
Mentari menuju ke arah suaminya yang termangu di halaman rumah, ia mengulurkan ponselnya yang ia bawa berkelana demi mengetahui rumah Tatiana pagi-pagi tadi pukul enam sewaktu Pram masih terlelap dalam mimpi.
Pram mendongkak, memaku tanpa kata. Dalam ragu yang diwajarkan dia tersenyum.
"Duduklah sayang." Pram menaruh ponselnya di meja. Ia menyentuh sisi kiri bangku kayu yang ia sambangi setelah persoalan singkat tadi cukup menyita seluruh kewarasannya.
Pram memandangi istrinya dengan wajah sedikit di tekuk.
Mentari menyunggingkan senyum sembari meraih tangan Pram. Dia mengusap punggung tangan suaminya.
"Harusnya aku bilang dulu kalo mau ke rumah Ana sama Aa, cuma pasti Aa nggak akan ngasih izin. Jadi, maaf. Maaf kalo sudah bikin Aa khawatir dan sedih."
Mentari mengisi sela-sela jemari Pram dengan jarinya. Menggenggamnya.
"Apa kamu puas?" sahut Pram.
Mentari mengiyakan, rasanya memang cukup lancang menemui mantan kekasih suaminya demi menentramkan hatinya sendiri sementara ada tiga hati yang masih berbalut rasa bersalah dan kecewa itu terus berkubang dalam keresahan yang tidak akan kunjung terselesaikan dengan baik. Maka ialah yang memulainya, sebab diantara banyak pilihan yang ia pikirkan, Pram pernah berkata bahwa kalo elo emang udah nggak ada rasa sama mantan elo, biasa-biasa aja kali kalo ketemu, itu tandanya elo udah lepas, elo udah bisa menerima segala baik buruknya masa lalu dan jika kembali di pertemuankan, maka sapalah tanpa adanya perasaan.
Tapi suaminya tidak biasa-biasa saja sewaktu bertemu dengan Tatiana kala makan siang bersama. Seperti masih ada lara yang mengganjal di hatinya lengkap dengan rumah biru ini.
Mentari melepas tangannya seraya duduk di samping Pram.
"Aku tahu, Aa masih belum bisa terima. Setidaknya itu yang bisa aku simpulkan dari setiap gerak-gerik Aa waktu ketemu Ana."
"Tar..." Pram memiringkan tubuhnya, menatap raga yang baru saja membuat perasaannya carut-marut.
"Memaafkan aku bisa lakukan, tapi tidak dengan menerima keberadaan mereka kembali, Tar. Wajar kan, kita sama-sama pernah mengalami hal seperti itu. Lukamu mungkin tidak akan sepenuhnya membaik meski kamu bahagia bersamaku, begitu juga gue. Cuma hei, geulis."
Pram menyelipkan rambut Mentari ke belakang telinganya.
"Kita bisa lebih realistis lagi kan. Gue mau kita nggak berhubungan lagi dengan mantan. Setidaknya itu yang buat gue lebih tenang, and to happy with you." urai Pram serius.
Mentari mengusap punggung suaminya dan mengangguk.
"Iya, tapi Aa senyum dong. Daritadi waktu kita pulang Aa terus diam. Kenapa sih? Merasa ada yang patah, atau masih sakit dadanya?" goda Mentari sambil mengusap dada suaminya, dia tersenyum dan menyandarkan kepalanya di lengan Pram sewaktu suaminya mengerang frustasi.
__ADS_1
"Lagian kasian anak mereka kan kalo seumpama mereka tidak menikah. Sama seperti Arimbi dan Bisma. Kita sama ya Aa. Tapi sekarang aku bersyukur, ketemu kamu."
Mentari berdehem, merasa geli seperti sedang merayu Pram.
"Tapi aku masih marah sama kamu, Tar." celetuk Pram.
"Kenapa marah?" sahut Mentari.
Pram menolehkan kepalanya, bisa-bisanya istri gue nggak peka!
"Kamu nggak tau gimana rasanya bangun pagi tanpa adanya kamu di sampingku, Tar? Atau kamu sebenarnya biasa-biasa aja kalo kamu bangun tidur aku nggak ada?" tukasnya dengan mata menelisik. Karena harapan, asa dan semuanya akan jauh lebih baik jika ia terbangun dari tidurnya ada Mentari di sisinya.
Mentari menarik kedua sudut bibirnya.
Bener kata Ana, Pram emang hiperbola. Emang semua cintanya harus di tunjukkan terang-terangan.
"Mentari." sentak Pram.
"Apa sayang?" sahut Mentari.
"Paham kok, Aa. Paham banget kalo Aa cinta mati sama aku sampai bangun tidur pun harus aku temani. Jadi maaf lagi soal tadi pagi, itu karena aku belajar banyak dari Aa." Mentari mengerling usil.
Pram mendesis. Bisa-bisanya dia niru gue waktu ngajar Bisma diam-diam. Emang beneran istri itu cerminan suami? Gawat juga ini kalau Mentari main labrak cewek yang gangguin gue. Mana banyak lagi di peternakan ayam.
Pram mengusap lehernya. Menyudahi urusan tadi pagi dengan merangkul bahu Mentari. Ia menyadarkan kepalanya di atas kepala Mentari yang bersandar di lengannya.
"Cukup sekali bertingkah seperti tadi pagi, Tar. Sebagian nyawaku ada di kamu. Kalo kamu nggak ada, aku benci khawatir sendiri." ucap Pram.
Buahahaha, Roni terbahak-bahak di belakang pintu tanpa suara. Ia menjauh sambil menyambar vas bunga biru dari meja.
"Kesel banget gue lihat anak cinta kumat, kasian bininya, nggak bisa napas."
Buahahaaaa, bruk. Roni tersandung karpet hingga membuat vas yang dia pegang meloncat dan pyarrr... Vas pecah.
Pram dan Mentari yang sedang berkecupan mesra menoleh bersamaan.
__ADS_1
"Jangan ancurin rumah gue, Ron!" teriak Pram.
Roni semakin terpingkal-pingkal dibuatnya.
"Jangankan menghancurkan, memperbaikinya aku sanggup, Pram." celetuk Roni sambil menggelepar, "capek gue, capek banget ikutan ngurus rumah tangganya."
Pram dan Mentari menghampirinya.
"Ngapain lo?" tanya Pram sambil menendang telapak kakinya. "Niat kerja nggak Lo?"
Roni ganti menendang tulang kering Pram sampai laki-laki itu mengaduh, membungkukkan badannya dan mengusap tulang keringnya yang sakit.
"Elo daripada cuma mesra-mesraan mulu buruan deh beresin rumah elo sendiri." celetuk Roni, "Kalo enggak bisa-bisa gue ikutan benci warna biru seperti elo berdua."
Mentari meringis, mendadak melihat rumahnya berantakan dia malah merebahkan diri di sofa.
"Lihat aja aku udah capek, Aa. Aa gih yang beres-beres. Ini semua kan hasil diskusi serius Aa, jadi kalo Aa serius juga dalam melanjutkan perjalanan menuju masa depan yang gemilang, Aa juga harus serius membersihkan semua sendiri!" ucap Mentari sok tegas.
Suara erangan frustasi lolos dari mulut Pram. Dia menggeleng. Ikut merebahkan diri di sofa yang belum di angkut keluar rumah.
"Belum makan gue, jadi lemes." Pram lantas menepuk lengan Roni.
"Cari nasi Padang, Ron. Beli juga buat tukang-tukang elo."
Roni langsung menggelindingkan tubuhnya menjauh dari Pram dan Mentari.
"Elo aja sana. Lagian belum cari keringat juga kan hari ini? Gue udah, banyak. Jadi elo aja yang jalan! Gue capek." tolaknya berang.
Pram yang sejujurnya tidak mau ikut membereskan jejak-jejak diskusinya dengan mantan berlonjak semangat.
"Siap pokoknamah. Bisa di atur." Ia mengecup kening Mentari, "Aa tinggal dulu ya sayang, cari makan. Kamu di rumah yang sabar ya."
"Alibi mu, Aa... Aa." sahut Mentari dengan muka di tekuk.
Kayak aku nggak paham aja dengan kelakuanmu itu. Aa... Aa.
__ADS_1