
.............
Coz someday someone's gonna love me
The way I wanted you to need me
Someday someone's gonna take your place
One day I'll forget about you
You'll see I won't even miss you
Someday....someday....
But now I know you can't tell
I'm down and I'm not doing well
But one day
These tears they will all run dry
I won' t have to cry
Sweet goodbye.....
................
...🎶 Someday - Nina Girado 🎶...
Di bab ini dan benerapa bab ke belakang kita akan kilas balik ke kehidupan Adis beberapa tahun lalu ya.....😊
...🧚🧚🧚🧚🧚...
Airmata Adis tumpah ruah di atas guling yang jadi penopang mukanya.
Lagu dari radio yang di putarnya tanpa sengaja terasa seperti semakin mengoyak dan mengolok perasaannya sendiri saat ini.
Dia merasa asing pada dirinya sendiri.
Dia merasa patah, entah oleh apa.
Dia merasa hancur, entah oleh hal apa.
Dia merasa kehilangan, entah kehilangan apa.
Dia merasa sendiri, tanpa tahu di tinggalkan oleh siapa.
"Aku ini kenapa siiiiih?" keluhnya pada diri sendiri di sela isakannya.
Tak seharusnya dia memikirkan apa yang mungkin dipikirkan Satrio tentangnya.
Bukan hanya Satrio.
Harusnya dia bisa tak usah perduli apa yang dipikirkan orang- orang tentangnya. Tentang Reta.
Mereka tak tahu bagaimana dia berusaha terus menebus kesalahan semalamnya dulu.
Mungkin bila Beni masih ada bersamanya, hidupnya tidak akan terasa seberat ini.
Bila Beni masih ada, mereka bertiga - dia, Beni,dan Reta- pasti telah jadi satu keluarga bahagia yang penuh cinta.
Bila Beni tetap bersamanya, ia tidak perlu bertemu dengan Panji dan harus terus menahan sedih karena harus bersama pria itu.
Bila Beni bersamanya, ia tidak harus berpisah dengan Reta karena dia akan tinggal di rumah mereka sendiri bersama Beni dan Reta.
Dia tidak perlu pergi sejauh ini dan meninggalkan Reta hanya untuk mengamankan dirinya sendiri dari Panji.
Dan dia, tak perlu memiliki cerita bertemu dengan Bapak kucing itu.
Cowok songong menyebalkan yang selalu membuatnya serba salah dan uring- uringan.
Yang membuatnya kini begitu merasa kehilangan padahal mereka tidak pernah demikian dekat.
Adis tahu, Satrio memiliki perasaan khusus padanya.
Tatapan matanya yang sering dingin dan jahil, tak jarang sering menatapnya lembut bila mereka sedang berbincang walau hanya sekejap.
Tapi Adis sadar dari awal, cepat atau lambat Satrio akan tahu tentang statusnya yang bukan lagi seorang gadis.
Dia seorang Ibu dari gadis kecil cantik yang telah langsung suka pada Satrio karena selalu terkenang dengan pelukan 'yang seperti pelukan papanya'.
__ADS_1
Padahal sejak lahir Reta tak sempat merasakan pelukan Papanya, Beni.
Beni Agung Prayogi adalah cinta pertama dan kekasih pertamanya sejak dia kelas dua SMP hingga mereka kelas tiga SMA.
Sebelumnya mereka berpacaran sangat normal dan sewajarnya orang berpacaran.
Kedua orang tua mereka juga sudah saling tahu mereka berdua.
Beni dan Adis sama- sama di terima dengan baik di masing- masing keluarga.
Hingga dosa besar yang mereka lakukan hari itu membuat kedua keluarga mereka akhirnya sangat terluka walau orang tua mereka tak pernah mengatakannya.
Hanya sekali mereka melakukan itu. Dan mereka berdua sungguh sangat menyesal.
Adis dan Beni hanya melakukan sekali saja saat mereka sama- sama jauh dari rumah untuk mengikuti karya wisata di Bali.
Flashback on
**************
Adisty demam di siang hari itu, dan Beni yang telah di beri kepercayaan oleh kedua orang tua Adisty untuk menjaga keselamatan Adis, merasa bertanggung jawab dan diijinkan untuk menemani Adis di kamarnya dari siang hingga malam menjelang dan melewatkan agenda mengunjungi tempat wisata bersama rombongan kelasnya di setengah hari itu.
Adis yang telah meminum obat kala itu malah semakin menggigil kedinginan.
Lima selimut tebal,dua jaket tebal dan beberapa pasang kaos kaki telah dipakaikan Beni pada Adis.
Tapi sepertinya semua belum mampu memberi kehangatan pada tubuh Adis.
Panik. Hanya itu yang menguasai perasaan
Beni kala itu.
Berulangkali menghubungi guru pembimbing lewat panggilan telpon tak pernah berhasil karena sinyal yang buruk karena mungkin pengaruh cuaca yang sangat deras.
Entah dapat Ilham darimana saat Beni memutuskan untuk melakukan skin to skin pada Adis yang sudah dalam kondisi setengah sadar karena demam tingginya.
Di pikiran Beni waktu itu hanya benar- benar untuk meredakan panas tubuh Adis.
Dia takut Adis kenapa- kenapa selama dalam tanggung jawabnya.
Dan praktik pengobatan skin to skin ala Beni pun ternyata menunjukkan hasilnya.
Beni memeluk tubuh polos Adis erat dengan tubuhnya.
Dia seperti ingin memindahkan panas di tubuh Adis ke tubuhnya.
Dia ingin membuat rasa dingin yang menyiksa Adis lenyap perlahan.
Dan itu berhasil.
Menjelang senja, kesadaran Adis hampir pulih seiring panas tubuh yang kian menurun.
Dan Adis mulai gelisah dengan kenyataan bahwa mereka berdua polos tanpa pakaian dan saling berpelukan erat.
"Ben, aku udah nggak papa. Udah nggak sedingin tadi." kata Adis mencoba melepaskan diri dari dekapan Beni yang belum juga mengendur.
Tangannya sudah meraba- raba sekitarnya untuk mencari kira- kira dimana pakaiannya di lempar oleh Beni yang panik tadi.
Beni meraba dahi Adis dan langsung bernafas lega karena dahi itu kini hanya menyisakan rasa hangat, tak lagi sepanas tadi.
Dengan perlahan Beni melepaskan pelukannya.
Membuang jauh pandangannya dari tubuh polos Adis di depannya.
Mereka sadar mereka tidak boleh saling melihat tubuh polos satu sama lain.
Keduanya hanya saling berbagi selimut di masing- masing sudut ranjang dengan maksud bergegas memakai pakaian mereka dengan saling memunggungi.
Adis baru selesai memakai pakaian dalam dan kaosnya saat dengan sedikit gemetar Beni memanggilnya.
"Kenapa?" tanya Adis saat dilihatnya Beni menatapnya ragu.
Cowok itu sudah memakai celana pendeknya dan masih bertelanjang dada.
"Kenapa, Ben?" tanya Adis lagi karena Beni tak juga berucap.
"Nggak papa." kata Beni kemudian beranjak dari sisinya dan duduk menjauh di satu- satunya kursi yang ada di kamar itu.
Beni nampak sangat gelisah dan berulangkali menatap Adis dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Aku ke kamar mandi dulu." kata Beni tiba- tiba dan bergegas melesat ke kamar mandi di sudut kamar.
Adis mengira Beni akan mandi. Tapi cukup lama tak di dengarnya suara air jatuh.
"Ben!" seru Adis setelah lebih dari sepuluh menit tak terdengar ada kegiatan menggunakan air di dalam kamar mandi.
Beni menyahut pelan.
"Kamu kenapa? Kamu ngapain nggak mandi-mandi?" tanya Adis yang kini sudah mendekat ke pintu kamar mandi.
"Nggak papa. Kamu tenang aja. Sudah, balik baring lagi sana. Kamu belum sembuh bener." usir Beni.
Suara Beni aneh. Adis takut Beni yang gantian demam.
Makanya tangannya kini malah mengetuk- ngetuk pintu kamar mandi agar Beni mau keluar.
"Biarin aku disini dulu, Dis. Tolong. Nanti aku keluar sendiri." pinta Beni.
Adis yang tidak mengerti kondisi Beni yang sedang berjuang meredakan hasratnya, malah semakin membandel dengan terus mengetuk dan minta Beni keluar.
"Adis, tolonglah jangan begitu. Aku sedang menjagamu. Tolong diam.Please!" teriak Beni putus asa.
Adis yang merasa bersalah karena membuat Beni begitu malah semakin membandel.
"Kamu pengen apa? Cium? Aku mau dicium kamu." kata Adis dengan ikhlas hati.
Selama mereka berpacaran, mereka hanya sebatas melakukan cium pipi. Itupun terjadwal. Hanya boleh cium sebelah pipi di malam Minggu saja.
Dan Beni beberapa kali sering bilang suka membayangkan kalau ingin bisa mencium bibir Adis suatu hari nanti.
Setelah cukup lama menunggu Beni bereaksi, akhirnya Beni keluar dengan tatapan mata yang belum pernah Adis lihat.
Tatapan mata mendamba.
"Boleh cium bibir?" tanya Beni lembut sambil menangkup pipi Adis.
Adis mengangguk pelan.
Hanya cium bibir saja. Nggak apa sekali- kali. Toh mereka sudah besar. Sudah kelas tiga SMA, begitu pikir Adis.
Tapi nyatanya nikmatnya ciuman pertama tak bisa mereka hentikan hanya cukup di bibir.
Adis dan Beni sama- sama terlena dan tak ada yang berusaha menghentikan kenikmatan yang terus menuntut lebih dan lebih di senja itu.
Derasnya hujan diluar seperti menambah panas bara api percintaan dini mereka hingga keduanya selesai dan tersadar telah melakukan kesalahan fatal dan dosa besar.
Keduanya menangis bersama.
Mereka menyadari kesalahan mereka saat itu juga.
Beni bahkan berlutut berulangkali meminta maaf pada Adis yang terus menangis meratapi kebodohannya.
"Aku akan tanggung jawab, Dis. Kamu jangan takut." kata Beni mantap.
Adis tak menyahut walau dia percaya Beni pasti akan melakukan itu.
Tapi apa iya mereka harus menikah di usia semuda ini?
Tiga bulan lagi mereka baru akan mendaftar kuliah.
"Jangan tinggalin aku ya." hanya itu yang bisa Adis ucapkan dengan pilu pada Beni.
Ya, apa jadinya dengan dirinya yang telah ternoda bila Beni kelak meninggalkannya?
Dia kini telah serupa bunga tanpa madu.
"Mana mungkin aku akan tinggalin kamu, Dis? Aku yang sudah merusak kamu. Aku nggak mungkin jadi pengecut seperti itu." kata Beni.
Adis mengangguk percaya dan sedikit lega.
"Sepulang dari sini aku bakal ngomong sama orang tua kita kalau kita minta tunangan dulu. Setidaknya itu ikatan tertinggi yang baru bisa aku kasih ke kamu. Nanti saat umur kita sudah 20, kita minta nikah. Pasti sudah diijinkan walaupun mungkin nikah secara agama dulu karena kita sudah lebih dewasa." kata Beni berencana.
"Tapi kita kan harus kuliah dulu, Ben." kata Adis yang sudah mulai bisa berpikir agak tenang.
"Nggak papa kuliah tapi nikah. Biar lebih aman kalau kemana- mana berdua karena udah sah.Lagian aku juga udah bisalah dikit- dikit ngasih kamu nafkah. Tapi jangan hamil dulu. Kita selesaikan kuliah dulu, baru punya anak." kata Beni semakin tinggi dan jauh berencana.
Semakin mampu membuat Adis tenang.
Yang pasti mereka berdua telah sungguh- sungguh berjanji tidak akan pernah lagi mengulangi kenikmatan dunia yang baru saja mereka rasakan tadi sebelum mereka menikah kelak.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
__ADS_1