KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Siapa tahu jodoh


__ADS_3

Adisty Kamila Putri bergegas berlalu dari hadapan cowok yang terlihat sedang mencoba mengingat sesuatu itu.


Sebelum cowok itu ingat dan mungkin akan membalas kejudesannya tempo hari di taman, dia bergegas meninggalkan cowok itu setelah berterimakasih dan berharap tidak akan bertemu dia lagi di lain hari.


Setidaknya tidak dalam waktu dekat ini.


Tristan tenang dalam dekapannya di balik jilbabnya yang sudah basah kuyup karena air hujan dan air selokan.


"Besok lagi jangan nakal ya. Kalau kamu tadi sampai hanyut nggak tertolong gimana tadi?" gumam Adis- panggilannya sehari- hari- dengan rasa kuatir.


"Ketemu, Mbak?" suara Mbak Yanti menghadangnya di depan pintu rumah.


"Ketemu. Nyemplung selokan." jawab Adis kemudian mengeluarkan Tristan dari balik jilbabnya dan menyerahkannya pada Mbak Yanti.


"Ya ampuuuun. Mbak Adis nolongin dia nyemplung selokan juga?" tanya Mbak Yanti.


"Dibantuin orang tadi. Dia ngumpet di bawah cor coran yang buat nutup selokan itu lho. Untung ada orang lewat aku hadang mau berhenti. Nolongin ngeluarin dia dari sana." kata Adis sambil teringat wajah bingung dan penasaran cowok itu


"Orang kompleks sini juga, Mbak?" tanya Mbak Yanti penasaran.


Adis hanya mengangkat bahunya.


"Harusnya tadi Mbak Adis tanya, alamatnya di blok mana." kata Mbak Yanti.


"Buat apa?" tanya Adis nggak ngerti.


"Kan bisa dikirimin kue bikinan mbak Adis sebagai ucapan rasa terimakasih." jawab Mbak Yanti.


Iya juga ya.....secara cowok itu sampai rela hujan- hujanan buat nolongin Tristan.


"Tolong ya, Mbak. Di keringin lalu kasih susu. Aku mau mandi dulu. Habis mainan air selokan, nanti keburu ketahuan Bunda, dimarahin." kata Adis dengan mata mengerling jenaka.


Padahal sebenarnya itu hanya sebuah upaya untuk menyingkirkan sedikit rasa bersalah di hatinya - yang tiba- tiba muncul- pada cowok itu.


"Siap, Mbak." jawab Mbak Yanti dengan semangat menerima Tristan yang meringkuk kedinginan.


...🧚🧚🧚🧚🧚...


"Astagfirullah, Mas.....lha kok ya hujan- hujanan lho....Nggak bawa mantrol (jas hujan) tadi?" tanya Mbak Puji saat melihat Satrio masuk ke garasi dengan basah kuyup dan sneaker yang tergantung di stang motor.


"Bawa." jawab Satrio santuy.


"Lha kok nggak dipake? Mana cekeran lagi." tanya Mbak Puji mengikuti Satrio masuk lewat pintu garasi yang tembus ke dapur.


Dia berjalan cepat menuju tempat dimana alat pel berada dan menyambarnya kemudian mengekor di belakang Satrio.


"Nggak sempet makenya." jawab Satrio sambil tetap berjalan menuju tangga menuju lantai dua, dimana kamarnya berada.


"Kok nggak sempet? Hujannya langsung byuuuk gitu po?" tanya Mbak Puji masih mengekor di belakang Satrio dengan memainkan alat pel di tangannya.


Mengepel tetesan air dari baju Satrio yang basah kuyup.


"Ho o." jawab Satrio meniru gaya bahasa Lukas kalau mau menjawab IYA.


"Lha kok sempet copot sepatu barang (juga- bahasa Jawa)?" tanya Mbak Puji belum juga berhenti bertanya.


"Tadi mainan air di selokan." jawab Satrio sambil menoleh pada Mbak Puji, saat kakinya mulai menginjak anak tangga pertama.

__ADS_1


"Astagfirullah..... Kayak bocah aja kamu tuuuu." kata Mbak Puji sambil menggeleng tak mengerti.


"Jangan dilaporin mama kalau aku main hujan-hujanan ya." kata Satrio dengan gaya mengiba, membuat Mbak Puji tertawa.


"Tergantung uang tutup mulutnya tebel nggak ..." kata Mbak Puji sambil terkekeh.


"Cemban." kata Satrio ngasal, masih dengan langkah cepat meniti anak- anak tangga dan mbak Puji yang terus mengekorinya.


"Dih! Murah amat mulutku." sungut mbak Puji.


"Ijo deh....ijo...." tawar Satrio lagi untuk menyebut uang kertas duapuluh ribuan sesampai di depan pintu kamarnya.


"Mmmmmm..... boleh deh. Lumayan bisa buat bayar arisan besok." kata Mbak Puji sambil tersenyum setelah pura- pura berpikir.


"Dasar matre...." sungut Satrio sambil memutar handle pintu, yang hanya mendapat balasan cekikikan Mbak Puji yang tentu saja nggak mengambil hati ucapan Satrio.


Tuan mudanya itu memang suka ngomong pedes, tapi dia sudah kebal dari awal.


Lagipula omongan pedesnya cuma becanda saja.


Aslinya tuan muda itu baik banget. Suka ngasih uang tiba- tiba.


"Tak bikinin mi rebus ya, Mas?" tawar Mbak Puji saat satu langkah Satrio sudah menginjak lantai kamar dan masih dibuntuti Mbak Puji dengan tongkat pel nya.


"Nggak nambah uang tutup mulut lho ini." kata Satrio dengan nada mengancam.


"Iyaaaa." sahut Mbak Prapti sambil tertawa.


"Mi kuah dua, pakai telur dua, sawi, dan nggak usah pake lombok ( cabe)." request Satrio sebelum melangkah masuk ke kamar mandi dan Mbak Puji sudah tak akan mengekor padanya lagi.


"Siaaap." sahut Mbak Puji yang sudah melangkah kembali menuju pintu kamar.


Pikirannya kembali melayang kepada si Emak kucing tadi.


Wajah manis agak judes tapi memiliki bibir yang indah dan alis mata yang cantik terus saja menari- nari di kepalanya.


"Kenapa tadi nggak sempet kenalan sih?" gumam Satrio dengan menyesal.


Tapi kemudian senyumnya terbit.


Setidaknya dia tahu dimana daerah cewek itu tinggal.


Tak jauh dari taman sepertinya.


Baiklah, Satrio berencana untuk lebih menajamkan matanya kalau sedang berada di daerah taman.


Siapa tahu kan dia akan melihat cewek itu keluar dari sebuah rumah di daerah situ.


...🧚🧚🧚🧚🧚...


"Majikanku lagi agak demam." cerita mbak Yanti sambil menerima uluran mangkuk berisi bakso jumbo dari Mbak Puji.


Kebetulan hari ini hari Minggu pertama di bulan ini. Jadwalnya para ART kompleks arisan dan ghibah massal.


Biasanya mereka arisan di warung- warung makan sekitar kompleks saja, biar kalau ada panggilan tugas mendadak dari majikan mereka, nggak terlalu lama baliknya.


"Boss ku juga. Tadi pagi WA minta dibeliin bubur ayam karena kliyengan parah, jadi nggak berani keluar kamar. Flu berat kayaknya." sahut Mbak Puji menceritakan Satrio yang dari semalam demam dan menderita sendiri di rumahnya.

__ADS_1


Untungnya kotak P3K di rumah, obat- obatannya lengkap. Jadi Satrio nggak kerepotan harus nyari obat demam dan flu.


"Nama bossmu siapa sih, Mbak? Yang pakai motor sport putih itu kan?" tanya Lia, ART yang rumah majikannya berjarak enam rumah dari rumah Satrio.


"Mas Satrio." jawab Mbak Puji yang mendapat anggukan dari teman- temannya.


"Cakep lho orangnya. Tapi agak cuek ya, Mbak?" tanya Lia lagi pada Mbkak Puji yang sedang mengunyah soto ayam.


"Iya. Agak cuek. Tapi dia baik. Loma (suka ngasih- ngasih, bahasa Jawa)." kata Mbak Puji membanggakan majikan mudanya.


"Oh, kalau yang pakai motor sport putih, tinggi, cakep, emang kayaknya baik orangnya. Suka ngasih makan kucing- kucing. Aku sering liat dia ngasih makan kucing- kucing kalau pas di taman. Kadang ngeliat dia berhenti di pinggir jalan juga cuma buat ngasih makan kucing. Kayaknya dia bawa tas buat bawa makanan kucing deh." sahut Nur, ART tercantik di kompleks.


"Dia melihara banyak kucing di rumah?" tanya Lia pada Mbak Puji.


"Enggak. Dia nggak melihara apa- apa di rumah. Tapi memang selalu beli makanan kucing sekarung- sekarung buat dia kasih makan kucing di jalan- jalan. Tas nya itu isinya toples isi makanan kucing. Aku yang ngisi toples- toples itu kalau di rumah." terang Mbak Puji.


"Kayaknya cocok nih sama Mbak Adis. Sama- sama suka kucing." kata Mbak Yanti sambil senyum- senyum.


"Memangnya Mbak Adis sudah kenal sama mas Satrio?" tanya Fatim, yang sedari tadi hanya asik menyimak percakapan dengan beberapa teman lainnya.


Fatim ini ART yang rumah majikannya berseberangan dengan rumah Satrio.


"Kayaknya sih belum. Tahu sendiri kan Mbak Adis kayak gimana orangnya kalau sama cowok. Dingin, judes. Padahal Mbak Adis aslinya kan baik banget orangnya. Ya kan?" tanya Mbak Yanti meminta persetujuan soal kebaikan majikannya pada rekan sejawatnya.


"Iya....." jawab teman- temannya setuju karena mereka semua tahu kebaikan dan keramahan Adis.


Tapi keramahan dan sikap hangat Adis hanya untuk sesama perempuan.


Tapi kalau dengan para pria, dia akan cuek dan memasang wajah judes.


"Kemarin hujannya deres banget ya." celetuk Nur mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya. Malah Tristan lari keluar Samapi mbak Adis nyarinya hujan- hujanan. Pulang udah basah kuyup dia. Kata Mbak Adis, Tristan nyemplung selokan. Untung ada yang bantu nolongin." cerita Mbak Yanti.


"Siapa yang nolongin? Edi?" tanya Lia sambil menyebut nama satpam kompleks.


"Kayaknya bukan. Mbak Adis nggak kenal kok." jawab Mbak Yanti.


"Kemarin Mas Satrio cerita dia hujan- hujanan main di selokan. Jangan- jangan dia yang nolongin Mbak Adis." duga Mbak Puji yang membuat semua mata para ART disitu berbinar- binar penuh harap.


Mereka seolah menunggu sebuah cerita akan tercipta gara- gara hujan kemarin.


"Mereka kompakan sakit hari ini." kata Lia sambil terkekeh.


"Woaaaaaah......" kata Mbak Yanti dan Mbak Puji barengan.


"Jangan ngayal ketinggian kalian. Mbak Adis juteknya kayak gitu. Mana mau Mas Satrionya sama cewek jutek." sahut Mbak Dar yang dari tadi asik ngemil kacang goreng dengan nada dingin.


Mbak Dar ini ART senior di kompleks ini. Paling tua juga usianya. Sudah kepala lima. Tapi masih gesit. Dia yang paling tegaan kalau ngomong.


"Emangnya kami ngayal apa?" tanya Mbak Yanti setengah bersungut.


"Aku tahu, kalian berharap mereka berjodoh kan?" tebak Mbak Dar sambil menatap Mbak Yanti dan Mbak Puji.


"Ya siapa tahu jodoh kan...." sahut Mbak Puji pelan.


"Mbak Adis nya yang susah kalau dia judes terus gitu. Memangnya dia pengen sendirian selamanya?" kata Mbak Dar tajam, membuat mereka semua terdiam dan hanya saling menatap.

__ADS_1


🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚🧚


__ADS_2