KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Cakepnya Udah Amat


__ADS_3

"Gimana ya....?" kata Adis dengan wajah meringis menatap Satrio ragu.


Melihat reaksi itu tentu saja Satrio kaget.


Aduh! Jangan bilang pikir- pikir dulu ya....


"Masih ragu sama aku ya? Khawatir aku nggak bisa nafkahin kalian berdua?" tanya Satrio dengan wajah gusar.


Kali ini mereka sudah berbincang di sebuah warung tenda bubur ayam yang lumayan lengang.


Mereka sengaja duduk di bangku bawah pohon yang agak jauh dari gerobak bubur dan meja- meja yang mengitari gerobak.


Adis jadi kaget saat melihat reaksi Satrio yang terlihat insecure itu.


"Bukan masalah itu yang bikin aku ragu, Mas. Aku nggak ragu soal rejeki kita setelah menikah. Sudah ada yang ngatur. Yang penting kita sama- sama ikhtiar." kata Adis meluruskan dugaan Satrio.


"Trus apa yang bikin kamu ragu?" tanya Satrio tak sabar.


"Mmmmm....orangtuamu beneran nggak papa kalau kamu nikah sama janda anak satu?" tanya Adis sambil menatap Satrio cemas namun terlihat menyimpan harap.


Satrio menghela nafasnya pelan.


"Kan kamu udah denger sendiri mereka gimana sama kamu... Bukan masalah buat mereka." kata Satrio berusaha meyakinkan.


Adis masih nampak belum lega sepenuhnya.


"Nanti kalau kenalan kamu, kerabat kamu lainnya tahu kamu nikah sama janda, kamu nggak malu diomongin mereka? Nanti diolok- olok sama mereka..." tanya Adis kemudian.


"Yang kenal betul sama aku nggak bakalan ngomongin aku. Nggak bakalan kaget juga. Percaya deh." kata Satrio setelah menghela nafasnya pelan.


"Kok bisa gitu?" tanya Adis keheranan.


Satrio menelan suapan bubur terakhirnya sebelum menghembuskan nafasnya berat sambil menatap Adis gamang.


Apa iya harus bikin pengakuan dosa dulu sama dia, baru dia mau nikah sama aku? Tapi kalau aku cerita, apa dia malah nggak ilfeel dan malah nggak mau nikah sama aku?


Tapi sebuah hubungan yang bener kan harusnya memang nggak ada yang ditutupin ya?


"Kamu kayak yang orang paling berdosa aja ngomongnya, Dis. Seolah kesalahan kamu itu kesalahan yang paling besar di dunia. Sampai- sampai seolah nggak layak dimaafkan, nggak layak diterima hidup lagi." kata Satrio pelan.


"Ya karena memang apa yang kulakukan di masa lalu memang dosa besar." kata Adis cepat.


"Yang punya dosa besar disini bukan cuma kamu, Sayaaaaaang! Aku punya lebih banyak dosa besar kalau mau itung- itungan dosa besar. Kamu cuma zina sekali, itupun karena khilaf. Aku udah melakukan zina berkali- kali dan dalam keadaan sadar, dan bukan hanya dengan satu cewek." kata Satrio kemudian.


Ditatapnya wajah Adis yang nampak termangu.


"Menurutmu yang harusnya insecure disini aku atau kamu?" tanya Satrio kemudian.


Adis menunduk.


"Sekarang pertanyaannya aku balik. Kamu dan keluargamu apa bisa menerima dengan ikhlas kebobrokan ku di masa lalu itu? Kamu siap nggak kalau misalnya suatu hari nanti sesuatu dari masa laluku tiba- tiba datang dan mengusik rumah tangga kita?" tanya Satrio pelan.


Ada kecemasan di tatapan Satrio menunggu reaksi Adis.


"Aku pasti akan bisa mengatasinya kalau kamu tetap teguh dan setia berada di sampingku." kata Adis sambil tersenyum yakin menatap Satrio.


Nyeeeesss.....rasanya Satrio mendapat siraman air es di tengah kegerahan perasaannya.


"Kamu percaya kalau aku bisa setia?" tanya Satrio masih dengan tatapan belum yakinnya.


"Percaya." jawab Adis santai walau Satrio bisa menangkap kesungguhan dalam nada bicaranya.


"Kenapa bisa percaya?" tanya Satrio keheranan.

__ADS_1


"Aku belum percaya sama kamu..."


"Hah? Maksudnya....?"


"Tapi aku percaya sama Mas Didit. Dia bilang aku bisa mempercayai kamu dalam hal apapun. Hal apapun dia bilang. Hal apapun itu termasuk kesetiaan bukan?" tanya Adis balik.


Satrio mengembangkan senyumnya.


Calon kakak ipar tercinta dah pokoknya Mas Didit. Love you so much my big bro!


"Ya. Termasuk kesetiaanku. Itu akan terbukti seiring waktu. Dan aku berharap tak akan pernah mengecewakan kepercayaan itu." kata Satrio sambil tersenyum manis dan menatap penuh keyakinan pada Adis.


"Jadi berapa perempuan yang mungkin nanti di masa depan akan menganggu ketenanganku?" tanya Adis sambil tersenyum menatap jail pada Satrio.


Satrio meringis malu.


Sumpah! Kalau ada penghapus untuk menghapus masa lalu, dia hanya ingin menghapus masa lalu dibagian saat dia begitu murahannya mengoperasikan burung garudanya di sembarang gadis yang menawarkan diri padanya.


"Banyak ya? Sampai nggak keitung?" tanya Adis masih sambil tersenyum meledeknya.


"Jangan ngomongin itu kenapa sih? tanya Satrio dengan wajah malu.


"Kan aku cuma mau mempersiapkan mental aja kalau- kalau ada perempuan yang besok tiba- tiba dateng. Minimalkan aku udah tahu medannya dulu untuk mengatasi masalah yang mungkin muncul." kata Adis santai.


Satrio tersenyum malu dan kikuk.


"Atau kalau kelupaan yang lalu- lalu, minimal kamu masih inget dong, terakhir kamu begituan sama siapa?" tanya Adis lagi.


Satrio menggeleng keheranan mendengar nada bicara santai Adis itu.


Mereka sedang membicarakan hal tabu, bahkan bisa disebut aib. Tapi Adis tak membicarakan itu dengan nada penghakiman sama sekali.


Santai saja ngomongin itu kayak ngomongin hari ini mau makan dimana.


"Ya iya harus di jawab. Minimal ancaman bahaya yang paling depan akan muncul dari korban terakhir. Siapa?" tanya Adis lagi.


Satrio menggaruk kepalanya keki.


"Dea." jawab Satrio pelan.


"Siapa?" tanya Adis lagi.


"Dea. Dia pacar terakhirku sebelum aku ke Jogja." jawab Satrio menjelaskan dengan malu- malu.


Adis mengangguk- angguk puas.


"Kontak terakhir sama Dea kapan?" tanya Adis lagi sudah mirip menginterogasi.


"Sebelum aku ke sini udah nggak kontak- kontrakan lagi. Kontak terakhir ya pas dia ngajak putus itu." jawab Satrio kemudian.


"Jangan- jangan kamu ke Jogja buat ngobatin patah hati ya?" tanya Adis meledek sambil memainkan telunjuknya di depan wajah Satrio.


"Sedikit." jawab Satrio sambil terkekeh.


"Kok cuma sedikit patah hatinya?" tanya Adis keheranan.


"Ngapain patah hati banyak- banyak buat cewek yang barusan putus udah langsung jadian sama cowok lain? Sayang banget hatiku dipatah- patahin." kata Satrio setengah bersungut.


Dia ingat bagaimana Dea menatapnya dengan tatapan merendahkan hanya karena dia bilang uangnya tinggal sepuluh juta di rekening.


Tatapan memuja yang biasanya diberikan cewek itu padanya langsung raib begitu diberitahu dia jatuh miskin. Menyebalkan sekali.


"Selama masa jahiliyah kamu sama cewek- cewek dulu, kamu selalu pakai pengaman kan?" tanya Adis setengah berbisik.

__ADS_1


Satrio hanya mampu terpaku dan mengedip- ngedipkan matanya saking kagetnya dengan pertanyaan di luar ekspektasinya itu.


"Jangan bilang nggak pakai pengaman ya?!" sergah Adis kemudian.


Satrio hanya mampu nyengir kuda salah tingkah.


Apa memang begini ya kalau bekas cowok nakal mau ngajak nikah cewek? Interogasinya mendalam beneeeer!


"Ya ada yang pakai, ada yang enggak. Tergantung kata ceweknya aja." jawab Satrio kemudian sambil meringis.


"Waaah! Jangan- jangan ada yang udah jadi anak dong!" seru Adis tertahan.


Deg!


Ucapan Adis barusan membuat Satrio panik.


Kenapa nggak terpikir sejauh itu ya selama ini? Ah tapi kalau sampai ada yang hamil mereka pasti nyariin dia lah. Nyatanya selama ini nggak ada yang minta tanggung jawab sama dia. Berarti aman.


"Tapi yang nggak minta aku pakai pengaman biasanya mereka udah kontrasepsi sendiri." kata Satrio membuat Adis terlonjak.


Ini pengetahuan baru buat 'gadis baik- baik' semacam Adis.


Ternyata seorang cewek single bisa ber KB sendiri.


Setahu Adis seorang perempuan melakukan KB rutin harus sepengetahuan suaminya.


Culunnya aku....


"Dan sejauh ini nggak ada yang nyariin aku buat minta tanggung jawabku karena mereka hamil." sambung Satrio lagi sambil terkekeh malu.


"Padahal kamu nggak cakep- cakep amat. Kenapa bisa meniduri banyak perempuan..." gumam Adis keheranan sambil menatap Satrio.


"Eh?! Mana ada yang bilang aku nggak cakep? Kurang mempesona gimana aku ini? Waaaah, kamu harus aku bawa ke dokter mata kayaknya." sergah Satrio tak terima dengan ungkapan Adis barusan.


"Mataku baik- baik aja. Nggak butuh kacamata." sahut Adis cepat.


"Tapi kamu nggak percaya aku cakep! Kamu nggak bisa ngeliat ketampananku yang tak terbantahkan ini. Parah itu!" sergah Satrio dengan wajah dan suara kesal.


Adis tertawa mendengarnya.


"Sampai segitunya pengen dakuin ketampanannya..." kata Adis meledek.


"Ya iyalah! Masak calon istri sendiri yang bilang aku nggak cakep- cakep amat. Cakepku ini udah amat!" kata Satrio sambil tertawa.


Adis terbahak mendengarnya.


Cakepnya udah amat dia bilang.


"Iya deh. Mas Satrio cakepnya udah amat..." kata Adis akhirnya. Membuat Satrio tersenyum lebar.


"Pusakanya juga keren abis." bisik Satrio sambil mengerling dan berbisik pada Adis.


"IH !!!" seru Adis kesal walau wajahnya merona.


"Beneran!" kata Satrio sambil terkekeh sengaja menggoda Adis.


"Jangan mesum sama gadis baik- baik!" ancam Adis berbisik sambil menunjuk muka Satrio.


Satrio tergelak mendengarnya.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


Alhamdulillah nggak lama telat up nya....😀😀😀

__ADS_1


__ADS_2