
"Siap, lapan-nam!" Pram cekikikan sekilas secepat hembusan napas lantas memaku tatapannya pada mata bening yang menghujaninya dengan beribu harapan.
"Maaf nggak bisa seperti yang sudah-sudah." Tangan kiri Pram mengangkat tangan kanan Mentari dari pangkuannya. Pram sempat menoleh kepada orang tuanya sebelum menyematkan cincin yang berhias berlian mungil itu ke jari manis Mentari. Jakun Pram bergerak-gerak sewaktu cincin itu begitu pas, begitu cantik senada dengan pemakainya.
Pram mengangkat wajahnya, ia memberikan senyum andalannya sambil mengusap punggung tangan Mentari dengan ibu jarinya.
"Aku nggak bercanda tentang hari ini, melamarmu di depan orang tuaku langsung adalah keseriusan ku untuk hubungan baru kita, Tar. Aku harap, meskipun gelagatku bercanda, kamu serius menganggapnya." Pram memasang muka bak anak kucing yang minta di elus-elus puncak kepalanya. Begitu iba, begitu jujur seakan ada bagian dalam dirinya yang minta di kasihani. Usia. Bukan lagi masa bercanda tentang asmara, meski kelakuannya suka begitu.
Tanpa di jelaskan lebih lanjut, Mentari memahami maksudnya. Tapi di sofa itu, inikah akhir masa lajangnya?
Jantungnya berdetak lebih kencang, gara-gara cinta dan batal nikah, lubang di hatinya mengangga lebar hingga yang datang kadang hanya numpang lewat karena saking mengangganya.
Mentari menundukkan tatapannya, menatap genggaman tangannya bersama tangan Pram yang lembab dan dingin.
"Harusnya aku yang tanya, kamu ngajak aku nikah bukan karena kepepet umur kan? Kamu serius kan Pram dengan semua yang kamu berikan ke aku kemarin?"
"Pram?" Asih menyeletuk sinis, "Akang atuh atau Aa, yang sopan lah sama si kasep. Udah tua itu kepala tiga, sudah jadi pakdhe, jangan Pram doang lah."
Mentari dan Pram sama-sama nyengir kuda. Pram berdiri, mendudukkan dirinya di samping gadisnya.
"Mentari udah tau aku tua, mak. Nggak usah di perjelas lagi lah, malu tau." balas Pram santai, "aku sendiri yang minta di panggil Pram doang biar keliatan seumuran gitu, mak. Biar kesannya enak gitu."
Pram meringis. Asih yang masih menjadi polisi rumah tangga menyipitkan matanya.
"Berapa usia Mentari?"
"Dua lima."
Bagyo dan Asih pun jadi kaget, tangannya mulai menghitung perbedaan usia antara anak muda di depannya. Lalu menatap bodi ke duanya yang jauh berbeda. Satu imut-imut, satunya gede berotot. Bisa di bayangkan sekali gencet langsung gepeng itu cewek.
Asih tersenyum geli, dan nampaknya anaknya yang sefrekuensi ikut tersenyum geli.
__ADS_1
"Kenapa, mak?" tanya Pram pura-pura. Asih mengendikkan bahu dengan gaya, "Nggak papa, emang kenapa?"
Emang kenapa, dasar emak sok-sokan mancing-mancing, tau anaknya nyablak, rutuk Pram dalam hati, ia mengelus punggung Mentari. Masih ada yang perlu di bicarakan, tapi nanti saja dulu. Ia butuh waktu bertiga dengan orang tuanya. Ngobrol serius.
"Ke kamar gih, urusan sama emak dan bapak udah beres, tinggal kitanya aja yang jalan terus! Oke nggak tuh?" selorohnya, kembali ke setting pabrik.
Mentari memiringkan tubuhnya sampai lututnya menyentuh paha laki-laki yang hanya memakai celana olahraga pendek. Sudah terbayangkan bagaimana ketidakromantisan Pram melamarnya sebagai pendamping hidup belum? Pakai kaos dan celana olahraga, sementara Mentari juga memakai kaos dan rok selututnya? Sederhana, penuh sandiwara. Tapi ujungnya belum bisa di terka. Bisa saja yang sederhana jadi luar biasa, kun fayakun.
Mentari memandang Asih dan Bagyo dengan rikuh.
"Aku belum minta maaf sama Tante Asih udah ikut-ikutan bohongin beliau, A–" katanya berjeda, "mau di panggil akang apa Aa?" tanyanya lirih.
Pram yang di gituin langsung salah tingkah, dia mengelus lehernya. Efek domino yang kerap ia rasakan jika salah tingkah. Di panggil akang atau Aa itu kedengarannya mesra semua apalagi di tambah kata sayang. Otot di tubuhnya langsung meleleh sendiri.
Pram kembali mengelus punggung Mentari.
"Senyaman kamu aja, Tar. Mau akang, Aa, atau mas. Aku mah siap atuh, yang penting ikhlas." Pram tersenyum geli, "minta maafnya nanti aku wakili, sekarang kamu ke kamar, cepek kan habis keliling tanah Abang? Mau aku pijetin?" tawanya dengan nada menggoda.
"Kasepppp!" pekik Asih geram.
"Jadi bapak ceunah, bapak!" seru Pram jengkel, udah tahu di suruh buru-buru nikah untuk apa coba kalau bukan jadi bapak dan bojo. Mentari terkikik geli, ganti mengelus punggung Pram yang nyaman untuk bersandar.
"Aku ke kamar, mas."
Pram berhenti memasang wajah jengkel lalu mengangguk, memasang senyum.
"Jangan lupa itu di bawa yang di bawah bantal. Aku takut khilaf terus ke bawa ke kamar gimana, nanti kebayang-bayang."
"Kasepppp, Masyaallah. Bujang satu ini otaknya kemana?" seru Asih sambil menarik telinga Pram. "Kalian harus pisah dulu untuk saling jaga, emak nggak mau ini kasep jadi maung ketemu mangsa, gawat!"
Pram meringis geli sambil mengibaskan tangan kirinya. "Jauh-jauh, Tar. Jauh-jauh, jaga jarak! Aku maung, rawwrrrr...,"
__ADS_1
Asih dan Bagyo sontak beristigfar dengan khidmat sementara Mentari dengan cepat mengambil benda penyangga itu dan menyembunyikannya di balik kaos.
"Tante, Om. Tari minta maaf ya." Mentari menjura lalu berbalik dengan cepat dan masuk ke kamar.
Asih melepas telinga anaknya, "Jadi mau kapan nikahnya?"
Pram menatap ibunya tak percaya, langsung di todong tanggal, tidak sabaran, sama sepertinya, bedanya Pram lebih masuk akal.
"Sabar atuh, Mak. Anaknya masih pingin jalan-jalan di sini, besok malah aku sudah janji mau ke Jawa barat ke rumah emak." jawab Pram sambil mengusap telinganya yang perih.
Asih menatap pintu kamar tamu yang kembali terbuka sewaktu Mentari membawa handuk untuk ke kamar mandi. Ia tersenyum sewaktu dengan santun Mentari membungkukkan badannya lagi.
"Hayu bareng-bareng ke rumah, kenalan sama keluarga, lagian Pram, adikmu sudah ngomong sama emak. Aa Pram bohong, Mak. Pevita mah artis terkenal, nggak mungkin mau pacaran sama Aa. Dosa besar katanya. Bikin karir redup!" Asih meniru ucapan anaknya.
Pram cengengesan sambil mengatupkan kedua tangannya. "Maaf, mak. Tapi udah ada gantinya yang masuk akal, nggak bohongan, jadi emak dan bapak bener-bener terima Mentari?"
Asih menyipitkan matanya, "Rasanya ajaib kalo kamu tiba-tiba punya calon istri, Pram. Jujur aja emak sedikit nggak yakin." katanya realistis, apalagi Bagyo juga menimpalinya dengan anggukan.
"Emak dan bapak setuju-setuju aja dengan pilihanmu. Mau Mentari, bumi, bulan, bintang, atau meteor yang penting kamu itu yakin bahwa apa yang terjadi dengan kalian nggak cuma kebutuhan raga!" Asih tersenyum penuh arti.
Pram tersenyum paham. Tapi apakah mereka berpikir kalau alasannya dari semua itu adalah mereka berdua?
"Ya udah, nanti kita jauh-jauhan dulu setelah dari rumah emak. Tapi jangan lama-lama, aku nggak tenang jauh dari Mentari."
"Kenapa? Nggak sabar?"
"Ada deh, emak mau tau aja!!!" Pram menangkis bantal sofa yang di lempar ibunya lalu terkekeh. "Lagian udah di bawain mantu malah di suruh jauh-jauhan. Nggak tau aja emak kalo aku nanti rindu."
Pram semakin terbahak sewaktu emaknya mengomel panjang pendek tentang ucapannya.
"Bocah gelo, tapi anak emak euy, lieur jadinya."
__ADS_1
•••
To be continue and happy reading.