KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Curhatnya Widuri


__ADS_3

Cewek ini unik. Tapi satu hal yang Satrio tahu, Widuri selalu berusaha bersikap apa adanya.


Seperti anak kecil. Lugu dan bersahaja dalam bersikap.


Saat dia senang dan ingin tertawa, maka itu yang dia lakukan.


Saat sedih dan tersentuh, dia akan menitikkan airmata.


Saat marah, dia akan ngomel dan ngamuk- ngamuk.


Bila di 'tempat asing', maka Widuri bisa jadi cewek cuek, bisa juga jadi cewek yang care, tergantung gimana lokasi menerimanya.


Dan Satrio beruntung bisa berteman dengan gadis ini.


Cewek yang simple dan seru walau tetap bawel dan sok ngatur kayak cewek umumnya.


"Bang, nanti istirahat aku pengen ngobrol berdua bisa?" tanya Widuri saat mereka berdua ditinggal Pak Cahyo ke bawah.


Satrio menatap Widuri keheranan.


Cewek itu menatapnya serius.


Tumben banget ini bocah.


"OK. Nanti kita nyari makan keluar biar leluasa ngobrolnya." kata Satrio setelah sejenak berpikir.


"Jangan ngajak Mas Lukas. Kita berdua aja." pinta Widuri menegaskan.


"Iya." jawab Satrio pelan.


Satrio udah GR duluan. Jangan- jangan Widuri mau nembak dia.


Eh, tapi kan dia baru patah hati.


Tapi pada prakteknya Satrio agak nggak enak hati saat harus mengusir Lukas yang mau ikut bareng maksi dengan keduanya.


"Kenapa?" tanya Lukas curiga.


"Kali ini aja. Tadi dia pengen ngobrol berdua serius sama aku. Aku juga nggak tahu soal apa. " kata Satrio setengah berbisik karena Widuri berjalan di depan mereka.


"Kalian lagi PDKT?" tanya Lukas dengan nada serius dan curiga.


Matanya menatap Satrio lurus dan Satrio bisa melihat jelas ada kesedihan di tatapan sahabatnya itu walau bibirnya tersenyum meledek.


"Enggak! Mungkin dia mau ngobrolin patah hatinya." kata Satrio mencoba beralibi.


"Kalau cuma mau curhat soal itu kan ada aku juga nggak papa. Kan aku juga tahu dia lagi patah hati, tadi nangis." protes Lukas.


"Mungkin dia nggak enak mau curhat sama cowok yang ketahuan naksir dia juga. Kalau sama aku kan netral. Aku nggak naksir dia." kata Satrio mencoba berdalih agar Lukas tak merasa tersinggung karena tak dipilih Widuri untuk jadi teman curhat.


"Bisa jadi.....Ya udahlah nggak papa. Tapi nanti aku diceritain ya?" pinta Lukas penuh harap.


"Nggak janji kalau soal itu. Kalau dia minta aku keep ya aku nggak bakalan bocorin sama siapapun." kata Satrio tegas.


Lukas mengangguk mengerti.


"Ayo cepetan, Bang! Ghibahnya nanti aja. Aku keburu lapar." seru Widuri yang sudah menunggu di samping motor Satrio.


"Padahal kue setengah kardus dia embat sendiri." bisik Satrio yang disambut kikikan Lukas.


"Dih yang nggak sabar pengen di bonceng Bang Sat." ledek Lukas yang segera berlari menuju motornya sebelum tendangan kaki Satrio sampai di tulang keringnya.


"Mau ngobrolin apa?" tanya Satrio saat mereka menunggu pesanan makanan datang.


Satrio sengaja mengajak Widuri nyari makan di warung soto dengan gazebo- gazebo kecil agar lebih private walau Widuri tadi di parkiran sempet protes karena rasa masakan di warung ini memang kurang mantap.


"Abang lahir dan besar di Jakarta kan?" tanya Widuri.


Satrio mengangguk pelan walau nggak ngerti arah pertanyaan Widuri itu.


"Aku mau nyari alamat seseorang di Jakarta. Tapi segede ini aku belum pernah ke Jakarta. Aku bermaksud minta tolong ke Abang buat bantuin nyari alamat itu. Kalau Abang nggak keberatan." kata Widuri pelan sambil menunduk.


Dari suaranya nampak jelas gadis itu sedang sedih.


"Kalau boleh tahu, alamat siapa? Saudaramu?" tanya Satrio pelan.

__ADS_1


Widuri tak segera menjawab.


Dia malah terlihat berulangkali menarik nafas panjang.


"Iya. Kerabat dekat yang baru aku tahu beberapa jam yang lalu." kata Widuri akhirnya.


Satrio diam sejenak. Mencoba berpikir bagaimana enaknya.


"Kamu bermaksud ke Jakarta, langsung ke alamat itu atau mau gimana?" tanya Satrio akhirnya.


"Maunya gitu. Tapi kalau menurutmu gimana, Bang? Aku benar- benar nggak tahu peta Jakarta dan nggak punya seseorang yang bisa ku tuju." kata Widuri dengan tatapan serius dan sedih.


"Itu alamatnya jelas nggak RT dan RW nya?" tanya Satrio.


Widuri sejenak memainkan ponselnya, mencari galeri photo dan menunjukkan pada Satrio sebuah photo tulisan tangan sebuah alamat.


"Aku kirim ke nomerku ya?" pinta Satrio yang dibalas anggukan Widuri.


"Biar aku minta tolong orang sana dulu buat ngecek alamat ini. Kalau sudah ada kabar, nanti kita pikirin gimana selanjutnya." kata Satrio sambil menulis sesuatu di ponselnya untuk Wira.


"Abang minta tolong siapa?" tanya Widuri dengan wajah khawatir.


"Adikku. Tenang saja. Aku sudah bilang sama dia kalau ini misi rahasia. Biarpun somplak, dia bisa dipercaya." kata Satrio menenangkan.


Widuri mengangguk sambil memaksakan tersenyum.


Satrio merasa cewek tomboy ini sedang menyimpan masalah berat. Lebih dari sekedar masalah patah hati.


Keduanya dipeluk keheningan cukup lama.


Satrio bingung mau membuka obrolan karena belum pernah melihat Widuri berwajah sesedih ini.


Berulangkali dilihatnya gadis ini hanya menghela nafas berat, seperti ingin bicara namun ragu.


"Kalau mau cerita, cerita aja. Aku bisa pegang rahasia kalau kamu percaya sih." kata Satrio akhirnya.


Widuri mengangguk kecil.


Sinar matanya langsung berubah lebih bercahaya, nggak sesedih tadi.


"Lapar dari mane lu?! Roti setengah kardus habis diembat sendiri, jam segini ngomong lapar." ledek Satrio sambil menggeleng tak percaya.


"Kalau lagi badmood bawaannya laper terus tahu?!" sungut Widuri dengan wajah menahan malu.


Iya juga sih....dia tadi habis roti banyak lho.


"Baik- baik lu masukin makanan ke lambung. Masih gadis, ntar tahu- tahu gendut , langsung bingung." ledek Satrio yang mendapat cibiran Widuri.


"Obat pelangsing mahal ya?" seloroh Widuri akhirnya sambil meringis.


"Itu tahu." sahut Satrio.


"Bang...." Widuri mengurungkan niatnya meneruskan kata- katanya setelah sebelumnya keduanya kembali terdiam.


"Apa? Kenapa nggak diterusin ngomongnya? Masih ragu?" tanya Satrio sambil menatap Widuri tenang.


Gadis itu mengangguk.


"Tenangin diri dulu barang sehari dua hari. Masalah apapun itu, jangan ngambil keputusan saat hati belum tenang. Ntar nyesel, nggak ada guna." kata Satrio kemudian.


Widuri kembali mengangguk sambil menunduk.


Rasanya aneh melihat cewek yang biasanya ceria dan gesit seperti kutu loncat tiba- tiba melehoy gitu. Seperti kehilangan semangat.


Apa patah hati begitu menyakitinya?


"Patah hati banget ya?" tanya Satrio akhirnya.


"Apa?" tanya Widuri kaget.


"Kamu loyo nyebelin kek gini karena patah hati kan?" tebak Satrio.


Widuri yang tadi terbengong langsung mengendurkan wajah kakunya.


"Termasuk itu juga kali." jawab Widuri pelan setelah kembali menghela nafas berat.

__ADS_1


"Berarti ada masalah berat yang lain?" tanya Satrio pelan.


Widuri hanya mengangguk dengan mata berkaca- kaca yang segera disembunyikannya dengan menunduk, berusaha tak menangis.


"Kalo mau nangis, nangis aja. Biasa kali cewek nangis." kata Satrio santai.


Dalam hatinya nggak tega banget melihat si kutu loncat ini jadi nggak ada semangat hidup.


Sebenarnya ada masalah apa sih sama bocah ini?


"Bang, kalau kamu tahu ternyata kamu bukan anak kandung orangtua yang selama ini ngerawat kamu, kamu gimana?" tanya Widuri akhirnya, dengan tatapan sedih.


Satrio tercekat.


Apakah dia sedang menikmati drama hidupnya Widuri?


Cewek ini anak pungut?


"Kalau aku ya biasa aja. Yang pasti aku harus lebih sayang lagi sama mereka. Sebagai balas budi untuk kebaikan mereka selama ini." jawab Satrio setelah sejenak terdiam.


"Nggak marah? Kecewa?" tanya Widuri dengan penasaran.


"Ngapain harus marah dan kecewa sama mereka? Udah jelas- jelas mereka yang ngerawat kita. Kecuali mereka menculik kita lalu kita dibikin sengsara. Beda lagi ceritanya." kata Satrio lagi.


Widuri masih menunduk namun Satrio melihat anggukan gadis itu.


"Kamu anak angkat?" tanya Satrio lirih namun terdengar santai.


Widuri diam. Lalu kemudian mengangguk.


"Semalam Ibuku ngasih tahu. Katanya karena aku sudah dewasa dan suatu hari pasti akan butuh wali nikah." kata Widuri pelan.


Kini dia sudah mengangkat pandangannya.


Menatap Satrio dengan wajah sedih.


"Bener juga itu. Trus alamat yang di Jakarta itu alamatnya orangtua kandungmu?" tanya Satrio santai.


Widuri kembali mengangguk dengan pancaran wajah yang lebih tenang. Mungkin terbawa pembawaan Satrio yang santai saja menanggapi masalah besarnya.


"Kata Ibu itu alamat terakhir yang dia tahu. Tapi ada kemungkinan kedua orangtuaku pindah." kata Widuri kemudian.


"Berarti benar, harus di cek dulu alamat itu. Nama orangtua kandungmu siapa?" tanya Satrio kemudian.


"Bagus Adipati." jawab Widuri pelan menyebut nama yang sejak pertama dia dengar terasa sangat keren.


"OK. Aku akan bantu kamu semampuku. Tapi jangan berpikir akan cepat ya." kata Satrio sambil nyengir kuda.


"Detektif ku angin- anginan soalnya. Besok dua minggu lagi aku mau ke Jakarta, nengok orangtuaku. Aku maksimalkan waktu dua hari disana buat dapatin info sebanyak- banyaknya soal orang tuamu. Sabar kan?" tanya Satrio sambil mengerling.


"Aku nggak ikut sekalian aja, Bang?" tanya Widuri.


Satrio terkekeh.


"Jangan dulu. Biar aku yang jalan dulu. Kalau sudah ada titik terang walau sedikit, kamu baru ku ajak ke Jakarta." kata Satrio kemudian.


Widuri mengangguk cepat.


Walau sesungguhnya dia ingin lebih cepat untuk tahu, tapi akhirnya dia memilih untuk bersabar menunggu bantuan Satrio saja dulu.


Tak apa menyabarkan hati dua minggu lagi.


Semoga saja akan ada titik terang yang akan menuntunnya untuk bertemu kembali dengan orangtua kandungnya.


Walau jauh di dalam hati, Widuri tidak yakin akan semudah itu menemukan mereka.


"Makasih ya, Bang." kata Widuri sarat dengan keharuan.


Satrio hanya mengangguk sambil meringis.


Belum juga dibantuin, udah makasih aja.


🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚


Setelah part 20 kayaknya mulai fokus ke Adis- Satrio.....

__ADS_1


Happy reading 💖💕


__ADS_2