KAMU PERI KECILKU

KAMU PERI KECILKU
Ke Gap Mama


__ADS_3

Satrio tersenyum manis saat dilihatnya wajah cantik Adis muncul setelah pintu di sebelah gerbang bercat putih itu terbuka.


"Kok kamu yang bukain? Mbak Yanti kemana?" tanya Satrio sambil tersenyum.


"Lagi mandi. Lagian kamu WA nya sama aku, nggak WA ke Mbak Yanti kalau pengen dibukain gerbang sama dia." jawab Adis datar walau matanya melirik sadis.


Satrio melongo.


Ya nggak gitu juga maksudnya, Dis....


"Maaf ya, aku ngembaliinnya kesorean. Tadi aku bawa nengok ponakan temenku dulu." kata Satrio setelah memarkirkan motor Adis di tempat yang di tunjuk Adis lalu mengulurkan kuncinya pada Adis.


"Iya. Tadi kamu juga udah bilang." kata Adis masih dengan nada datar.


Satrio mengangguk salah tingkah.


"Ya udah. Aku balik dulu ya." pamit Satrio setelah keduanya diliputi kebisuan cukup lama.


Hanya saling berlomba menunduk dan menghela napas.


Sebenarnya Satrio menunggu Adis mengajaknya duduk dulu di kursi teras yang nampak nyaman disebelah sana itu walau barang sebentar.


Tapi tampaknya Adis tak punya niat sama sekali untuk hal itu.


"Sebentar...." kata Adis menghentikan langkah Satrio yang hendak menuju motornya.


"Ya?" tanya Satrio kegirangan dalam hati.


Dia mengira ada hal yang akan membuat Adis bicara lebih banyak padanya.


Tapi ternyata.....


"Aku ambilin kunci motormu di dalam." kata Adis kemudian bergegas masuk ke dalam rumahnya.


"Kirain....." gumam Satrio kecewa.


Satrio memutar posisi motornya sambil menunggu Adis kembali menemuinya.


"Ini." kata Adis sambil mengulurkan kunci motor pada Satrio, disusul satu tas kain kecil berisi toples.


"Ini apa?" tanya Satrio pura- pura terkejut padahal hatinya sudah berbunga- bunga dengan meriah menerima tas berisi toples yang entah ada apa di dalamnya.


"Nugget pisang. Doyan nggak?" tanya Adis ragu.


"Doyanlah. Aku pemakan semuanya." sahut Satrio cepat.


"Aku kasih yang mateng sedikit. Yang di toples bisa dimasukin kulkas dulu, besok tinggal goreng aja kalau mau makan." kata Adis di sambut anggukan Satrio.


"Makasih ya." kata Satrio dengan senyum lebarnya.


"Jangan kelamaan di simpen di kulkasnya. Dua sampai tiga hari aja." kata Adis lagi.


"Ya." jawab Satrio mengerti.


"Kalau males ngasih toping keju atau mayo, kamu bisa pakai susu kalau doyan manis. Nggak pakai pun udah enak." kata Adis lagi.


"Oke." kata Satrio kembali tersenyum.


"Oya, tadi habis berapa servis motornya? Aku mau ganti." tanya Adis sewaktu Satrio hendak membuka mulut mau pamit pulang.


"Udah kamu ganti pakai ini. Udah cukup." jawab Satrio sambil tersenyum senang.


Cewek itu nggak tahu bagaimana rasanya hati Satrio yang seperti akan meledak karena saking bahagianya mendengar suara Adis yang lumayan panjang.


"Ya nggak bisa gitulah. Itu kan sebagai ucapan terimakasih karena tadi kamu nolongin aku. Kalau biaya servis ya lain lagi ceritanya." tukas Adis tegas.


"Udah kuanggap lunas. Udah ya, nggak usah dibahas lagi." tegas Satrio.


"Ya tapi....."


"Kalau kamu masih mau ganti, kasih aku makanan aja. Aku anak rantau, akan sangat senang kalau ada yang memberi sedekah makanan." kata Satrio sambil terkekeh.


Adis terdiam beberapa saat.

__ADS_1


"Ya udah. Makasih kalau gitu." kata Adis pelan.


Satrio hanya mampu kembali mengangguk.


Matanya tengah tertancap di wajah yang nampak terang tertimpa sinar matahari senja yang menyelinap diantara kembang yang tertanam di pot- pot putih yang bergelantungan di samping mereka.


Jilbab instant berwarna lilac membingkai manis wajah Adis.


Tubuh gadis itu terbalut setelan celana panjang dan blouse bermotif tyedye senada dengan kerudungnya.


Seperti peri di senja hari, gumam Satrio dalam hati.


Dia hanya mampu terpaku dalam kekagumannya.


"Mas!" suara keras Adis dari sampingnya mengagetkan Satrio.


"Ya?" tanya Satrio linglung.


Ah, kenapa ini?


"Hapemu bunyi dari tadi." kata Adis sambil menunjuk sumber bunyi di saku celana Satrio.


"Oya....ya...." kata Satrio gugup sambil bergegas merogoh ponselnya.


Dari mamanya ternyata.


"Aku angkat dulu ya?" kata Satrio minta ijin pada Adis yang kemudian mengangguk.


Sopan juga nih cowok.


"Kamu kemana aja sih,Mas? Lama banget ngangkatnya." protes Bu Katarina pada sulungnya itu.


"Maaf Ma, nggak denger." kata Satrio sambil meringis malu.


"Kamu lagi dimana?" tanya mamanya.


"Lagi main, ke tetangga." jawab Satrio sambil melirik Adis yang sedang asik memetik daun- daun kering yang ada pada batang bunga- bunganya.


"Cewek apa cowok?" tanya mamanya dengan nada keponya.


Satrio menggeleng sebal.


Mamanya pasti pengen liat wajah cewek yang dia maksud tadi.


"Mama mau kenalan dong sama ceweknya." kata Bu Katarina to the point.


"Apaan sih Mama nih?" sungut Satrio dengan wajah kesal.


Kalau sampai Adis denger kan malu.


"Ayolah, Mas. Kan tetangga juga..... Biar kalau nanti Mama nengokin kamu, Mama udah ada kenalan anak gadis disitu." bujuk Bu Katarina mengadi- adi.


"Ngapain mau nengokin segala? Aku udah gede, Mamaaaa.....Yang ada aku yang harus pulang nengokin Mama." kata Satrio merajuk yang malah di sambut cemberutan mamanya.


"Kenapa sih nggak boleh kenalan? Kan tetangga doang kan?" tanya Bu Katarina dengan wajah kesal.


Satrio tak menjawab.


Ya mau jawab apa?


"Cepetan Sat! Papa juga kepo ini." tiba- tiba Papanya nongol di layar ponselnya.


Ya ampun, nih orang tua dua 🤦


"Nggak!" seru Satrio, membuat Adis kaget.


"Ada apa?" tanya Adis yang melihat wajah tegang Satrio.


"Eng....enggak apa- apa." jawab Satrio cepat.


"Aku interogasi Puji nih kalau kamu nggak mau nunjukin ceweknya sekarang " ancam Pak Susilo.


Ya Allah....gini amat ya orang tuaku....

__ADS_1


"Pa, please deh jangan kepo." kata Satrio dengan menekan suaranya serendah mungkin.


"Ya udah.Aku tanya Puji aja nanti." kata Pak Susilo lalu mematikan sambungan telpon.


Duh, harus cepet- cepet nelpon Mbak Puji nih, batin Satrio kemudian bergegas mencari nama Mbak Puji di daftar kontaknya.


Begitu ketemu,secepatnya Satrio menekan tombol panggilan dan ternyata nomor Mbak Puji sedang sibuk pemirsa.....😀


Satrio yakin seratus persen pasti sedang terjadi interogasi di saluran telpon Mbak Puji.


"Sial!" umpat Satrio sambil melempar lengannya ke bawah.


"Kenapa?" tanya Adis kaget dengan wajah kalut Satrio.


"Nggak papa. Aku pulang dulu ya. Makasih makanannya." pamit Satrio cepat.


Adis hanya mengangguk bingung dengan kepanikan Satrio yang langsung melarikan motornya menuju rumahnya yang berjarak dua blok dari rumah Adis.


Dengan tergesa dia membuka pintu samping gerbang dan langsung mendapati Mbak Puji yang cekikikan dengan ponsel di telinga kirinya.


Tak sabar, Satrio mencolek bahu Mbak Puji untuk menanyakan siapa yang lagi nelpon Mbak Puji dengan bahasa isyarat yang dimengerti Mbak Puji.


" Mamamu...." jawab Mbak Puji tanpa mengeluarkan suara.


Satrio menepuk dahinya kencang.


Benar- benar ya emaknya itu....


Satrio bergegas mengetik di ponselnya kemudian di sodorkan di depan muka Mbak Puji.


Jangan ngomongin Adis. Plis !!!


Mbak Puji hanya mengacungkan jempolnya setelah membaca tulisan itu, membuat Satrio mengelus dadanya lega.


Mbak Puji bisa dipercaya. Jadi dia kini tenang melenggang ke dalam rumah dan membiarkan Mbak Puji hiha hihi dengan mamanya di sambungan telepon.


Satrio lebih memilih segera mengeluarkan isi tas kain pemberian Adis tadi.


Ada satu toples kecil nugget pisang yang sudah matang dan segera dinikmatinya senikmat- nikmatnya.


Saking nikmatnya dia merem- merem sambil jalan ke arah kulkas - bermaksud untuk menyimpan nugget mentah - yang akhirnya kebablasan sampai dia nabrak dinding.


"Asem." umpatnya pelan sambil mengelus dahinya yang bersenggolan mesra dengan dinding.


"Dapat apa Mas dari Mbak Adis?" tanya Mbak Puji yang sudah nongol di depan pintu.


"Kirain udah bablas pulang." kata Satrio tak menjawab pertanyaan Mbak Puji.


"Bapaknya lembur. Agak telat njemputnya." kata Mbak Puji sambil menengok isi toples yang terbuka di meja makan.


"Di kasih apa sih?" gumam Mbak Puji dengan melihat secara seksama potongan makanan di dalam toples.


"Sok tahu kalau yang ngasih Adis." kata Satrio sambil duduk dan kembali mencomot satu nugget kemudian mengunyahnya dengan riang.


"Tahulah. Yanti tadi udah WA aku." kata Mbak Puji sambil tertawa meledek.


"Kalian berdua mau mata- matain aku sama Adis ya?" tembak Satrio dengan tatapan curiga level dewa.


"Bahasamu yang salah, Mas. Kami ini tim sukses. Bukan mata- mata. Ngapain mata- matain kalian. Nggak ada bonusnya." kata Mbak Puji sambil terkekeh.


Hmmmm, tim sukses dia bilang.


"Mama nanya apa barusan?" tanya Satrio ganti mengintrogasi.


"Nanyain Mbak Adis." jawab Mbak Puji jujur.


"Trus kamu jawab apa?" tanya Satrio penasaran.


"Ya bilang nggak tahu.Ibu kan nanya siapa cewek yang lagi deket sama Mas Satrio. Aku kan nggak tahu. Trus tanya siapa cewek di kompleks yang sering sama Mas Satrio. Aku ya jawab nggak tahu. Kan Mas Satrio nggak ada deket sama cewek sini. Ya kan?" tanya Mbak Puji.


"Betul!" jawab Satrio cepat.


"Tapi Mas Satrio lagi PDKT sama Mbak Adis?" tanya Mbak Puji kepo.

__ADS_1


"Ngarang!" jawab Satrio.


...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...


__ADS_2