meresponnya dengan pelukan hangat sebelum meminta Mentari masuk ke dalam travel seeakan enggan melihat wajah cantik gadisnya berlinang air mata.


•••


To be continue and happy reading.

__ADS_1


__ADS_2