
Pak Susilo dan istrinya saling menatap penasaran dengan wajah gembira Satrio yang langsung mengangkat panggilan itu seolah lupa diri sedang dimana dia berada.
"Hallo Reta.....kok tahu nomer Om?" tanya Satrio dengan gembira.
Ketiga orang yang jadi penonton tentu saja keheranan dengan ucapan Satrio yang menyebut dirinya sendiri dengan OM.
Satrio sekarang mainnya sama cabe- cabean?!
Bocah kecil dari mana yang sedang akrab dengan Satrio?
Wira melongok penasaran ke arah ponsel Satrio yang sedang melakukan VC lalu menatap Satrio keheranan.
Pak Susilo dan Bu Katarina semakin penasaran melihat wajah keheranan Wira.
Wira menggeleng menjawab tatapan penuh tanya kedua orang tuanya.
Satrio yang langsung sadar posisi memilih membesarkan volume ponselnya agar semua penghuni meja makan mendengar percakapannya.
"Kamu mau kemana pagi- pagi udah naik mobil?" tanya Satrio kemudian menyuap makanannya.
"Mau ke bandara. Aku mau pulang." jawab Reta sambil tersenyum manis.
Satrio mengernyitkan dahinya.
Pulang? Kok naik pesawat? Bukannya kakaknya Adis tinggal di Jogja juga?
Wira yang penasaran dengan suara bocah kecil yang jadi lawan bicara Satrio kini menempelkan wajahnya ke sandaran kursi Satrio hingga terlihat oleh Reta.
"Itu siapa Om?" tanya Reta sambil menunjuk Wira yang kemudian melambaikan tangannya.
"Ini adiknya Om. Namanya Om Wira. Mau kenalan?" tanya Satrio sambil tertawa.
Reta hanya mengangguk malu.
"Hallo cantik...." sapa Wira sambil dadah dadah.
"Halo Om Wira. Om Wira juga cakep kayak Om Rio." balas Reta riang membuat Wira tergelak.
"Ganti nama lu? Jadi Rio?" gumam Wira pada Satrio yang hanya dibalas lirikan oleh Satrio.
Bu Katarina tentu saja semakin kepo mendengar suara lucu bocah perempuan yang mampu merebut atensi dua anak cakepnya.
"Siapa Sat itu?" tanya Bu Katarina akhirnya.
"Mamanya Om Satrio mau kenalan boleh?" tanya Satrio pada Reta yang kemudian menoleh ke arah kanan seperti bertanya.
"Boleh." kata Reta kemudian.
Satrio kemudian menyerahkan ponselnya pada mamanya menyeberangi mangkuk berisi rendang.
"Halo Oma...." terdengar suara Reta riang dan membuat Satrio dan Wira saling menatap lalu kompak menunduk menahan tawa.
Oma.....mamanya di panggil Oma,wakakakak.....
Mereka berdua menunggu reaksi mamanya atas sebutan itu.
Bu Katarina sedetik kaget dengan sebutan Oma itu. Tapi kemudian tersenyum.
"Hallo anak cantik....Kamu namanya siapa?" tanya Bu Katarina dengan riang.
"Namaku Reta." jawab Reta.
Bu Katarina melihat anak itu menoleh ke arah kanan. Ke arah seseorang yang sedang menyetir mobil.
Ada suara perempuan tapi tak jelas sedang bicara apa pada Reta yang kemudian mengangguk- angguk.
"Aku boleh panggil Oma atau harus panggil apa sama mamanya Om Rio?" tanya Reta kemudian.
"Om Rio?" tanya Bu Katarina bingung menatap Satrio yang kemudian menunjuk dadanya.
"Panggil Oma juga boleh. Mau kenalan sama Opa nggak? Tuh." kata Bu Katarina kemudian membalikkan kamera sebentar untuk menunjukkan papanya Satrio yang sedang minum.
Pak Susilo melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Hallo Opa." sapa Reta kemudian.
"Hallo sayang." balas Pak Susilo setelah menelan minumnya.
"Opa mau lihat dong yang disebelah Reta siapa." pinta Pak Susilo to the point.
Reta langsung memiringkan ponselnya hingga terlihat wajah Adis yang tersenyum malu dan kikuk pada Pak Susilo.
"Se....selamat pagi Om." terdengar suara Adis yang membuat Satrio langsung merebut ponselnya.
Tentu saja mamanya terpekik karena kaget dengan aksi itu.
"Pagi..." balas Satrio sambil tersenyum aneh pada Adis yang langsung menyembunyikan senyumnya.
"Kok gitu wajahnya?" tanya Satrio sambil berdiri dari kursi makan dan ngeloyor pergi meninggalkan sarapan yang masih seperempat piring.
"Kelakuan tikus kecil. Dia mau nyembunyiin ceweknya." gumam Pak Susilo sambil menunjukkan. smirk nya.
"Papa udah ngeliat wajah ceweknya tadi?" tanya Bu Katarina dengan intensitas kekepoan yang di ambang batas maksimal.
"Dikit." jawab Pak Susilo penuh sesal.
"Cantik?" tanya Wira ikutan kepo.
"Ya pastilah kalau itu! Mana ada anakku ngelirirk cewek nggak cantik? Bapaknya aja istrinya cantik." sahut Pak Susilo sambil mengerling pada istrinya yang langsung mencibir.
"Daaaaah.....udaaaaah.....ada anakmu di sini, Pa. Ngegombalnya kapan- kapan lagi aja." Wira menginterupsi suasana berbunga- bunga yang hendak diciptakan sejoli tua di depannya.
Wajahnya cemberut karena iri pada kealaian orang tuanya.
"Reta itu ponakannya ceweknya Satrio kah?" tanya Bu Katarina kemudian.
"Kemungkinan besar iya...." jawab Pak Susilo.
"Anaknya!" sahut Wira berbarengan dengan Papanya.
"Yang bener?!" seru Pak Susilo dan Bu Katarina berbarengan.
Wajah keduanya tegang menatap Wira yang kemudian cengengesan.
"NGGAK!" seru Satrio sambil kembali mendekat ke meja makan.
"Enak aja pacaran sama istri orang! Jangan fitnah lu, Dodol!" kata Satrio sambil menoyor kepala Wira.
"Lhah kenapa gue yang kena? Gue nggak ngomong apa- apa juga. Babe lu tu yang ngomong." sanggah Wira sambil nyengir.
"Syukurlah....." gumam Bu Katarina mendengar jawaban Satrio.
"Anak mana?" tanya Pak Susilo sambil menatap Satrio yang kembali menyuap nasi yang tadi telah ditelantarkannya.
"Apa?" tanya Satrio pura- pura nggak mengerti maksud pertanyaan Papanya.
"Cewekmu tadi anak mana?" tanya Pak Susilo lebih jelas.
"Bukan cewekku." kata Satrio sambil kembali menyuap.
"Aku tanya Puji nih kalau nggak ngaku." ancam Pak Susilo kemudian.
"Tanya aja. Mau nanya gimana sama Mbak Puji? Aku jawab sekarang aja kalau aku. bisa." kata Satrio bernada menantang.
"Ooooo.....jangan- jangan itu tadi si Emak kucing, Pa.... gebetannya Mas. Ya Mas?" tanya Bu Katarina dengan mata berbinar- binar.
"Uhuk!" Satrio bergegas menyambar gelas berisi air putih di depannya dan meminumnya tanpa berani mengangkat pandangannya.
"Iya itu,Ma." kata Wira begitu tahu reaksi Satrio barusan.
Mbak Puji ni ya.....Udah lapor apa aja sama Nyonya kepo ini?
"Udah dilaporin apa aja sama Mbak Puji?" tanya Satrio kemudian.
"Nggak ada dia lapor- lapor. Dia cuma cerita kalau kamu dan cewek tetangga kamu punya panggilan sayang. Bapak kucing dan Emak kucing." jawab Bu Katarina yang membuat Wira dan Pak Susilo menatap Satrio dengan wajah yang jelas menahan ledakan tawa.
"Pa an sih?!" sungut Satrio malu.
__ADS_1
"Orang lain panggilan kesayangannya Bebeb, honey, sayang, cinta, my love, sweety, ini Emak sama Bapak , kucing pula." kata Wira kemudian tergelak namun langsung memekik karena kakinya sudah diinjak Satrio dengan sekuat tenaga.
"Reta itu siapanya Emak kucing? Ponakan ya?" tanya Bu Katarina masih belum keluar dari tema.
Satrio menatap mamanya dengan tatapan protes.
Ngapain juga mama ikut manggil Adis dengan Emak kucing?
"Aku juga belum begitu jelas Reta itu siapanya Adis...."
"Oooo....namanya Adis...." sahut Wira cepat dan membuat Satrio menepuk kepalanya sendiri karena keceplosan.
"Adis siapa nama panjangnya, Mas?" tanya Bu Katarina dengan antusias.
Ya ampun my family.....
"Adisty." jawab Satrio pelan.
Ya, lebih baik dia segera menjawab daripada dia akan terus diteror mamanya dengan pertanyaan yang sama nantinya.
Mamanya itu tak pernah berhenti bertanya satu hal yang sama bila belum mendapatkan jawaban.
"Kalau lolos test and propert test, langsung lamar aja, Sat. Inget umurmu. Kalau bisa sebelum kamu pegang perusahaan, kamu udah punya istri biar fokus kerja, udah nggak baper- baper lagi ngurusin perasaan." kata Pak Susilo tenang namu tegas.
"Dih, kayak mau jadi pejabat aja pakai test." sahut Wira.
"Emangnya kamu mau asal comot calon istri?!" tanya Pak Susilo.
"Kita harus punya standard untuk partner hidup kita. Jangan cuma modal cinta doang." kata Pak Susilo kemudian.
"Dia udah ada cowok." kata Satrio seperti mengeluh.
"Berarti bener kamu naksir Adis?" tanya Bu Katarina kemudian.
Satrio hanya mengedikkan bahunya.
"Udah ada cowok atau udah ada suami?" tanya Wira dengan nada meledek.
"Nggak! Nggak boleh ya Mas ngerusak pagar ayu. Mama nggak ijinin kamu masuk ke rumah tangga orang lain!" seru Bu Katarina dengan wajah tegang.
Satrio berdecak sambil menowel kepala Wira dengan jitakan memakai kekuatan tenaga dalam hingga membuat adiknya itu mengaduh sambil mengelus- elus kepalanya.
"Mulut luuuuuu." sungut Satrio jengkel pada Wira.
"Kalau janda boleh nggak,Ma?" tanya Wira sambil meringis.
"Duh ni anak!" seru Bu Katarina bingung mau menjawab bagaimana.
"Asal penyebabnya dia jadi janda jelas, ya nggak apa- apa. Papa bisa pertimbangkan." kata Pak Susilo setelah terdiam sesaat sambil berpikir cepat.
Terus terang saja dia kaget juga dengan kemungkinan anak- anaknya akan menikahi seorang janda.
Tapi tak bijaksana rasanya kalau dia melarang anaknya tanpa alasan.
Bagaimana pun hidup mereka adalah milik mereka.
...🧚🧚🧚 b e r s a m b u n g 🧚🧚🧚...
Selamat bergabung untuk buibu dan mbakembak yang baru nemu judul ini..... Semoga betah dengan alur lambat novel ini.😅
Info aja nih ya.....author satu ini sangat pelit sekali dalam hal update 😀
Dari awal menulis udah konsisten pelitnya up.
Konsisten cuma up sehari sekali satu episode dari hari Senin sampai Sabtu.
Jadi please ya, jangan minta double up apalagi crazy up sama author kacangan ini, mubadzir soalnya 😂
Kalaupun nanti kok hari Minggu aku up, itu hal yang sangat langka terjadi dan perlu adanya syukuran besar- besaran 😂😂😂😂
Sekian sekilas infonya.
Mohon maklum atas keterbatasan imajinasi dan daya khayal ini.
__ADS_1
Jangan lupa kembang, kupi, jempol, dan syukur- syukur hibah vote nganggurnya ðŸ¤ðŸ˜Š
Happy reading cemuanyaaaa....💖💕